Tamu adalah Orang Asing, Cerpen Ezra Tuname

0
32

*) Ezra Tuname

Siang menawarkan pemandangan yang indah. Pagi terlampau berkabut sehingga hamaparan sawah indah luput dari perhatian mata. Tebing-tebing menawan dan bergitu congkak terlihat dari lembah.

Jalanan beraspal menuju perbukitan. Sesekali dijumpai aspal-aspal pecah. Jalan hanya lapen, belum hotmix. Air sawah yang berhamburan di atas lapen seringkali lebih tangguh. Jalan lapen rusak karena air. Bukan air hujan, tetapi karena aliran pikir masyarakat yang tidak tahu  fungsi got di sepanjang jalan.

“Pikir apa teman?”

Aku terbangun dari lamunanku. Abu rokok yang panjang jatuh di jelana jeans. Aku tak sempat membuangnya melalui pintu mobil.

Teman seperjalanan ternyata memperhatikan wajahku dan tatapanku yang kosong. Aku pun nyaris tak merasakan guncangan mobil ketika melewati jalan yang pecah dan berlubang.

“Tidak, aku sedang memperhatikan tebing tinggi di atas sana. Kalau ada pariwisata panjang tebing, itu pasti menarik”, jawabku mencari alibi.
“Betul itu teman. Tetapi semua soal akses ke sana. Coba pemerintah bikin lebih baik lagi jalan ini, terus ajak pengusaha pariwisata ke sini, mungkin saja apa yang dipikirkan teman pasti terjadi”.
“Itu sudah. Pemerintah urus bangun jalan. Masyarakat hanya nonton. Kalau rusak salah pemerintah. Mereka tidak rawat dan bersih-bersih  rumput tinggi seputar jalan. Masih tunggu ada uang. Padahal jalan ini mereka yang lewat setiap hari”.
“Iya betul juga. Apa-apa semua dari pemerintah. Pantasan orang-orang ingin jadi pegawai, karena pegawai di pemerintahan dianggap sangat berpengaruh dan gagah. Biar gaji kecil asal seragamnya keren”.
“Kalian bicara apa?” sela seorang teman di samping sopir. Sementara sopir hanya diam dan terus memperhatikan kecepatan dan jalan di depan.

***
Dingin terasa ketika sore tiba. Jarak pandangan sangat pendek. Kabut senja mengurung kampung.

Mobil berhenti di pinggir jalan. Ban-belakang sebelah kiri pecah. Tidak ada ban ganti. Tidak ada tambal ban. Sementara tujuan perjalanan kami masih jauh. Sekitar 10 kilo meter atau 1 jam perjalanan.

“Kita harus istrahat malam di sini, bagaimana?”
“Tergantung teman-teman”, aku mencoba membuka opsi kepada teman-teman.

Kami berempat saling melotot. Entah apa yang dipikirkan oleh masing-msing. Aku sendiri mencoba membakar rokok. Sambil melihat-lihat sekitar, aku mengambil handphone dan mengabadikan suasana. Tidak ada tanda signal di handphone. Daerah ini belum tersentuh teknologi.

Beberapa saat kami bersepakat menginap di kampung yang tidak jauh dari tempat kami. Semua perlengkapan kami bawa masing-masing. Jacket tebal membungkus tubuh.

“Maaf, rumah kepala desa dimana?” tanya temanku kepada seorang ibu yang sedang mengangkat jemuran buah kopi.
“Rumah kepala desa agak jauh dari sini. Sekitar 3 kilometer. Dari mana?” ibu itu balik bertanya.
“Begini bu, mobil kami sedang rusak. Pecah ban, maksdunya. Perjalan kami masih jauh. Jadi kami butuh tumpangan untuk semalam di rumah kepala desa. Begitu bu”.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Di sini saja. Kebetulan ini rumah bapak ketua RT, jadi tidak apa-apa. Ayo masuk…” ajak ibu itu.

Kami terdiam. Mata saling melotot dan nyaris tak percaya. Sementara ibu RT itu terus mengajak kami untuk masuk ke rumahnya.

Dengan sedikit tersipu dan canggung kami masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, hanya ada dua kursi dan satu bangku. Kami bertiga duduk di satu bangku, sedangkan teman sopir duduk di kursi kayu. Tampak ibu itu sangat sibuk mengangkat kursi dari arah dapur.

“Aduh maaf. Bapa belum pulang dari kebun. Sebentar lagi sudah sampai. Mau minum kopi?”
“Iya, boleh, boleh bu. Terima kasih banyak”, sahut teman sopir.

Teman sopir mungkin kelelahan. Dia butuh kopi untuk memulihkan semangatnya.

Karena tidak dikenal, kami adalah tamu. Karena tamu, kami adalah orang asing. Karena orang asing, kami tidak bisa menuntut. Tamu hanya diperbolehkan atas sesuatu yang dibolehkan. Tamu boleh minum apa yang suguhkan; makan apa yang suguhkan. Menuntut adalah sikap yang kurang ajar dari tamu yang asing.

Seorang anak putri mengantar empat gelas kopi dan satu sisir pisang mas. Ia membagikan kami masing-masing satu gelas kopi hitam.

“Terima kasih ade”, kaka temanku.

