Usaha Membunuh Imajinasi, Sebuah Bahasan Untuk Cerpen Ponakan, Karya Felix Nesi

0
161
Sumber ilustrasi: http://www.pelangisastramalang.org/

*) Gusty Fahik

Catatan Awal

Di antara sekian cerpen yang dikumpulkan Felix Nesi dalam buku kumpulan cerpen Usaha Membunuh Sepi (2016), cerpen Ponakan menjadi salah satu yang saya anggap cukup mencuri perhatian saya karena beberapa hal yang akan saya utarakan dalam tulisan ini.

Secara singkat, Ponakan mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Didi, yang sedang berlibur di kampung halamannya. Untuk mengisi hari-hari liburnya, Didi berusaha menulis beberapa karya sastra. Namun, usaha Didi hampir selalu menemukan jalan buntu lantaran konsentrasinya terus-menerus buyar oleh kegaduhan yang ditimbulkan oleh keponakannya, seorang bocah laki-laki berusia menjelang empat tahun. Didi berpikir, keponakannya yang hiperaktif itu barangkali perlu diberi perhatian khusus agar dapat mengembangkan potensi kecerdasannya.

Suatu sore Didi membawa sang bocah ke padang sabana untuk memberinya ruang bermain yang lebih luas. Namun, kesabaran Didi ternyata terbatas meladeni imajinasi dan vitalitas keponakannya yang nyaris tanpa batas. Bocah yang sulit diajak pulang ke rumah itu akhirnya digantung mati oleh pamannya sendiri pada dahan pohon cemara di hamparan sabana itu. Ironisnya, sang bocah diikat dan digantung dengan tali yang ia buat sendiri. Imajinasi tentang tali yang hendak dipakai membantu polisi mengikat pencuri itu kini menjerat leher si pemilik imajinasi. Ia mati tercekik tali. Didi lega. Kini ia dapat mewujudkan imajinasi-imajinasinya dalam bentuk karya sastra tanpa diganggu si kecil yang telah mati ia gantung.

Benturan Dua Dunia

Konflik dalam Ponakan adalah konflik antara dua dunia; dunia orang dewasa dengan dunia anak-anak. Jika dunia orang dewasa dihubungkan dengan segala sesuatu yang serba teratur, terencana dan terukur, maka dunia anak-anak adalah sebuah dunia yang jauh lebih bebas, penuh spontanitas dan tidak dibatasi oleh ukuran-ukuran tertentu. Karena itu, konflik tercipta ketika kedua dunia ini berbenturan atau dibenturkan.

Dalam Ponakan, benturan dua dunia itu kita temukan ketika tingkah pola sang bocah dianggap mengganggu ketenangan dalam rumah. Padahal, ketenangan adalah salah satu pertanda adanya keteraturan dan berjalannya stabilitas, sesuatu yang sangat khas milik dunia orang dewasa. Dalam keteraturan dan stabilitas ini, unsur spontanitas dan kebebasan yang tidak mengenal batas waktu hampir pasti tidak diberi ruang. Itu sebabnya, orang tua si bocah berusaha menghilangkan unsur pengganggu itu dengan rentetan kalimat perintah bernada larangan yang diawali kata jangan.

Anak-anak tidak melakukan sesuatu menurut pola-pola yang terukur, yang memperhitungkan secara rinci risiko-risiko yang mungkin terjadi, sebab mereka lebih menurut unsur spontanitas-eksploratif. Tindakan mereka bukanlah sesuatu  yang terencana dan terukur sebagaimana tindakan orang dewasa. Anak-anak berusia menjelang empat tahun seperti sang bocah dalam cerpen Ponaan ini belum mampu memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan mengganggu kenyamanan orang lain, berisiko merusak perabotan dalam rumah atau bahkan mencelakakan diri mereka sendiri.

Orang tua sebagai representasi dunia orang dewasa memberi batas kepada anak-anak, serentak memaksakan standar yang berlaku dalam dunia mereka untuk diberlakukan pula dalam dunia anak-anak. Berlakunya standar orang dewasa ini bukan hanya diwujudkan dalam bentuk larangan melainkan disertai penilaian bernada penghakiman terhadap si bocah, bodoh. Anak-anak dan dunianya tentu saja tidak mengenal standar-standar penilaian macam bodoh, pintar, hebat, dan sebagainya.

Pertanyaan yang kemudian muncul ialah, apakah dominasi dunia orang dewasa atas dunia anak-anak ini hanya terbatas pada pemaksaan standar-standar perilaku tertentu atau bisa lebih jauh hingga ke lapisan kesadaran yang lain, misalnya konstruksi imajinasi anak-anak? Kita bisa menemukan jawaban atas persoalan ini dengan kembali mencari dalam cerpen Ponakan.

Dunia Orang Dewasa dan Konstruksi Imajinasi Anak

Felix secara eksplisit menyebutkan tokoh-tokoh kartun yang ditiru si ponakan ketika bermain antara lain Jarjit dan Boboboy. Lebih jauh, ketika diajak bermain ke sabana, si ponakan menghasilkan beberapa barang mainan antara lain robot, mobil, tali, pistol dan penjara. Kita akan melihat dominasi dunia orang dewasa dengan mengakrabi alat bermain si bocah.

Roland Barthes dalam tulisannya tentang permainan anak-anak Prancis (bdk. Mitologi, 2013, hal. 65) mengungkapkan bahwa dunia anak-anak adalah miniatur dunia orang dewasa. Alat-alat bermain anak-anak adalah duplikasi dalam bentuk mini alat-alat kerja yang yang familiar dengan orang dewasa. Hal ini menyiratkan suatu bentuk antisipasi bahwa kelak anak-anak akan mengambil peran yang saat ini dimainkan oleh orang dewasa. Lewat alat-alat bermain ini, perlahan-lahan dunia orang dewasa ditanamkan ke dalam kepala anak-anak, dan bayangan anak-anak tentang mau jadi “apa” mereka nanti secara perlahan pula mulai dibentuk.

Sang bocah membuat penjara, tali dan pistol lalu menghubungkannya dengan sosok lain dalam imajinasinya, yakni pencuri. Ia membayangkan dirinya sebagai seseorang yang ingin menangkap pencuri, barangkali dengan menodongkan pistol agar si pencuri tidak melarikan diri. Si pencuri yang telah menyerah itu akan diikatnya dengan tali kemudian dijebloskannya ke dalam penjara. Dari alur imajinasi ini dapat ditarik sebuah anggapan bahwa sang bocah memosisikan dirinya sebagai seorang yang berperan dalam memberantas kejahatan, menjaga aturan dan barangkali turut berperan menegakkan keadilan dalam masyarakatnya.

Pada titik ini sudah dapat dilihat sebuah kejelasan juga bahwa sang bocah memberi wujud tiruan, semacam simulasi tentang mau jadi apa ia di masa depan, atau ia justru sedang mereproduksi kenyataan yang ia saksikan lewat pengalamannya. Barangkali ia sudah mendengar atau menyaksikan kisah tentang pencuri yang ditangkap oleh orang-orang berpistol, diikat dengan tali, lalu dijebloskan ke penjara. Hal ini dapat dipahami ketika kita sejenak melihat kembali sosok-sosok dalam film kartun yang ia tiru yakni Jarjit dan khususnya Boboboy.

Imajinasi sang bocah yang dijadikan nyata dalam rupa aneka mainan itu, pada akhirnya tetap tidak luput dari penilaian sang paman. Bagi sang paman, apa yang dihasilkan itu adalah sesuatu yang tidak lebih dari sekadar mainan, sesuatu yang jauh di bawah standar penilaian orang dewasa. Sang paman bahkan memberi penilaian pada penjara yang dibuat sang keponakan sebagai sesuatu yang menyedihkan. Ini bukan sesuatu yang mengherankan sebab standar penilaian yang dipakai sang paman adalah standar dunia orang dewasa.

Apa yang dihasilkan sang bocah dianggap jauh dari ideal. Bukan proses perwujudan imajinasi sang anak yang menjadi perhatian, melainkan perwujudan imajinasi itulah yang diberi penilaian oleh sang paman.  Bukan proses penciptaan melainkan hasil yang diciptakan itulah yang menjadi fokus perhatian sang paman. Mengapa saya mempersoalkan proses sebagai yang harusnya menjadi fokus sang paman? Karena penjara yang oleh sang paman disebut “menyedihkan” itu dibuat sendiri oleh sang bocah, bukan mainan jadi yang dibeli di toko. Artinya, dalam mainan penjara itu terwujudlah daya imajinasi dan daya kreasi sang bocah. Ada upaya tersendiri dari sang bocah untuk membuat sesuatu yang imajinatif menjadi sesuatu yang nyata dalam wujud tertentu. Daya imajinasi dan proses kreatif inilah yang luput dari perhatian dan penialain sang paman.

Catatan Akhir

Bagian akhir dari cerpen Ponakan menyuguhkan sebuah tragedi yang cukup ironis. Sang bocah mati terlilit tali yang ia ciptakan sendiri. Pada bagian ini, menurut saya Felix sebagai penulis mengingkari sekaligus memberi kejelasan pada apa yang dimaksud sang paman sebagai “perhatian khusus” yang mesti ia berikan kepada sang keponakan. Sang paman mengingkari semua teori psikologi mengenai anak-anak hiperaktif yang bisa saja memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, karena itu harus diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi dan mewujudkannya.

Pengingkaran itu ditunjukkan sang paman dengan memberi batasan pada keleluasaan yang dibutuhkan keponakannya. Pembatasan itu dilakukan dengan menggunakan objek yang sama, tali. Dalam imajinasi sang keponakan, tali yang ia buat hendak digunakan untuk mengkiat pencuri. Sementara bagi sang paman, tali yang sama adalah alat yang paling pas untuk membatasi keleluasaan sang keponakan.

Sang paman menggunakan tali untuk mengakhiri hidup sang keponakan, sekaligus mengawali keleluasaan dirinya untuk mengakrabi imajinasinya tanpa terganggu suara gaduh sang bocah. Ada perebutan ruang antara sang paman dan sang keponakan, dan pada akhirnya perebuatan itu dimenangkan oleh sang paman. Ia memiliki kekuasaan (power) untuk bertindak lebih dibanding sang keponakan yang baru berusia menjelang empat tahun. Kekuasaan itulah yang ia pakai bukan saja untuk mendominasi melainkan untuk mengakhiri hidup sang keponakan.

Apa yang dilakukan sang paman pada akhir cerita adalah tindakan pembunuhan fisik terhadapa sang keponakan. Sebetulnya, ada tindakan/usaha pembunuhan lain yang sudah dilakukan oleh orang dewasa yang lain dalam bagian tengah cerita. Tindakan melarang disertai ungkapan jangan, atau bodoh yang dilontarkan orang tua sang bocah sendiri sudah menjadi suatu usaha pembunuhan terhadap keleluasaan eksplorasi karakter sang bocah.

Tindakan yang diambil sang paman adalah puncak dari tindakan-tindakan “pembunuhan” sebelumnya. Ironisnya, sang paman justru seorang yang memiliki pengetahuan tentang psikologi anak. Dengan demikian dari cerpen ini kita memperoleh antisipasi bahwa, kadang orang yang memiliki pengetahuan justru menjadi orang yang paling berbahaya. Bukankah sang paman dalam cerpen ini adalah seorang guru?

Kupang, Mei 2017


Gusty Fahik, seorang penikmat seni dan sastra. Tinggal di Kupang.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY