Kata-Kata Itu Sudah Hilang Sejak Kami Dilahirkan, Cerpen Ferry Fansuri

0
71

*) Ferry Fansuri

Padang pasir yang kami susuri dengan segenap beban dipundak, terik panas kami abaikan demi menembus badai depan mata. Kami tinggalkan banyak kota yang hancur dalam perjalanan, kami hanyalah segerombolan pria, wanita serta anak-anak yang tak tahu asal usul kami. Hal yang kami lakukan hanya terus bergerak dari tempat konflik ke daerah aman, hanya itu yang kami lakukan bertahun-tahun bahkan berabad-abad berlalu.

Kami sendiri tak tahu tahun berapakah sekarang, kami hanya mengikuti arah terbit matahari dan tenggelam berganti bulan. Bumi saat ini porak-poranda mendekati kiamat, perang terjadi dimana-mana tanpa sebab tak jelas. Berebut lahan, mempertahankan martabat, etnis ataupun agama untuk membunuh dan menghabisi manusia laksana menyembelih leher hewan. Nyawa tidak ada gunanya disini, hukum rimbalah yang berlalu disini. Terkuatlah hidup dan jadi penguasa, lemah tersingkir dan mati tercabik-cabik.

Itulah nasib kami, kumpulan hati-hati yang kalah dan tidak menemukan jalan pulang. Tidak mempunyai rumah untuk disinggahi karena semua sudah hancur dihantam nuklir hingga debunya memasuki jalan dan rongga pernapasan, tiap manusia menghirup akan tewas mengenaskan.

Sepanjang jalan yang kami jumpai hanya bangunan yang luruh lantak tersembul kobaran api melahap habis tak tersisa. Pemadangan tak lazim dan abnormal, mayat-mayat berserakan seperti sampah dicampakkan begitu saja. Bau bangkai yang menyengat saat kami melintas kota itu, tidak ada tanda kehidupan sekalipun. Sisa-sisa penjarahan dan pembantaian menyisakan perih dihati, kami harus berhati-hati melangkah karena genangan darah itu membanjiri jalan yang kami lalui.

Bahkan sesekali kami harus melangkahi mayat-mayat yang telah terbakar hangus dan dikerubuti lalat. Berbagai mayat tersaji disana, pria atau wanita sampai bayi tergeletak dengan mulut menganga dan mata melotot layaknya babi yang dikerat. Mereka tampak berpelukan satu sama lainnya, diwajah mereka terlihat ada lelehan airmata yang tak sempat diseka sebelum ajal menjemput. Begitu biadab yang melakukan ini semua, iblis telah keluar dari wadah manusianya.

Tapi semua itu menjadi makanan kami sehari-hari, pemandangan yang sudah terbiasa dimata kami. Awalnya kami mual dan pening hingga memuntah makanan yang kami telan tadi pagi, tapi setelah itu lambat laun membuat mata kami kebal dan hati mengeras menyaksikan itu semua. Kami terus melewati puing-puing kota yang hancur, memungut sesuatu yang bisa kami bawa. Pakaian, makanan, selimut, sepatu atau apapun yang bisa kami manfaatkan, kamilah pemulung kesedihan. Mengais bekas-bekas kebahagiaan dan kejayaan manusia disana.

Semua yang kami temukan, kami angkut dalam gerobak-gerobak. Berjalan beriringan saling menjaga satu sama lainnya bak keluarga biarpun dimasa lalu kami tak saling kenal dan tidak ada pertalian keluarga sedikitpun. Kami disatukan karena keadaan, perang tidak memenangkan apapun hanya menyisakan sengsara dan derita mendalam bagi siapapun. Awal kami tak kenal satu sama lainnya, kami bertemu setiap perjalanan. Dulu hanya segilintir 10 orang saja, tapi setiap memasuki kota yang luluh lantak disana dipastikan para penghuni mengikuti kami. Mereka mengekor mengikuti, jumlah kami terus bertambah dari 10 menjadi 100 dan 1000 setiap kami melewati kota yang binasa. Kami kaum proletar tanpa negara tanpa pengenal bangsa.

Layaknya sihir, sekumpulan kami berbaris berjajar bagai magnet bagi siapapun melihat kami. Bagi mereka kami seumpama kawanan sirkus menghibur mereka dari rasa galau diakibatkan penyakit dunia.

Terus menjejakkan kaki, kami tak lelah berjalan dan tak tahu arah kemana. Terkadang kami dihentikan oleh penjaga-perjaga perbatasan saat kami berusaha memasuki kota mereka. Penjaga itu selalu bertanya kepada kami.

“Siapakah pemilik tubuh kalian?
Apa yang kalian puja?“
Rasa apa yang tanam dalam hati kalian?
Kami pun diam tak bisa menjawab itu semua dan tak tahu jawabannya.
Pergi kalian!”
Disini hanya kaum Langit dan berdarah biru”
Kalian bukan golongan kami”
Enyah dan pergi yang jauh”

Suara-suara membentak itu teringang-ingang di telinga kami dan menjauh dari tempat itu, melanjutkan pengembaraan kami kembali. Kami mendaki bukit, menyeberangi sungai atau menyibak hutan belantara. Bahkan sampai memanjat puncak gunung untuk melihat matahari diujung langit, merasakan damai disana terasa tempat yang baik untuk mati saja.

Jika kami lelah, kami mendirikan tenda dan membakar api unggun ditengah-tengah kawanan. Para lelaki menyanyikan senandung leluhur, para wanita menanak nasi dan anak-anak bermain petak umpet. Hiburan kami hanyalah dongeng-dongeng masa lalu yang selalu diceritakan berulang-ulang oleh sang tetua kami. Bahwa dulu negeri kami gemah loh jinawi, tanahnya subur dan penduduk hidup sejahtera tanpa kekurangan. Hidup berdampingan dan saling menyanyangi satu sama lainnya, dahulu kala banyak dibangun menara-menara menjulang. Bangsa kami menguasai bumi, mencaplok lautan dan merangkul langit. Kami adalah penguasa sejati kala itu.

Tapi itu hanya cerita-cerita kemasyhuran purba yang telah berabad-abad hilang disapu ketamakan dan kerakusan manusia itu sendiri. Mereka selalu menumpah darah sejak penciptaan pertama Adam dan Hawa, takdir manusia di tangannya sendiri. Menjelang pagi, kamipun istirahat untuk memulihkan stamina kami dan esoknya kami kembali ke jalanan.

Kami hanya ingin bertahan hidup, itu saja dan tidak lebih. Kami terkadang berburu hewan apa saja yang kami temui, rusa, babi hutan, kelinci, burung atapun ikan. Semua daging binatang itu kami awetkan untuk bekal kami dalam perjalanan, cukup mengenyangkan perut kami yang penuh cacing kelaparan.

Jumlah kami tak pernah menyusut, jika 99 mati dari kami dan pastinya ada 99 bayi akan dilahirkan. Beranak pinak dalam rombongan kami, berahi itu yang melanggengkan generasi kami selanjutkan dan mewarisi gen-gen manusia kalah. Kami terusir dari negeri kami dan tidak ada pengakuan bangsa apa kami ini.

Ini selalu terjadi jika memasuki suatu negeri asing, kami sempat dihadang oleh pasukan berkuda berlegiun kereta perang.
Berhenti kalian semua!”
Siapakah kalian?”
Darah apa yang mengalir di tubuh Kalian?”
Tuhan manakan kau sembah?”
Mereka membentak sambil mengacungkan senjata-senjata mereka.

Kami tak bisa menjawab mereka, jawaban itu tak ada dimulutkan kami sama sekali.
Kalian angkat kaki dari sini atau kami bantai”
Disini bukan tempat kalian, manusia barbar”
Kami bangsa Pemuja Matahari”
Kaum yang diberkati dan lebih suci daripada kalian”
Kalian tak layak di bumi ini!”

Kesombongan mereka sebagai bangsa besar tak segan bergesekan dengan kami. Perlakuan kasar pun kami alami, akhirnya kami bentrok dan darah tumpah kembali. Rombongan kami dihantam kocar-kacir oleh pasukan pemuja Matahari itu, terpecah dengan hujan anak panah dan tombak diatas kepala.

Kami bukanlah tipe pejuang tapi pencinta kedamaian hingga tak bisa berbuat banyak melawan kawanan beringas didepan kami. Saudara-saudara kami banyak terbunuh, ini membuat lari pontang-panting ke segenap penjuru dengan membawa luka itu lagi. Terus berlari dan lari menjauh membawa luka di ujung dunia.

Setelah kejadian tersebut saudara-saudara kami terpecah belah, terbelah dimana-mana. Ada lari ke puncak gunung, berhamburan ke lautan atapun menyusup dalam hutan. Kami terbagi berbagai kelompok-kelompok kecil untuk tetap bertahan hidup dan saling menguatkan.

Saat kelompok kecil berhenti di lembah yang diatasnya selalu bersinar pelangi-pelangi hidup dan kamipun beristirahat melepas penat. Dan akupun duduk memandang langit di lembah pelangi itu.

Kenapa ada peperangan dan saling menumpahkan darah?” suara Maneka bertanya kepadanya, ia duduk disampingku.

Aku hanya terdiam tan bisa menjawab hanya memandang matanya yang berkilap bak pualam diterangi sinar rembulan.

Aku tak tahu, Maneka”
Semua itu terjadi begitu saja”
Aku juga tidak bisa ingat apa yang terjadi sebelum kita”
Dunia yang kita pijak ini telah porak poranda, nalar kita tak tersampaikan perihal itu”
Manusia kala itu saling bunuh demi etnis, agama atau dogma yang mereka percayai. Surga dibelakang mereka bukan neraka, itu yang mereka anut”
Apakah itu etnis?”
Apakah kita mempunyai agama?”

Maneka menanyakan itu kembali, lidahku begitu ngilu untuk menjelaskan karena linglung bagaimana menjawab. Hal yang kami lakukan cuman bertahan hidup dan terus memikirkan nasib saudara-saudara kami yang lain.

Dilembah pelangi itu kami mendirikan tenda, membelah kayu bakar, menanak nasi, membakar sisa-sisa daging rusa dan menyanyikan lagu sendu yang menyayatkan hati. Setidaknya kami bisa mengurangi pedih-pedih di jiwa kami yang kosong dan itu membuat kami terlelap dalam malam menuju peraduan sang Khalik.

***
Bangun kalian semua!!”
Bentakan dan lengkingan menggema pagi hari itu, hentakan kaki-kaki kuda membuat debu di lembah pelangi itu berterbangan memasuki paru-paru kami.

Siapaka kalian?”
Berani-berani berada di tempat suci”
Tubuh kalian mengotori tempat ini”

Kulihat sekolompok berkuda, memakai jubah dan berzirah perak. Mereka terlihat ganas mengelilingi kami dengan mengacungkan pedang dan tombak ke tubuh kami. Terdesak dan tidak tahu harus bagaimana, nyawa terasa akan lepas diujung tenggorokan kami.

Kuulangi sekali lagi, siapa kalian?
Disini tanah para raja dan turunan dewa-dewa”
Suku barbar pengembara seperti kalian membuat tanah ini kotor”
Cuiih!”

Ludah itu melekat di wajahku, sempat kuseka tapi hantaman kaki mendarat di dadaku. Terasa pecah akibat sepatu boot itu, aku tersungkur di tanah dan mata berkunang-kunang. Mata itu hanya sempat melihat jeritan para wanita, tangisan bayi bercampur teriakan para lelaki bercampur gemuruh dalam telingaku.

Bunuh semua!”
Tanpa sisa”
Tumpahkan darah mereka untuk korban dewa kita”
Habisi tanpa sisa”

Pembantaian itu terjadi sesaat aku terejembab dan pingsan, aku tak sadarkan diri dan semetara saudara-saudaraku dibantai oleh orang-orang yang mengaku menusia pilihan dewa.

Beberapa saat aku siuman membuka mata, tanah yang aku pijak telah banjir darah saudara-saudaraku. Mayat-mayat bergelimpangan, mereka disembelih layak binatang dan dikerat. Pria, wanita, muda, tua bahkan orok bayi mereka habisi tanpa bergidik ngeri satu pun.

Saat aku berdiri, tiba-tiba dari belakang ada sesuatu yang mendekap keras. Sebatang golok menyentuh kulit leherku dan sedikit lagi bahkan nyaris.

Oh kau masih hidup rupanya”
Salah satu dari mereka mencekikku dari belakang.
Nasibmu tak akan beda dengan lain”

Suara itu berasal dari pria berkuda dihadapanku, sementara aku dibekap dengan golok mengkilat di leher.

Kau yang tersisa dari kaummu”
Sekali lagi aku tanyakan padamu”
Siapa dirimu?”
Dari mana asalmu”
Suku apa kau ini?”
Agama apa yang kau puja?”
Semua pertanyaaan seperti yang ditanyakan Maneka dan aku tak tahu jawabannya.
Karena…
Kata-kata itu sudah hilang sejak kami dilahirkan.
Dan itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulut ini sebelum mereka menggorok leherku.

Surabaya, Mei 2017


Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya kumpulan cerpen “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio(2017) dan karya lainnya di beberapa antologi puisi dan cerpen. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY