PARASU, Cerpen Eka Pradhaning

0
65

*) Eka Pradhaning

Parasu. Sebuah senjata yang tajamnya tujuh kali lipat pisau penyukur. Wujudnya kapak besar dengan gagang tangkai setinggi orang dewasa. Pipih kapaknya legam menghitam namun berpamor darah dan kematian. Ya, senjata ini yang selalu setia menemaniku melintasi ladang persada hingga berabad-abad waktu.

Parasu, nama senjata ini begitu lekat menyatu dengan tubuh dan jiwaku. Kemanapun aku berada selalu meletakat dalam genggaman tanganku. Entah telah berapa ribu kali senjata ini kuputar kuayun, dengan suara desing mendesing lalu menyusul cumplung-cumplung*1 kepala berjatuhan lepas terpenggal dari lehernya. Sehabis parasu kuayunkan maka merah mengental dan anyir darah melumuri mata kapaknya yang legam membaja.

Orang menyebutku Rama Parasu. Ya, nama yang indah bagiku dan berkenan di hatiku. Meski dari mereka, orang-orang yang ciut nyalinya ketika berpapasan denganku nama ini ditahbiskan. Kedua orangtuaku tak pernah tahu namaku yang baru ini. Nama ini mulai kusenangi dan telah lebur berbaur antara jasad dan sukmaku menyatu dengan kapak mautku. Parasu.

Apalah reaksi kedua orangtua dan saudara-saudaraku ketika mendengar aku telah berganti nama Rama Parasu. Tersenyum banggakah, atau kaget tersentak lantas tersirat rona kengerian di setiap wajah mereka. Rama Parasu artinya manusia yang piawai menganyunkan parasu atau kapak. Setiap ayunan berarti darah.

“Namamu adalah Jamadagni, anakku,” kata ibuku lembut merdu sambil mengelus-elus rambutku yang lebat ikal saat kurebah dalam pangkuannya.
“Apa arti namaku ini Bu?” tanyaku.
“Yama dan Agni. Yama artinya menyiksa dan Agni adalah api.”
“Maksudnya?”
“Agar kamu bagaikan Bathara Yama yang berhati tegas menghukum manusia yang berbuat keliru. Tak pernah memihak meskipun itu saudaramu sendiri. Juga seperti Bathara Agni yang tangguh membasmi musuh dengan semangat apinya,” papar ibuku dengan tetap membelaiku tiada henti.

Jamadagni, itulah namaku sewaktu masih kurasakan hangatnya dada ibu ketika mendekapku dengan erat dan kasih. Menenteramkan setiap tidurku dengan dongengan dan kidungnya yang mengalun menjadi selimut jiwa saat dinginnya malam mencengkeramku. Tangannya yang lembut gemulai adalah tangan yang setia membimbingku dalam langkah untuk menggapai impian mudaku menjadi seorang jaksanegara yang adil. Atas ketelatenan dan kesabarannya sampai akhirnya aku berhasil menyandang predikat Sang Jaksanegara. Akulah anak bungsu dari Begawan Wisa Geni dan Dewi Renuka yang selalu dibanggakan.

Hingga suatu saat ketika langit barat semburat merah warna tembaga, bulat mentari kian beradu bersama cahayanya, dalam senja candikala.*2

“Anakku, sebagai jaksanegara sanggupkah kini kaumelakukan dharmamu?” tanya ayahku.
“Sesuai dengan namaku Jamadagni, aku siap berlaku adil pada siapapun. Aku akan tegas menghukum yang salah walau darah dagingku sekalipun. Ini sumpahku!” jawabku lantang tanpa beban.
“Bagus. Apa hukuman bagi seorang istri yang telah berlaku selingkuh?”
“Dia harus dibinasakan. Sebab jagad ini akan semakin kotor oleh tetesan keringat dan dengus napasnya!”

“Anakku yang kubanggakan, untuk itu hukumlah Ibumu. Ialah si selingkuh itu, lekas singkirkan ia dari muka bumi ini!” suara ayahku keras menghentak bagai seribu mimis kalantaka.*3
“Ayok, Jamadagni! Laksanakan sumpahmu!” bentaknya sekali lagi.

Senja tamaram dan ratap tangis saudara-saudaraku adalah saksi tragedi atas hatiku yang hancur. Kata-kata ayahku pedih terasa bagaikan seribu cambuk api melecut-lecut dalam tubuhku agar langkahku kian mendekat peraduan ibuku.
“Ayok, Jamadagni, laksanakan sumpahmu!”

Oh, jagad Dewabrata. Sepahit inikah sumpah yang mesti kurasakan atas nama keadilan dan keteguhan. Mana mesti kupilih, lembutnya kasih sayang yang senantiasa hembuskan napas cinta ini kumerdekakan. Atau laku adil yang tak memihak harus kutegakkan.

“Ayok, Jamadagni, lekas singkirkan wanita kotor itu!”
“Kamu adalah jaksanegara!”
“Jangan telan sumpahmu!”
“Itu bukan Dewi Renuka, Ibumu!”
“Tapi pendosa!”
“Pendosa!”

Kata-kata itu semuanya menjelma beribu-ribu mata anak panah, menghujam menikam segala mata hati dan nuraniku. Semuanya menjadi hitam. Gelap. Tertumpas segala cahaya, antara mimpi dan kenyataan tak kutemukan lagi dimana batasnya ketika parasu yang tergantung tak jauh dariku tiba-tiba kuambil dan kuayunkan.

Bresss…! Terbelahlah kepala ibuku.
“Ha ha ha…. Bagus anakku. Engkaulah Jaksanegara sejati,” sanjung ayahku.
Surem-surem diwangkara kingkin
Lir manguswa kang layan oo….
Dennya ilang ingkang memanise
Wahdananira landu
Kumel kucem rahnya maratani oo… *4

Kidung hati yang prahara berdendang, mengiang tiada henti di telingaku. Tak kudengar suara-suara selain tlutur*5 kenestapaan. Pandang mataku pun hanyalah kelam gulita serta merahnya darah. Beningnya embun pagi serta putihnya lembut kabut hilang tersaput merah—hitam kutorehkan.

Ingin segera kutinggalkan nuansa kelam ini untuk pergi hingga ke balik cakrawala. Persetan dengan yang bernama adil yang meluluh lantakkan bunga-bunga cinta. Tai anjing atas segala sanjung puja ayah atas kegelapan tanganku remukkan paras ayu Renuka ibuku.

Duh Dewata Agung, keadilan yang mesti kutegakkan ternyata tak hanya sebatas sampai pada seruan kata-kata. Harus kupertaruhkan segala keindahan, cinta, dan airmata.

Hendak segera kulipat, kututup rapat-rapat lembar nestapa ini. Kuayun langkah kaki dalam kegelapan bersama parasu yang telah kulumuri darah ibu. Hampa kususuri ceruk jeram hingga pada leku-lekuk misteri dunia. Lumatnya hati setara sirnanya puspa cinta, kini berganti tumbuh tunas-tunas dendam yang kian nyala. Ya, dendam ini kian terpuruk di ladang sukma, pada ulah ibuku diselingkuhi, disetubuhi hingga menuai pidana yang dengan gelapnya mata kujalankan.

Aku merasa tidak adil jika hanya ibuku saja yang menerima hukuman atas perbuatannya. Sementara para ksatria dengan asik masyuk menggagahi tubuh ibuku dengan sejuta kepuasan bebas berkeliaran tanpa hukuman.

Sungguh aku tak dapat menerimanya, aku menjadi semakin muak memandang tingkah lakunya. Semakin mereka pongah dendamku kian membuncah.

“Wahai Dewa Yama, berkati laku dharmaku atas nama dendam, cinta, dan keadilan.
Kapakku, sang parasu kini jadi semakin liar berputar, memagut dan mematuk menciumi leher demi leher para ksatria, setiap yang kuhadang atau kala berpapasan denganku.

Bress…!
Thelll…!

Kepala demi kepalapun berjatuhan terpisah dari gembungnya. Berapa ribu kepala tak bisa kuhitung. Hanya setiap semburat darahnya saja kutampung, kubendung menjadi lima telaga darah di Kurusetra.

“Ibu telaga merah ini kupersembahkan padamu sebagai sesaji. Inilah wujud keadilan sejati dan rasa cintaku yang mesti kutegakkan.”
Lewat mataku yang terpejam dalam samadi panya*6  kulihat senyum ibuku, teduh damai. Menari lembut gemulai berlatarkan kilau cahya bianglala dengan semerbak bunga-bunga sebelum hilang dibalik mega.

Ada perasaan lega kala itu, atas sirnanya kaum ksatria yang rata kubinasakan. Namun kini setelah berabad-abad waktu terlewati, para ksatria itu telah lahir kembali. Kian rakus dan penuh nafsu mereka mengoyak-ngoyak tubuh ibuku. Meski sudah hilang kecantikan dan montok tubuhnya, para ksatria itu masih tetap liar menggerogotinya. Menghisap saripati payudara ibu tiada mengenal kata henti. Semakin mabuk dalam berpesta sambil mengobok-ngobok tubuh dan jiwa ibuku yang letih renta.

Ibuku tidak berselingkuh lagi, tapi diperkosa. Kembali telingaku mengiang, sesayup samar kudengar tembang nestapa berirama serak nan parau. Tlutur tentang ibu pertiwi.

… hutan gunung sawah lautan
 Dikuras bis-habisan
 Kini ibu sedang lara
Merintih dan merana *7

Kusaksikan semua itu di kejauhan, jantungku kian keras berdetak. Pandanganku mulai menghitam, aroma anyir darah menyengat penciumanku. Parasu di genggaman ini pun bergetaran dan mata kapaknya berkilat-kilat menyala. []

Magelang, 2 Juni 2017

 

Catatan:

*1: Kelapa yang telah berlubang karena dimakan tupai.

*2: Waktu menjelang senja yang dijadikan pantangan untuk melakukan sesuatu kegiatan.

*3: Meriam

*4: Salah satu suluk untuk mengiringi adegan sedih dalam pewayangan.

*5: Tembang sedih dalam suluk pewayangan.

*6: Salah satu sikap meditasi dalam agama Budha.

*7: Syair lagu wajib berjudul Ibu Pertiwi.

 

Eka Pradhaning dengan nama asli Ekaning Slamet

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY