INTIMASI EROTIS: CREATIO EX PROFUNDIS, Pre\face ke “Segala Detikmu” dari Reinald L. Meo

0
174

*) Sintus Runesi

‘Samudera raya (tehom) berpanggil-panggilan’
(Mzr 42:8)

Nietzsche pernah menulis bahwa ‘kita mulai menyusun suatu pesan/sabda pada titik di mana ketidaktahuan kita bermula, di mana kita tidak mampu melihat lebih jauh lagi.’ Pandangan ini seperti mendapat afirmasinya dalam kumpulan puisi segala detikmu dari Reinald. Penyair ini menunjukkan bahwa kita menyusun pesan-pesan kita, pada momen atau pada titik di mana hasrat bergejolak di kedalaman, kala kita ingin menangkap yang tak-berhingga, kala seseorang tidak dapat lagi menahan diri untuk menumpahkan deburan jiwanya karena absennya objek yang dihasrati. Dalam kumpulan puisinya, segala detikmu memastikan kalau tulisan selalu lahir dari kedalaman, suatu limpahan interioritas sebagai jawaban atas pengalaman absen dalam intimasi dengan yang-tak-terbatas atau yang ilahi. Dunia puitiknya diciptakan dari kegelapan ‘samudera raya’ (tehom), dari kedalaman samudera jiwa (creatio ex profundis) (Keller, 2003). Dunia puitiknya ibarat penciptaan dunia, yang menurut Eckhart adalah suatu gerak keluar dari ketersembunyian Allah, di atas wajah ketakberhinggaan (faciem abyssi).

Gelombang di kedalaman, pecah menghantam di segala detikmu. Desiran puitiknya lahir dari arus desir(e) – hasrat – sang penulis akan pengalaman kedalaman, ketersembunyian-ketaktersembunyian, kegelapan-terang, ketakberhingga-keberhinggan, memusat-meminggir. Singkatnya tentang pengalaman misteri intimasi:

Sebuah cumbuan paling bergairah
Adalah antara ombak dan karang
Tak ada belas kasihan
Tak kenal batas kemampuan
Menjalar sampai ke akar
Menyentuh hingga pusat
Terus-menerus

[sajak ‘Cumbuan’]

Segala detikmu unik. Dimulai dengan dengan keliaran cumbuan dan ditutup dengan undangan doa. Struktur global ini bisa dibaca dari perspektif berikut. Dalam kosakata teologi, umumnya diketahui dan diterima sebagai benar bahwa penciptaan itu ex nihilo. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan presuposisi iman tak-tertanyakan mengenai kemahakuasaan sang pencipta. Tetapi kalau kita sedikit lebih mengarahkan perhatian pada teks Kejadian, kita akan menemukan kalau permulaan atau narasi awal mula digambarkan sebagai suatu permulaan yang morat-marit, berawal dari kegelapan wajah tehom (samudera raya – face of the deep) dan disempurnakan dengan keheningan istirahat Shabbat. Segala detikmu adalah suatu itinerarium mentis sebagai itinerarium intus, suatu perjalanan jiwa sebagai suatu perjalanan ke dalam, pergolakan jiwa sebagai keyakinan iman berhadapan dengan absennya ‘Yang-Tak-Berhingga’.

Untuk menangkap, mengalami dan bahkan keinginan untuk menggenggam yang tak-berhingga, mendorong dunia puitik dalam segala detikmu dibangun menggunakan beragam tema. Ini mencakup pengalaman-pengalaman eksistensial, pengalaman serba terduga, pengalaman yang remeh-temeh, bahkan pengalaman-pengalaman batas. Sebagai contoh, kedalaman, kegelapan, malam, hasrat, mata, MarTina, ‘bercinta dalam gelap’ seolah ingin menegaskan pernyataan Pater Louis Beirnaert bahwa pada tempat pertama, seksualitas manusia memiliki signifikansi religius yang menentukan (Bataille, 1986). Masih menurut Beirnaert, simbolisme persetubuhan (coniugalis) dalam pengalaman mistik, pertama-tama bukan tentang signifikansi seksualnya, melainkan tentang signifikansi transendental. Semua dialami melalui tubuh, tubuh yang mendunia. Tubuh membahasakan keintiman dengan yang ilahi. Hal ini menunjukkan bahwa sekali pun keberadaan kita memang diselubungi dengan awan keterbatasan, berpondokkan kegelapan ketidaktahuan, ketakberhinggan jiwa; tubuh secara pasti dapat membahasakan kehadiran yang-tak-terbatas.

Selangkah lebih dalam, eksposisi melalui kata-kata, atau bahasa secara umum menjadi cara Reinald menubuhkan pengalaman, sekaligus coba menginkarnasikan absennya yang-tak-terbatas ke dalam dunia kebahasaaan. Ibarat bahasa yang diwaktukan merupakan cara membahasakan waktu. Dalam hal ini, menginkarnasikan hasrat akan yang absen itu ke dalam kata-kata ibarat kita menghubungkan bahasa pada waktu. Hal ini tidak sekadar suatu penciptaan impresi, kemungkinan ilusif, maupun kesabaran melintasi perubahan. Hasrat diwaktukan berarti bahwa menghasrati selalu berarti berhasrat pada suatu waktu, yang menunjukkan relasi antara hasrat dan waktu penghasratan dan waktu di mana seseorang sedang menghasrati. Reinald bersajak:

Aku mencintaimu dengan segala detikmu
Laksana serpihan kaca yang pantulkan aurah senja
Kadang keheningan membantuku bermimpi
Tentang desiran angin yang menyapu begitu menggoda
Mencintaimu adalah anugerah
Seindah cawan bening yang hiasa lemari kayu
Jauh di lorong jiwa ini
Terukir peluhmu
Terpahat betapa aku tak kuasa berpisah darimu

[sajak ‘Segala Detikmu’]

Seturut itu, ketika membaca puisi-puisi Reinald, kita akan menemukan bahwa untuk berbicara tentang hasrat akan Sang Kata misalnya, kita selalu berbicara mengenai sesuatu bahkan tentang ‘yang lain’ (the Other), tentang sesuatu yang lumrah, tentang ketakterbatasan dia yang takberhingga. Maka, perlu berhati-hati, sebab sebagaimana ditekankan oleh Nancy (1991), ketika membabtis ketakberhinggaan (abyss) hasrat kita dalam nama Allah, kita dapat jatuh dalam dua kesalahan atau dua inkoherensi berikut: kita mengisi ketakberhinggaan itu melalui atribusi suatu dasar padanya dan menghina nama Allah dengan menggunakannya untuk menyebut sesuatu. Untuk hal ini, Reinald memang sempat-sempat mengingatkan dalam nada apophatis (teologi negatif) bahwa, ‘[m]isteri yang purna itu/tak terkata hati/tak terjamah budi’ (sajak ‘Pola Pengertian).

Sampai di sini, bisa disebut bahwa Reinald sedang membangun, katakanlah sebuah teologi eros melalui imaji-imaji puitik. Vertikalitas religius (transendensi) tersebut digambarkan melalui horisontalitas erotis (imanensi horizontal) dua orang kekasih. Horisontalitas ini memastikan bahwa dalam apa yang kita sebut sebagai pengalaman dengan yang ilahi, tidak lain merupakan suatu pengalaman fascinans penuh erotis. Tuhan tidak selalu kehadiran yang menakutkan seperti dalam pengalaman Sinai. Ia adalah kehadiran yang memabukkan karena ‘serpihan-serpihan asmara’ yang ‘bertahta makin perkasa’ (sajak ‘Mahligai’). Reinald menunjukkan bahwa sebagai manusia, setiap orang mengalami dorongan hasrat yang sangat kuat untuk melampaui alienasi satu sama yang lain, bahkan dengan diri sendiri. Hasrat ini, yakni cinta, merupakan kemudi menuju kesatuan yang terbedakan, kesatuan dengan yang ilahi, bilang Paul Tillich.

Masih menyangkut intimasi vertikal tersebut. Kita menemukan suatu bentuk transgenderisasi. Tuhan sebagai perempuan. Dalam transposisi ini, feminitas memainkan posisi yang menentukan. Ini unik. Reinald yang belajar filsafat dan teologi, sudah pasti tahu, bahwa dalam keseluruhan narasi biblis dan teologis standar, terutama dalam Katolisisme, Tuhan selalu berwajah maskulin. Tuhan adalah mempelai laki-laki dan Israel adalah perempuan. Kristus adalah kepala dan mempelai laki-laki sedangkan gereja adalah mempelai wanitanya. Reinald mencoba keluar dari arus tersebut. Ia melihat Tuhan dalam diri perempuan-perempuan tua yang letih tubuhnya, Tuhan yang kusut wajahnya, Tuhan yang koyak jiwanya: ‘ah…/perempuan-perempuan itu/adalah/sungguh Tuhanku’ (sajak ‘Perempuan-perempuan itu adalah Tuhanku).

Narasi puitik dari Reinald tentang Tuhan sebagai perempuan, mengingatkan akan buku Jesus as Mother (1982) dari Caroline Bynum. Dalam buku tersebut, Bynum mengulas beberapa mistikus abad pertengahan yang mengakrabi Tuhan melalui gambaran-gambaran feminin. Ambil contoh, Anselmus dari Canterbury menggambarkan Yesus sebagai bapak sekaligus sebagai ibu. Bapak terkait dengan peran hukum dan penciptaan, sedangkan ibu terkait dengan ia yang mencintai. Pun Bernard Clairvaux memakai imaji maternal untuk menggambarkan sosok Yesus, Musa, Paulus, para Abbots, dan para prelatus. Imaji maternal yang dipakai pertama-tama tidak terkait dengan rahim dan kelahiran tetapi dalam tindakan merawat, terutama dalam tindakan menyusui. Dada ibu, bagi Bernard, adalah simbol kelimpahan yang terarah kepada orang lain: ‘di nur kemilau itu kudapati kau yang sedang menyusui/mimpi’ (sajak ‘Namaku: Perempuan’).

Namun, gambaran sebagaimana dibuat para mediovalis itu tidak sesuai dalam narasi puitik Reinald. Dalam sajak ‘Perempuan-perempuan itu adalah Tuhanku’, Reinald justru menunjukkan bagaimana Tuhan tidak lagi dialami melalui gelora hasrat erotis, melainkan melalui perkabungan dan tragedi. Tuhan adalah perempuan-perempuan yang mengalami penderitaan. Karena itu, kita menemukan di sini adanya gerak peralihan emosi dari gairah erotik ke trauma dan ketakutan. Melalui peralihan ini, imaji dialektis Reinald menghadirkan pada imajinasi kita sisi negatif dari pengalaman sosial terberi menyangkut perempuan. Perempuan yang tersubordinasi dalam mentalitas patriarkis, bahkan bisa jadi perempuan yang teraniaya atas nama Tuhan. Dari arah yang berbeda, saya kira erotisme religius semacam yang bercampur dengan trauma sejarah inilah yang berpotensi menjadi forma kebencian dalam pengalaman kekerasan antarorang beragama, sehingga kekerasan semacam itu tidak mungkin ditangkap hanya berdasarkan anggapan tentang fanatisme.

Namun lagi, mengejutkan. Peralihan ini justru memuncak pada negativitas internal imajinasi puitiknya. Negativitas yang bisa menjadi anti-tesis terhadap potensi erotisme religius, yakni kesadaran akan kekosongan subjektivitas maskulin: ‘seketika aku merasa kosong/di hadapan mereka.’ Dengan figurasi ketakberhinggaan sebagai kekosongan ini, Reinald memerlihatkan hubungan laten antara kekuasaan dan kebenaran. Ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Grace Jantzen (2003), bahwa ‘satu hal yang diakui dalam keterhubungan antara isu kekuasaan dan konstruksi kebenaran bisa dilihat misalnya, bagaimana teori-teori ilmu pengetahuan dan praksis hidup distrukturasi oleh prinsip-prinsip maskulinitas, atau bagaimana mistisisme distrukturasi menurut garis gender, bahkan agama itu sendiri didefinisikan menurut warna kulit, berdasarkan asumsi mengenai superioritas Eropa.’ Reinald, dengan demikian, menggugat cara kita mengimajinasikan Allah berdasarkan standar-standar maskulinitas, yang bahkan dapat jatuh dalam tindakan masokistis setiap kali ‘bercinta dalam gelap. Aku hanya tidak ingin menyiksanya terlalu keji.

Gugatan ini, sebagai suatu sensibilitas postmodern, digerakkan oleh kecurigaan dan keingintahuan yang tidak main-main: ‘lalu/kuputuskan untuk kembali/dan meneliti lagi/sekali lagi.’ Walau begitu, dalam kecurigaan ini, ketimbang mencari jalan keluar, Reinald justru membawa kita semakin jauh ke dalam pada hubungan antara Tuhan sebagai realitas yang takberhingga, perempuan dan kebenaran:

Tuhanku adalah perempuan-perempuan
Perempuan-perempuan itu adalah Tuhanku
Jika ‘ya’, aku harus ‘ya’
Jika ‘tidak’, aku harus ‘tidak’
Lebih dari itu aku mesti memeriksa diri
Meskipun aku cukup saleh di hadapan dogma

[sajak ‘Credo’]

Dalam imaji dialektis ini, kita melihat kalau melalui sajak tersebut, Reinald tidak memaksudkan penyangkalan terhadap pengalaman perkabungan sebagai bagian dari pengalaman mengenai ketakberhinggaan. Sebaliknya, sajak itu seolah menggoda kita untuk mengkonfigurasi ulang imajinasi keberhinggaan tersebut. Mengikuti Jantzen lagi, dapat dibilang bahwa dengan imaji Tuhan sebagai perempuan, dalam hal melalui rahim sebagai simbol ketakberhinggaan, sebagai tempat kelahiran, tempat menjadi, akan mendorong kita untuk mampu mencapai imajinasi bersama bahwa seluruh perilaku dan tindakan kita adalah relatif sama, tidak terbedakan secara ketat menurut garis gender. Apa yang bisa kita capai, dalam cara melaluinya imajinasi erotis kita membentuk respon kita terhadap ketakberhinggaan (Tuhan), bahwa tindakan-tindakan kita tidak sebatas suatu dekorasi mental, tetapi sebagai cara kita membentuk perilaku dan etika kita: ‘YAHWEH ……….itukah solider…?’ (sajak ‘Menadah Secuil’).

Sebagai terakhir, bisa dibilang bahwa dalam kata-kata, kita ingin menduniakan yang absen tersebut. Dan karena itu, dalam kata-kata pula hasrat kita menubuh dalam waktu agar dapat mengambil bagian dalam ketakmewaktuan. Dalam kata-kata pula, ‘yang-tak-berhingga’ bertransfigurasi. Maka, dalam kata-kata pula, bisa dikatakan kita mengalami pengalaman presensia. Di situ, vertikalitas pengalaman kita dengan ‘yang-tak-berhingga’ itu dibahasakan. Pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara kata-kata dengan ‘yang-tak-berhingga’? Saat membaca segala detikmu, kita tidak berhubungan dengan narasi kronologis, melainkan kita berhadapan dengan suatu bentuk representasi mengenai perjalanan individual ke dalam kenangan tentang pengalaman mengenai ketakberhinggaan. Karena itu, segala detikmu adalah upaya menangkap aktualitas ‘yang-tak-berhingga’ sebagai pembalikan dari yang abadi dalam sejarah. Seperti para mistikus, upaya itu secara intelektual-imajinatif, coba diakrabi melalui puisi-puisi bernuansa erotik. Sajak-sajak ini creatio ex profundis.


Sintus Runesi, Penikmat Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here