BERAT BADAN, Cerpen Dee Hwang

0
55

*) Dee Hwang

Dia gelisah—kurasa orang asing akan berujar hal yang sama. Sudah setengah jam dia begitu, mondar-mandir di depan kaca, memperhatikan area pinggangnya yang membuatnya bertanya tentang kebiasaan hidup mana yang membuat badannya terlihat tak sedap dipandang?

Orang asing tak akan bisa menjawab pertanyaan itu, karena mereka bukan dia.

Ini sudah keseratus kali  dia menaiki penimbang berat badan itu. Ini keseratus kali dia menekuk muka begitu. Selebihnya, dia melantur. Seperti, dia akan bilang ada manusia kayu di tempatnya bekerja yang tak suka dengan kelebihan perempuan. Mungkin, dengan modal pikiran sempit nan berakar rekat dalam pikirannya—demikian asal–usul dia menyebut manusia kayu sebagai manusia kayu—manusia kayu itu telah melakukan sesuatu di luar kemampuan berpikirnya. Apakah betul ada dukun yang bisa dibayar buat menambah berat badan perempuan? Dia memaki tanpa berpikir. Pikirannya cuma jalan ketika buru-buru membuka gawainya, mencari sesuatu.

Dia tidak menemukan jawaban di sana. Dunia maya mengembalikan kegelisahan. Dia mondar-mandir di depan kaca.

Kalau dia bercerita sedikit tentang rencananya, maka orang asing akan bilang, ah, sudah. Besok kamu punya rencana berhenti dari pekerjaanmu itu, bukan? Tapi dia belum puas dari pengadilan di dalam kepalanya. Sekarang, dia pindah kasus. Dia mengetok palu buat kesalahan dari yang lain. Dia menarik bajunya sendiri. Apakah dia menimbang, karena baju itu berat badannya bertambah angka?

Dia kecewa memperhatikan jarum timbangan yang tak juga berubah, meski dia menaikinya tanpa sehelai baju.

Itu bukan jawaban. Bukankah selama ini pakaian yang dia kenakan di depan orang lebih tipis ketimbang baju tidur itu? Dia diam saja, melangkah ke tubir jendela.  Apakah dia mengenang kebiasaan berpakaian terbuka atau dia akan melompat dari lantai tiga? Kalau orang asing yang dia ceritakan sedikit kehidupannya tadi melihatnya dari bawah sana, mereka akan melarang. Mungkin mereka akan bilang, Sudah malam. Tak menarik melihat orang mati di bawah bintang-bintang. Perempuan manapun tidak ingin meninggal dalam keadaan tidak lebih cantik daripada bintang-bintang.

…kecuali dia menemukan yang tak terlihat mata mereka. Mungkin sekarang dia punya pikiran lain karena mereka tak tahu hubungan senyumnya yang muncul dengan sebuah jarum jahit.

Dia memandangi jarum jahit yang menyarung sebelah kaus kaki di atas meja seakan-akan itu adalah kebahagiaan yang membawanya pulang. Dia ambil jarum jahit hati-hati, menuju kaca yang tadi memandangi punggungnya, menarik kuat-kuat daging di dekat pusarnya. Dia gemukkan pipi seperti balon, dia kembali kecewa waktu tahu badannya tak menyusut seperti pipi setelah dia berikan satu tusukan jarum jahit di sana.

Kegilaan apa yang bisa dilakukan perempuan yang ingin menurunkan berat badannya? Apakah seperti, waktu dia berpikir bagian apakah lagi yang tak dia butuhkan di dalam tubuhnya?

Seperti rahim yang sudah dia buang di tempat bekerja, karena begitulah persyaratan yang ada. Dia boleh mendapatkan uang, kalau tak berniat punya anak. Dia memandangi piring roti yang dia buat sebelum berangkat bekerja tadi sore. Melihat piring saja kepalanya pusing. Dia ingat kata-kata manusia kayu tadi malam. Dia tak boleh punya anak atau berat badannya akan rusak atau dia tidak bisa makan lagi.

Dia merasa beruntung tidak mesti memikirkan caranya membuka tubuh sebagaimana dia menelan semua permintaan yang membuatnya kehilangan identitasnya sendiri. Dia tak ingat siapa dirinya, kecuali seonggok daging yang punya detak kehidupan. Ah. Kehidupan tidak adil karena memberikan berat badan yang tidak sesuai dengan permintaan pasarnya. Dia kalah dari perempuan berbadan sumpit yang punya tempat di hati pelanggan.

Kalau orang asing masuk ke kamarnya dan melihatnya tak jadi bunuh diri, mereka akan bertanya, mengapa kamu kerap meributkan hal-hal kecil? Kalau begitu, dia memang berbeda dari perempuan berbadan sumpit. Mereka punya kualitas bukan karena rajin menyuntik silikon cair ke dada atau hidung atau kepala mereka. Mereka tak pernah membuka mulut kecuali rayuan dan beberapa hal yang tak mereka deskripsikan karena rahasia pekerjaan. Sementara, dia membuka mulut, mengisinya dengan kata-kata berat yang membuat pelanggannya tak suka. Kata-kata membuatnya….oh. Dia menuju meja, membuka laci, mengambil gunting. Bukan pusar atau pipi yang jadi tumpuan. Dia mau menghilangkan mulutnya.

Manusia kayu akan kecewa. Mulut itu ada guna buat menyenangkan orang. Tapi, dia merasa akan menang dari perempuan berbadan sumpit. Bukankah yang bisu jauh lebih gampang diatur di ranjang? Dia melepaskan mulut dari wajahnya, membuangnya dari jendela kamar, menimpa orang asing yang sedang berjalan.

Membuang mulut tak membuat berat badannya berkurang. Dia merasa ini tabungan. Dia tak perlu memasukkan makanan dan mulutnya tak akan memberati pikirannya dengan….

Mungkin orang asing yang dia ceritakan sedikit tentang rencananya, punya rencana. Kata mereka, ketika kamu mengajukan pengunduran diri besok, kamu temui manusia kayu itu. Kamu bisa membakarnya dengan api atau merendamnya di bak mandi atau memotongnya dengan kapak besar sebagai tongkat anjing. Tetapi, percuma. Dia tak akan mengangguk. Selain karena tak ada orang asing yang peduli, dia tidak akan mendengarkan—dia sedang mencoba melepaskan kepalanya.


Dee Hwang, Kelahiran 9 September 1991. Lulusan FKIP biologi universitas sriwijaya. Terakhir ini menekuni dunia musik sebagai pemain Biola di SAMS Jogjakarta.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY