Air Mata Mata Air, Cerpen Eto Kwuta

0
60

*) Eto Kwuta

“Mengapa kamu menangis, Mariaku?”
“Saya menangis karena tulangmu patah, kekasih. Saya takut kehilanganmu.”
“Benar?”
“Ya, sayang.” Kata Mariaku.

Mariaku mengatakan dengan penuh haru pada akhir Mei, tanggal 29, tahun 2016 ketika kabar buruk kukirim dari jauh. Aku jauh di sebelah barat pulau Flores, tepatnya di kota yang dicintai para turis-turis luar negeri dan dalam negeri.

Tanggal, bulan dan tahun itu yang harus terlupakan, tetapi tidak jadi terlupakan karena aku menjadi seperti Lionel Mesi, sang Mesias di tengah lapangan hijau. Aku cedera tulang. Tulang kering pada kaki kananku patah gara-gara bola. Ternyata, aku lebih jago dan hebat dari Mesi. Aku jago di akhir bulan Mei, sementara bulan yang berharga itu masih bulan Maria. Bulan yang menarik aku mengenang ibuku dan Mariaku.

***

Agustus Tahun 2015, aku tiba di kota kaya, kota Labuan Bajo. Di kota ini, aku berada jauh di sebelah barat Manggarai Flores, kota yang tidak pernah sepi. Turis-turis dari Eropa dan Asia selalu datang berbondong-bondong untuk satu hal saja. Dan hal itu adalah keindahan. Mereka memikul tas, anak, istri, pacar, kakek, nenek, dan semua yang bisa dibawa bersama mereka. Uang apalagi.

Di kota kaya ini, semua menjadi mungkin. Termasuk aku seorang turis dalam negeri, turis lokal yang mengadu nasib. Aku datang dari timur, kota Larantuka, kota tua yang tidak pernah mati. Aku lahir di sana dan sekarang mengembara ke barat untuk memetik mimpi, cita-cita, dan cinta. Selain itu, aku juga memuji keindahan yang terpancar dari jantung kota Labuan Bajo.

Di sepanjang pesisir kota, pulau-pulau indah dan menakjubkan berdiri kokoh seperti menara Eifel. Mungkin begitu, tapi kuakui kalau kota ini hidup, tetapi orang-orangnya nyaris mati. Aku salah satunya yang hampir mati di kota ini. Aku mati oleh karena dosa masa muda, saat bara api cinta di dada berubah jadi nafsu yang menghanguskan. Aku jatuh lagi.

***
“Mama, aku hanya mau menitipkan pesan. Kakiku kananku sudah patah. Aku main bola.” Aku menelepon ibu sepulang dari Rumah Sakit Siloam. Ibu sedang mengetam padi. Tiba-tiba, ia berteriak histeris dalam handphone, lalu menangis. Saat ayahku mendengar teriakan ibu, ia berlari menghampiri, juga ikut menangis. Keduanya menangis. Dalam telepon, kudengar batuk-batuk mereka yang layu, suara yang semakin parau dan perlahan mengecil, lalu berhenti.

“Bapa, mama, sudah habiskah air mata?” tanyaku pada mereka. Kemudian, telepon kumatikan. Sambil melihat kakiku yang dibalut semen putih, aku merindukan ibuku berada di samping. Biar sakitku pergi dan airmata tak ada lagi.

Tidak mengapa. Masih ada Mariaku yang ikut menangis oleh karena aku tersekap dalam rasa sakit. Air mata Mariaku ini membuat aku semakin kuat dan perkasa. Aku bukan anak kecil yang mesti didongengkan menjelang tidur. Aku sudah dewasa dan menentukan sikap serta pilihan sendiri. Rasa sakit yang ada saat ini adalah doa.

“Tuhan, biarlah sakitku ini berlalu dan aku akan tetap merapal harap, meneguk kenangan ini.” Begitulah dalam sakitku selalu dilumuri air mata dan bukan air dan darah seperti lambung Yesus yang tertikam tombak. Aku tidak peduli siapa pun orang mengatakan kalau aku macam perempuan. Aku tetap laki-laki yang lemah seperti ketika saat Mariaku menitikkan air mata, aku tak kunjung bertahan dengan menceramahinya seperti seorang guru atau penasihat.

***
Menjelang malam saat aku sudah di sebuah biara karena di tempat itulah aku tidur, bangun, sarapan, berdoa, bekerja, berjalan, dan semuanya ada di sini, di sebuah biara dengan nama sang misionaris ulung dalam Societas Verbi Divini. Mereka menamainya Biara St. Yosef Freinadametz. Biara ini letaknya di tengah keramaian kota Labuan Bajo, biara yang sebenarnya sunyi, tetapi semua menjadi ribut oleh karena bunyi-bunyi yang datang dari setiap sudut.

Bunyi kendaraan roda empat dan dua mengeras sepanjang malam itu. Bunyi pesawat yang meringis di atas atap rumah-rumah, sekolah, dan kantor-kantor. Dan aku duduk di luar kamar, persis di sebuah kursi roda milik para polisi di kota ini.

Ka’e, jangan menangis. Ada kami di sini,” Yoflan si penurut, setia, dan rajin bangun pagi, seorang anak kesayanganku di asrama putra; ia membujuk aku supaya tidak bersedih.

