Februari Kelabu, Cerpen Yandris Tolan

0
40

*) Yandris Tolan

Desiran angin gunung bertaburan awan kelam menyita arah pandanganku. Lekukan langit yang sedang merinding desah dinginnya angin Februari seakan menyimpan ribuan rasa hati yang kusembunyikan. Ibarat mimpi jadi kenyataan, itulah sepenggal kisah yang kualami. Kisah itu berawal pada suatu senja saat detik waktu saling berlarian mengejar langit malam. Hembusan angin Februari yang datang bersamaan dengan gerimis mendekam kalbu di saat kucoba memulai kisah saat itu. Rupanya kisah yang tercipta dari balik apitan bebukitan meninggalkan ribuan jejak sakral. Kisah itu berawal saat aku mampir di sebuah gedung putih yang bagi kebanyakan orang menjadi tempat singgah para pencari Tuhan dikala duka dan derita menjadi takdir hidup mereka. Aku melewati beragam koridor yang ada di gedung putih itu. Kusaksikan adalah kisah pilu jutaan orang yang tengah merintih kesakitan bahkan ada yang sedang bergulat dengan maut. Rasa empati kali ini mengetuk relung jiwaku. Jeda diam yang lahir dari balik rasa empati saat itu menuntutku segera berbagi walau dengan rupa diri apa adanya. Kuberanikan diri menyusuri sebuah lorong pengap yang diapiti bunga aster. Rasanya lorong itu kembali menghadirkan rasa takut yang dalam di balik hati kecilku. Sejenak kumenyusup masuk ke sebuah ruangan berlantai sederhana yang diapiti dinding putih sedikit kumal. Arah mataku saat itu pertama-tama menangkap tabung oksigen yang berjejer rapi di samping pembaringan. Rasa kagum bercampur kaget kembali menantang pandanganku. Namun, kuberanikan diri sambil mendekat pembaringan yang ada di sudut ruangan. Betapa mengharukan. Kusaksikan sesosok wanita muda yang polos menatapku dalam diam. Segala organ vital dari bagian tubuhnya penuh dengan slang infus. Kuberanikan diri untuk kesekian kalinya sambil membuka pembicaraan di antara kami. Betapa nuraniku tersentak pilu. Dalam duka derita yang dalam, sosok wanita muda itu menyisihkan sedikit nafas untuk menanggapi pembicaraanku saat itu.

“Selamat malam saudari. Perkenalkan, namaku Giovani. Ucapku lirih.”
“Namaku Juwitha. Sambungnya dengan suara memelas.”
“Sejak kapan saudari mengalami penderitaan ini? Tanyaku kagum.”
“Terhitung puluhan tahun zilam. Saat ayah dan ibuku pergi ke tanah perantauan. Jawabnya dengan suara parau.”
“La…ll..u, laa..luu, siapa yang menghantar saudari ke tempat ini? Tanyaku sembari mengelus keningnya yang mulai pucat kekurangan darah.”
“A…ku,,diantar oleh tetanggaku. Aku tidak tahu harus mengadu lagi ke siapa saat pertama kali aku jatuh sakit. Tuturnya sambil meneteskan air mata.”

Isi kepala malamku melambung sunyi. Detak jantungku tak lagi menentu. Yang ada hanyalah rasa sedih yang terjerembab dalam pikiran buntu. Aku seolah mati rasa membahasakan kata untuk meneguhkan Juwitha malam itu. Cerita singkatnya serentak membangunkan anganku yang telah lama mati untuk berbagi. Betapa aku sadar malam itu, nasib malang jauh lebih mudah datang dalam hidup manusia ketimbang nasib suka dan bahagia. Pengalaman Juwitha menyadarkanku bahwa jalan hidup manusia selalu menghadirkan simphoni yang menggugah nurani. Dengan rasa sedih mendalam, aku coba meninggalkan perasaan saat itu dengan jalan melepaskan gengaman tanganku darinya. Kukembali menyusuri lorong semula sambil merenung kisah singkat itu selama perjalanan. Aku menyusuri beberapa koridor sampai pada titik teraakhir di mana aku harus memilih untuk duduk. Rembulan yang sesekali menoreh semburatnya, turut menggugah perasaanku. Gemericik dedaunan yang ditindih gerimis malam menambah semarak gundah hatiku. Bagai seorang pertapa, aku harus mengurung diri dengan sejuta perasaan sedih malam itu. Kebetulan di koridor terakhir malam itu, ada sebuah lampu dengan cahaya temaram. Ruang kepalaku terpedaya oleh dinginnya angin bukit dan juga kisah wanita muda itu. Berpuluh-puluh menit aku bergulat memikirkan suaratan nasib wanita muda saat itu. Di kedalaman jiwaku hanya ada rasa haru dan angan yang meronta menyita perhatianku untuk segera memberi jalan bagi wanita muda itu. Apa daya, anganku sebatas rasa empati hingga hadir menggenggam jemarinya. Setelah bergulat beberapa lama, aku kembali memilih untuk menjumpai wanita muda itu. Dengan langkah yang lebih tegap kumenuju ruangan semula. Kali ini yang kudapatkan bukan lagi Juwitha seorang diri. Kali ini hadir sosok wanita tua renta yang sedang merangkul Juwitha dalam diam. Kucoba merapat sambil mendengar petuah malam yang keluar dari wanita tua itu. Sejenak rasa sepiku harus berakhir dengan tangisan. Titik-titik kecil air mata yang telah lama sembab di kelopak akhirnya berguguran jatuh. Wanita tua itu meninggalkan petuah bijak yang sungguh menguggah nuraniku. Dari bibirnya yang keriput dibalut warna siri-pinang, wanita tua itu bertutur.

“Juwitha, cucuku tersayang walau malang. Aku tak ingin membangkitkan memorimu untuk mengenang kisah kelam ayah dan ibumu. Aku tak ingin deritamu ini berkepanjangan. Aku tahu betapa suratan nasib ini sungguh sakit. Nak, segala dayaku tak sanggup lagi menghilangkan deritamu saat ini. Yang ada padaku hanyalah sepenggal doa yang kuramu dari bilik-bilik hari yang sering kupersembahkan untuk Tuhan. Sebab kupercaya kasih sayang dan cinta Tuhan jauh lebih tulus dari ayah dan ibumu. Tabahkanlah hatimu. Jalan hidup manusia memang panjang dan melelahkan. Dan di dalam perjuangan meniti jalan panjang itu, sakit dan derita sering menjadi kata wajib yang kita alami. Kuatkan hatimu bahwa saat ini, Tuhan sedang melawatimu. Tutur wanita tua dengan raut sedih.”

Serentak aku merinding kagum. Petuah wanita tua malam itu membuatku tak lagi bersuara. Beberapa saat berselang, aku mendekati wanita tua itu sambil bertanya.

“Nek, apa benar ini keluarganya Juwitha? Tanyaku keheranan.”
“Iya nak. Aku neneknya Juwitha. Sambung wanita tua sambil menatapku tajam.”

Pikiranku seketika mengambang. Perasaan sedih bercampur kagum berhimpitan di kedalaman jiwaku. “Kalau memang wanita tua itu neneknya Juwitha, kenapa sedari awal ia tidak menemani Juwitha ke rumah sakit? Tanyaku dalam hati.”

Kucoba kembali memulai pembicaraan dengan wanita tua itu setelah jeda diam berlalu.
“Nek, apakah bisa aku  meminta sesuatu? Tanyaku cepat.”
“Tanya apa, nak? Sambung wanita tua.”
“Aku ingin nenek menceritkan suka-duka hidup dari Juwitha. Pintaku sedih.”
“Oh…iya nak. Aku akan menceritakannya segera. Awalnya terasa berat jika harus mengungkap semua kisah tentang permintaanmu. Juwitha memang punya suratan nasib sebagaimana sekarang ini. Ia ditinggal pergi kedua orangtuanya puluhan tahun zilam. Karena demi nasib di negeri Jiran, kedua orangtuanya pergi tanpa pamit. Saat itu, Juwitha berumur lima tahun. Juwitha terpaksa diadopsi oleh salah seorang tetangga. Ia kemudian dibesarkan dan dibiaya untuk melanjutkan proses pendidikannya. Tapi sial selalu datang lebih awal dari mimpi awalnya. Di penghujung kuliahnya untuk mendapat gelar sarjana, Juwitha malah jatuh sakit dan divonis mengidap penyakit kanker kronis. Dan nasib hidup Juwitha hanya menunggu waktu. Tutur wanita tua sambil menangis.”

Jutaan pertanyaan yang tersimpan sebelumnya di lubuk hati tak lagi menawan untuk kuucapkan. Hanyut dalam diam itulah situasi yang bisa kualami saat itu. Tak ada lagi kata tanya yang kupikirkan. Malah yang datang di isi kepalaku hanyalah rasa sakit dan sedih yang dalam. Kubiarkan perasaan sedih itu pergi. Segera aku menyeka tetes kecil air mata di kelopakku. Dengan wajah yang tegar aku mendekati Juwitha yang tak berdaya. Aku merangkul tangan kanannya sembari mengeluarkan satu buku novena kerahiman ke dalam genggamannya. Kurebahkan badan sambil berbisik padanya.

“Juwitha, aku telah menyimak kisah hidupmu. Aku percaya derita yang kini kau alami juga berawal dari semua jalan kelam masa zilam itu. Tapi tabahkanlah hatimu. Ciptakan dalam dirimu semangat untuk bagkit setelah jatuh, dalam maut sekalipun. Tinggalkan masa lalu yang sering membuatmu merasa lelah menatap hari esok. Biarkan semua itu pergi tanpa bekas dalam suaratan nasib hidupmu. Percayalah bahwa dalam doa dan keyakinanmu pada Tuhan, segala sesuatu menjadi mungkin. Tuhan akan selalu menyertaimu sekalipun di tubir waktu paling curam. Tuturku dengan suara tegas.”

Larut malam kian terasa. Langit Februari tanpa bintang jadi saksi. Betapa berharganya aku mengalami kisah dari balik Februari kelabu. Aku mengerti Tuhan menyadarkanku lewat orang-orang yang tak pernah kuharapkan sebelumnya. Sesungguhnya jalan hidup manusia selalu ditakdirkan dengan kisah-kisah unik penuh rahasia.  Kisah Februari kelabu telah menguatkanku untuk terus berbagi walau dalam derita sekalipun.***


Yandris Tolan, penulis dan pegiat sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here