KAKAK PEREMPUANKU, TERLAMBAT LAGI, Puisi-Puisi Margareth Febhy Irene

0
187

*) Margareth Febhy Irene

“KAKAK PEREMPUANKU
(Kepada; Puisi Sore)

Kita hampir tak lagi saling menyukai. Pada kata dan coretan yg coba diabadikan masa.
Kita seperti dua orang asing yang kian enggan bicara apalagi berkomentar banyak.
Seperti dua kertas terpisah yang tak pernah berada dalam satu buku.

Kita begini saja, usai begitu adanya. Meski sesekali harus bertarung dengan perasaan, ketika yang kita sukai adalah kata-kata banyak nama dan bukan lagi kita.

Kita benar, bersabar dalam dua porsi yang sepi untuk dibicarakan. Seperti ketakutan, sesekali menyenangkan datang bagaikan angin, mampir dan tak pernah tinggal seperti hujan kepada tanah. Lalu, bagaimana selanjutnya? Bintang atau rembulam terus bertanya-tanya. Lepas begitu saja, yang walaupun tak penting seberapa besar kau ketakutan dan sakit dengan Jiwamu sendiri. Sayangnya, tak bisa dipastikan, apa yang harus dituruti. Isi kepala? Atau isi jantung merah? Degupannya kian memancing keheningan, denyutnya tidak lagi stabil untuk lebih tenang.

Kita, sesekali bukan kita yang masih berdiri pada titik masing-masing, sedang janji? Sering kali bersuara dan kemudian terbang entah kemana. Sampai pada suatu hari, kaki tangannya hampir patah, di perempatan, di pertigaan bahkan yang jalan tak bertangkai ia terus bertanya, akan kemana?

Sesudahnya, dua kali ia berdoa berkali-kali. Sampai berharap marah dan sedih tak akan lagi berdatangan mengunjungi rumahnya. Ia sendirian di rumah, lama sekali Mamanya pulang. Bapaknya terpisah jarak, adik perempuannya yang sering kali mengahapus banjiran di pipinya sedang memetik benih di bawah atap orang. Adik laki-lakinya bermimpi jadi pilot, sampai-sampai ia juga bertanya apakah Kakaknya sanggup? Jika Kakak perempuanku terluka, ada kitab Mazmur yang bisa beri jawaban. Adik lainnya berkata. Semua berlagu rindu. Rindu pada dirinya yang dulu, yang belum pernah mengenal bagaimana ditampar dengan begitu keras oleh sebagian bibir yang bahkan sama sekali tak ia kenal, yang konon telah menghancurkan harapan banyak jiwa.

Kakak perempuannya tiba-tiba susah lupa. Pikun sudah tamat dari ingatannya, sampai sering kali ia dihantui, hampir mirip dengan film semalam. Kakak perempuannya berlinang, pada doa-doa yang sunyi di balik sapaan “Selamat pagi, tanta.. Om ada? Saya mau ojek”. Di dekat pohon, dia berdiri, setiap hari, sampai pulang ia sering kembali berteduh, menyapa pohon dan berkata-kata panjang. Tiba di rumah, sangat senja dan ia terdampar di dapur berapi besar dengan periuk dari Afrika.

Ketika yang ia kenal hanyalah tulisan dan tulisan, belum lagi sampai mana, ia terus tidak bisa ditenangkan. Sunyi bukan miliknya lagi. Seolah-olah. Awal Mei,2017

“TERLAMBAT LAGI

Pagi setengah matang
Kau suguhi aku dengan bumi yang cukup lembab
Aku lalu bergurau
Sayang, di matamu kutemukan mimpi
Semalam ia datang mengusap pipiku
Aku terbangun dengan kecupan paling hangat
Kurang apa lagi untuk hari ini?

Aku di rumah, kala itu pagi dan aku terlambat lagi. Akhir Mei, 2017


Margareth Febhy Irene, bekerja di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP Santu Paulus Ruteng. Jl, Ahmad Yani No. 10 Tenda Ruteng 86508 Flores-NTT-Indonesia. Aktif dalam mengampuh Komunitas Sastra Hujan Ruteng. Menyukai Traveling, tenun dan secangkir jahe. Mencintai Tuhan, puisi dan dia. Email : febhyirene@gmail.com twitter: @febhy_irene

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here