“Hehehe, aku mau membasahai malam ini dengan air mataku. Saat semuanya berubah, lihatlah kakiku. Suatu waktu pasti aku berjalan tidak seperti kalian. Kakiku semakin kecil, Yoflan.” Aku merajuk seperti anak kecil.

“He, neka tombo like that![1]” Nardo menyambar.
“Hahahahaha…..,” aku tertawa karena Nardo menampar aku dengan dua bahasa sekaligus. Itu bahasa Manggarai dan bahasa Inggris. Sengit memang. Ia meniru gayaku bebicara ketika aku memarahi mereka saat mereka malas belajar. Lebih lucu lagi, ketika Krus Bero si Seminaris itu datang dan mengatakan bahwa ada seorang siswi menyukaiku, tetapi ia malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya. Aku hanya menertawakan rasa sakitku yang perih dan berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.

Malam terus berlalu dan mereka mengangkat aku dari kursi roda menuju kamar tidur. Kamar yang cukup besar untuk menampung sepuluh orang, bahkan lebih dari itu. Aku terbaring di tengah-tengah anak-anak asrama. Mereka selalu ada di sampingku dan setia menemaniku dalam untung dan malang. Teman guru, Pak Fian namanya. Ia mengajar di SMP St. Arnoldus datang membawa rokok.

“Frater, bagaimana kabar dari Maria?”
“Dia menangis, guru!”
“Itu karena dia sayang kamu, frater,” katanya demikian.
“Ya, guru. Aku melihat Tuhan dalam dirinya dan aku tahu dia ikut merasakan sakit yang kurasa.” Kataku dengan lugu. Kami terus mengobrol dan banyak bercerita sambil mengisap rokok. Guru Fian bercerita soal pacarnya di sebuah kampung yang tidak jauh dari kota Labuan Bajo. Ia seorang bidan desa. Tapi, sayangnya si bidan desa adalah seorang Kristen Protestan. Mereka beda agama.

“He, guru Fian Katolik, lalu dia Protestan. Apa salahnya, guru?”
“Salahnya tidak ada.”
“Lalu?”
“Aku takut cinta kami berujung pisah. Rumit karena benturan agama, frater,” katanya seperti menyesali keadaanya. Kemudain, guru Fian menangis sambil merokok. Aku terkesima saat air mata seorang laki-laki sejati gugur dan jatuh meleleh di pipi. Ia terus mengepu. Dalam benakku, kulihat pribadinya yang tangguh tetapi hatinya tidak sekokoh wadas di tepi pantai.

Dan kami terus merayakan kegelisahan kami sambil merokok dan terus bercerita. Ia masih menangis dan dalam dirinya kulihat seperti Mariaku yang sedang merasakan sakit dan derita yang sedang kualami.

“Guru, air matamu itu seperti air mata Mariaku.”
“Hahaha, masa Frater. Selalu saja Mariamu.”
“Ya, karena kalau kamu berhenti menangis, kamu masih tetap ganteng dan cantik di dunia ini, bahkan di ranjang surga. Nanti, jika kita lahir sekali lagi,” kataku dengan pasti. Guru Fian menggeleng-geleng kepala sepertinya malu tapi tak kutemukan rasa malu itu. Rasa malunya sudah pergi dan air matanya sudah kering. Kami pun merayakan mata air dengan inu kopi cama-cama agu Mariaku sambil lonto leok[2].

“Ah, guru. Air mata kalau jatuh itu tandanya apa?” Guru Fian mengajukan tanya yang jarang ditanyakan orang. Sangat langkah.
“Itu tandanya, Mariaku selalu manis pada cangkir rindu di ranjang surga. Itulah mata air surgawi. Jadi, sehabis menangis, ingat pesanku ini, ya?”
“Ya, saya ingat sampai lahir sekali lagi!” katanya.

Kemudian, malam semakin dingin. Si guru pulang ke rumahnya. Kemudian, sambil berbaring, aku merenung sendirian. Sendiri. Dari awal mula aku dibentuk dalam rahimu ibuku, aku memulainya dengan menangis. Hingga detik yang ke sekian ini, air mataku, air mata Mariaku, ibuku, ayahku, dan Fianku adalah mata air karena menangis.

***
Ya, kami terus menangis ketika jauh. Saat dekat sekalipun, kami tetap menangis. Aku dan Mariaku, ibu dan ayahku, guru Fian dan Marianya, mereka dan yang lain, siapa yang kurang beruntung dan beruntung, selalu saja punya air mata.

“Itulah air mata kata-kata, bukan air kata-kata.” Kataku demikian hingga pagi menjemput aku. Aku sedang menenun sakit sampai semuanya menjadi sebuah tenunan tentang Mariaku yang masih saja menangis hingga detik ini. Mungkin juga, Mariaku tidak tahu menangis lagi karena mata airnya sudah banyak dan tidak berhenti mengering.

Lamahora-Lembata, 18 Mei 2017
Teruntuk yang tak pernah mati, Maria P. Rupa-wan.

 


Eto Kwuta, penyuka seni. Tinggal di Lamahora, Lembata.

[1] He, jangan bicara seperti itu!

[2] Minum kopi besama-sama dengan Mariaku sambil duduk bicara bersama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here