PANGGUNG

0
40

*) Gregoriana S. Kedang

Hari terus berganti. Waktu kian mendewasakan dan menguatkan aku. Di setiap putarannya, bumi giat menawarkan cerita-cerita baru.

Hari ini, 15 Juni 2014 sebuah pesta digelar sebagai bentuk perayaan syukur atas panca windu pentabhisan Opa sebagai seorang Pastur Katolik. Semua keluarga telah berkumpul beberapa hari sebelumnya untuk mempersiapkan hari ini. Pestanya cukup meriah, dihadiri oleh ribuan undangan dan juga diisi dengan acara-acara yang luar biasa.

“Selamat ulang tahun cucuku” Opa memberiku kejutan berupa kue ulang tahun dan sebungkus kado berisi sepatu dan sebuah gaun pesta beberapa jam sebelum kami menuju kemah perayaan syukur itu. Benar, hari ini juga merupakan hari ulang tahunku yang ke-18 tahun, tapi aku berniat merahasiakannya kalau-kalau Opa melupakannya agar ia lebih konsen pada pestanya. Tetapi, jangan sebut ia Opaku jika ia melupakan semua hal tentang cucu kesayangannya ini, yah, diriku.

Setelah kejutan singkat itu, aku menyadari kalau rumahku telah penuh dengan iri dan dengki dari saudara-saudara dan semua keluargaku. Betapa tidak, aku hanyalah seorang cucu yang diangkat opa dari sepasang suami istri yang menjual aku akibat masalah ekonomi dan juga keinginan mereka untuk bercerai. Cucu angkat dari kedua orang tua yang sampai saat ini tak pernah kukenali rupanya. Dan kenyataan yang lebih parah lagi adalah aku adalah anak angkat dari pembantu di rumah si Pastur yang dari kecil harus kupanggil Opa itu. Mama dan aku diakui sebagai keluarga kandung oleh opa. Mama angkat yang lagi-lagi telah meniggalkan aku karena sakit yang dideritanya, dan bagi semua saudara dan keluarga Opaku, aku adalah alasan dari semua masalah dalam keluarga besar itu, bahkan juga kematian mama angkatku menurut mereka adalah karena kehadiranku. Sungguh kenyataan itu bagai belati yang menyayat hatiku selalu.

Air mataku menetes dalam diam saat kulihat ke sekelilingku. Tatapan mereka tajam dan dingin, beberapa cacian menampar aku begitu keras. Hingga aku teringat pada suatu hari, ketika kakak dari Opaku merayakan pesta emas pernikahan mereka. Di hadapan begitu banyak undangan semua cucu dari keluarga besar opa dipanggil untuk maju ke panggung bersama ayah dan ibunya masing-masing. Aku menyadari keberadaanku, aku hanya duduk terdiam di samping opa. Beberapa keluargaku menyuruh aku untuk maju dan opa juga turut memaksa aku berkali-kali. Barangkali opa tak ingin aku merasa asing. Karena takut menjadi pusat perhatian, aku terpaksa maju. Riuh tepuk tangan seketika berganti menjadi desas-desus membisik. Senyuman opa terus menopang berdiriku di panggung itu sampai saat seorang dari keluarga opa mendekati aku lalu bertanya, “kenapa ikutan maju? Siapakah ayah dan ibumu?” tak tertahan lagi tangisku. Aku tertunduk sangat malu dan sedih kemudian pulang ke rumah meinggalkan kemah keji itu. Bagai terhunus pedang panas dengan api yang menyala-nyala, sekali lagi aku dicampakan di antara mulut-mulut berlidah tajam.

Sejak saat itu, aku semakin dibenci dan tidak dianggap keluarga oleh mereka, kecuali opa. Aku selalu mengutuk waktu dan alam yang memenjarakan hidupku di jalan yang penuh duri dan bebatuan yang panas ini. Tetapi, sekali lagi opa adalah alasanku untuk bertahan di sini. Ia selalu berhasil meyakinkan diriku bahwa aku adalah mawar yang mekar dengan wangi dan indah di antara dedurian.

“Pakai baju dan sepatunya sekarang…” suara opa parau membuyarkan kenangan memalukan itu. Aku tersenyum dan merangkulnya penuh haru.

Pesta berlangsung meriah. Sementara cuaca di luar sana pun cerah. Raja siang bersinar terik dari kejauhan, panasnya seolah membakar aku dengan semangat.

Aku menikmati musik-musik dan beberapa pertunjukan seni lainnya dengan senang hati. Kemudian saat makan pun tiba. Master of Ceremony (MC) tiba-tiba menyebut namaku. Sebagai satu-satunya cucu kesayangan yang setiap hari menemanidan menjaga opa di rumah,aku diminta untuk meyampaikan sesuatu dihadapan seluruh keluarga dan undangan. Sekujur tubuhkan terasa bergetar kaku.

“Mamaaa…” aku merintih dalam batin. Apa yang harus ku lakukan? Semua mata tertuju padaku. Seorang guruku kemudian mendekati aku dan menepuk pundakku, katanya; “Ayo! Katakan saja semua yang ingin kau katakan. Semua menunggumu.” Aku takut di permalukan untuk kedua kalinya. “mamaaa…”sekali lagi rintihan kecilku menghantar aku menuju ke panggung.

Suasana agak tegang. Semua yang hadir memperhatikan aku dengantatapan tajam. Telinga mereka menagih sesuatu dari bibirku, sementara wajahku memerah, dikepalaku seperti ada sesuatu yang hendak meledak dan darahku mengalir lebih cepat dari biasanya.

Dengan segenap keberanian yang tersisa aku mulai mencurahkan seluruh isi hatiku. Dengan air mata yang berlinang aku meneritakan semua yang menikam hatiku dengan kejam, menyiksa batin dan pikiranku, aku menceritakan semua kesedihan, ketakutan dan juga terima kasihku yang sangat dalam untuk opa tercinta.

Wajah mereka semua yang hadir menampilkan iba lewat tangis haru dan gelengan kepalanya. Sementara opa hanya mampu tertunduk dan menangis penuh kesedihan. Mereka semua tercengang mendengar dan menyaksikan aku yang berbicara seadanya. Aku merasakan air mata meraka merayap di tanah mendekati aku dan membelai-belai tubuhku. Mereka semakin mengiba, waktu dengan tangis yang sengaja kutahan aku berkata; “adakah duka kalian seperti dukaku? aku telah kehilangan ibu untuk kedua kalinya. Sekarang hanya opa yang aku miliki. Ijinkan aku menjaga dan menemaninya. Ijinkan aku membalas cintanya yang begitu besar atasku, ijikan aku…” tak tertahan lagi, aku meraung-raung dan berlari memeluk sang opa. Aku meminta maaf telah membuatnya menangis. Sejak aku mengenalnya, tak pernah kumelihatnya sepilu itu kecuali saat kepergin mama. Aku tahu, opa merasakan pahitnya menjadi aku hanya saja ia tak pernah ingin melihatku layu. Wajah tua berlinang air mata itu menatap aku kemudian mendekap kuat tubuhku.

Decak kagum, haru, iba dan riuh tepuk tangan memenuhi kemah pesta itu. Ada kelegaan di hatiku bahwa aku bisa mengatakan yang sejujurnya. Suaraku tak lagi dibungkam statusku dalam keluarga, jiwaku berseru-seru tentang kebenaran di hatiku.

Tepat. Kehidupan ini adalah sebuah panggung. Aku hanya perlu tampil sebagai aku

“Mamaaa…” wajah wanita itu tersenyum di bayangku.


Gregoriana S. Kedang, kelahiran Lamalera Lembata, mahasiswi Universitas Indraprasta  PGRI Jakarta. Tinggal di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here