Anak putri itu senyum-senyum kecil. Lalu ibunya mempersilakan kami minum.

Kopi terasa sangat pahit. Tetapi terasa mantap untuk tubuh yang terasa menggigil. Pisangnya memberikan rasa manis sebagai pengganti gula. Di sini, gula tampaknya susah didapatkan. Tetapi sebagai tamu, kami hanya menghabiskan apa yang disuguhkan. Semuanya terasa nikmat.

Omni ens habet rationem. Segala sesuatu memiliki alasan untuk dapat dimengerti secara rasional. Begitu gumamku dalam hati.

***

“Sudah dari tadi?”
“Oh iya bapa”, jawab kami berbarengan.

Ketua RT menyapa kami dengan ramah. Ia menceritakan apa yang dilakukannya di kebun sehingga ia baru tiba di rumah. ia sangat bersemangat. Tidak ada tanda-tanda kecapaian di wajahnya. Sebagai petani, ia sudah terbiasa dengan pekerjaannya.

Kami bercerita tentang banyak hal. Dia memancing diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat kami tidak mampu menjawab. Ia memancing diskusi tentang Ahok, KPK, BPK dan bahkan program-program Jokowi tentang membangun desa.

Kami semua terbata-bata dalam diskusi. Ia nyaris menguasai materi berikut pertanyaan-pertanyaan yang membuat kami kelimpungan. Tertanya bapak RT mengikuti informasi dari televisi. Ia setia mengikuti informasi.

Di kampung memang tak ada listrik, tetapi ia memiliki mesin listrik sendiri. Mesin listriknya terdiri dari mesin disel bermerek kubota dan dinamo. Karena kedengaran seperti mesin giling padi dan ribut, orang sering menyebut mesin listrik itu sebagai “giling malam”. Hanya beberapa rumah saja yang memiliki mesin listrik seperti itu. Sehingga, kampung masih terasa gelap.

Sementara asik bercerita, suguhan makan malam tiba di hadapan kami. Masing-masing kami tampak senyum. Tetapi kami hanya diam.

“Mari, mari… kita makan dulu. Jangan marah, kita makan ala kadarnya”, ajak ibu RT.
“Terima kasih bu. Kami sangat senang”.
“Ayo, ayo ambil yang banyak. Jangan malu-malu. Kita berdoa  ‘swalayan’ saja”, kata ketua RT.

Kami hanya mengangguk dan makan. Nasih merah dan ikan kering serta sayur pucuk labu membuat kami bersemangat makan. Hidangan yang sangat enak dan khas daerah dingin.

“Kalian mau minum?”

Kami hanya saling melirik. Tawaran minum itu berarti minum arak atau sopi. Beberapa dari kami suka minum.

“Bukan sopi, tetapi tuak putih”, jelas bapak RT ketika memperhatikan kami hanya diam.

Ketika kami mengangguk, bapak RT langsung menuju dapur untuk mengambil tuak putih. Bahasa daerahnya, tuak bakok. Ia menyimpan tuak putih itu di dalam bambu dan ditutupi dengan serbuk ijuk.

Setelah makan kami menikmati minuman tuak putih. Rasanya manis dan unik.

“Jangan minum terlalu banyak. Tuak itu manis, tetapi kalau minum banyak nanti pasti mabuk”, kata ibu RT sambil mengangkat piring dan sisa makanan di atas meja.
“Tidak apa-apa, kalau mabuk nanti langsung tidur. Tidur di situ nanti”, bantah bapa RT dan terus menganjak kami untuk menambah minuman.

Semua kami minum tuak putih. Tidak ada yang menolak pemberian. Kami takut kalau-kalau penolakan berarti membuat tuan rumah tersinggung.

Bapa RT sudah mabuk. Omongannya sudah tidak jelas. Persoalan desa mulai terbuka satu per satu. Semua kemarahannya kepada kepada desa muncul dalam pembicaraan itu. Ada soal pungli, soal raskin, soal kontraktor luar desa, dan lain sebagainya.

Kami semua juga mabuk. Kepala terasa ringat. Mata terasa berat. Sementara semua mulut kami terasa berat untuk pamit beristirahat.

“Sudah. Sudah. Cukup. Kalian boleh tidur. Bapa biasa begini kalau sudah mabuk. Sebentar saya yang urut bapa, kalian tidur di situ”, kata ibu RT sambil menunjukan kamar tempat kami berisitirahat.

“Iya bu, terima kasih banyak. Kami istrahat sudah”.

Bapak RT hanya diam. Tangannya menyuruh kami untuk tidur. Kami pamit sambil menganggukan kepala.

Satu kamar kami berempat. Tempat tidurnya luas. Sarung sudah disiapkan. Tetapi karena sudah mabuk, dingin sudah tidak terasa. Mata sudah terlampau berat. Masing-masing tidur dengan caranya masing-masing.

Saat ini yang dibutuhkan hanya tempat tidur dan bantal. Tak peduli lagi mobil yang pakai sedang rusak. Tak ingat lagi tujuan perjalanan. Kejutan ada di setiap perjalanan. Mungkin itulah traveling.

Kini kami adalah tamu. Tamu yang asing.


Ezra Tuname, Pengampu Komunitas Sastra Air Pasang Borong

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY