MALIN, MORPHEUS, ULAR DERIK DAN CERITA PANGERAN KODOK, Cerpen Venansius Pea Mole

0
7

*) Venansius Pea Mole

Malin tidak tidur semalaman. Mimpi-mimpinya selama tiga hari terakhir membuatnya risau dan susah tidur. Firasatnya mengatakan akan terjadi suatu peristiwa yang maha dahsyat.

Tiga hari yang lalu, Malin bermimpi didatangi seorang pria tua yang usianya kira-kira lebih dari seabad. Wajah pria itu penuh kerutan karena dimakan usia. Kumis, janggut dan rambutnya seputih salju, dan matanya begitu tenang dan dingin seperti sebuah sendang di pedalaman. Hidungnya mancung, bibirnya kelabu dengan deretan gigi putih yang berbaris rapi. Pria berbadan tegap itu mengenakan jubah kebesaran raja-raja dan memperkenalkan dirinya sebagai Morpheus. Nama yang sangat aneh bahkan sangat asing juga langka di telinga Malin.

Morpheus berpesan agar Malin jangan pernah sekalipun menyangkal ibu kandungnya kalau ia tidak ingin mengundang kemarahan dari langit.

Pesan Morpheus terngiang-ngiang di telinga Malin. Ucapan Morpheus tersebut sangat menganggu pikirannya. Ia bingung dan takut mengungkapkan kebenaran mengenai jati dirinya. Sudah terlanjur ia mengaku kepada kekasihnya bahwa ia seorang anak yatim piatu. Ia Kepalang malu harus mengakui bahwa ia anak dari seorang janda miskin.

Sebenarnya hal tersebut tidak akan menjadi persoalan besar, kalau kekasihnya tidak mengajak dirinya berlibur ke sebuah pulau yang merupakan tanah kelahirannya.

“Kenapa mesti ke tempat itu? Mungkinkah ini takdir?” gumam Malin.
Malin terlihat gelisah dan penuh kebingungan.
“Bagaimana ini, besok rahasiaku akan terbongkar semua. Aku harus mencari cara apapun agar kekasihku, para pelayan serta pengawal yang berlayar esok tidak mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Tapi bagaimana?”

Malam terus merangkak pelan. Rembulan tampak pucat pasi karena ditutupi awan-awan kelabu. Dalam kesenyapan tiba-tiba terdengar suara serupa suara mendesis.

“Sssttttttt…, jangan takut. Menyangkal ibumu tidak akan membuatmu jadi batu. Sssttttttt.”
Malin tiba-tiba terhenyak.
“Siapa itu!” teriak Malin.
“Sssttttttt…, aku bukan siapa-siapa Malin. Sssttttttt.”
“Tunjukan rupamu atau kupanggil pengawal meringkus dirimu.”
“Sssttttttt…, ini aku Malin. Lihatlah ke arah jendelamu.”

Secepat kilat Malin memalingkan wajahnya ke arah jendela yang sedang terbuka. Di salah satu helai daun jendela tampak seekor ular derik dengan mata hitam pekat, bersisik coklat  berkilauan, dengan lidah merah bercabang yang menjulur-julur sedang bergantungan sambil menatap tajam ke arahnya. Sesekali ular derik itu menyeringai memamerkan sepasang taring runcingnya yang melengkung seperti sabit.

“Engkaukah yang tadi berbicara wahai mahluk melata menjijikan?”
“Sssttttttt…, iya Malin, itu aku. Janganlah engkau terkejut. Sssttttttt.”
“Wahai mahluk melata nan menjijikan, dari neraka manakah engkau merayap? Mengapa engkau mengusik ketenanganku? Apakah engkau sudah bosan hidup dan ingin dipentung?”
“Sssttttttt…, tenang Malin, tenang. Sssttttttt.”
“Wahai ular, utusan darimanakah engkau? Utusan dari para dewa-dewi atau utusan dari kegelapan?”
“Sssttttttt…, aku tidak diutus oleh siapa-siapa. Aku ada di dalam dirimu. Aku merayap dari jurang terdalam dan tergelap di dalam hatimu. Sssttttttt.”
“Katakan apa maumu? Gerangan apa yang membawamu berjumpa denganku?”
“Sssttttttt…, aku datang menghiburmu. Aku datang menjawabi mimpi-mimpimu. Sssttttttt.”
“Apa maksudmu?”
“Sssttttttt…, tak usah engkau gelisah dan ketakutan dengan mimpi-mimpimu. Menyangkal ibumu tidak akan membuatmu jadi batu. Tidak menjadi batu selamanya maksudku. Sssttttttt.”
“Jadi aku akan berubah jadi batu jika aku menyangkal ibu kandungku esok?”
“Sssttttttt…, iya Malin. Tapi itu hanya sementara, hanya beberapa jam saja. Aku akan melindungimu dari kutukan itu. Dan setelah itu engkau akan terbebas dari segala belenggu kekhawatiranmu yang tertakdir dilahirkan oleh seorang janda miskin. Ini seperti sulap. Begitu engkau tidak menjadi batu selamanya, engkau terbebas dari perasaan bersalah kepada ibumu. Engkau akan hidup bahagia. Sssttttttt.”
“Bagaimana jika aku menjadi batu selamanya?”
“Sssttttttt…, tenang Malin, tenang. Engkau harus percaya kepadaku.  Aku sudah banyak menangani perkara-perkara yang serupa dengan perkaramu. Sssttttttt.”
“Perkara yang bagaimana maksudmu?”

“Beberapa waktu lalu aku menangani kasus seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor kodok. Kini ia telah hidup bahagia setelah beberapa waktu hidup menjadi seekor kodok. Pangeran itu melakukan kontrak denganku untuk menghapus kutukannya. Kini ia telah menjadi raja dan hidup berbahagia dengan kekasihnya di kerajaannya.”

Malin duduk diam sambil termenung. Ia memang pernah mendengar kabar angin tentang cerita seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor kodok dan kemudian berubah kembali menjadi manusia dan menjadi raja di negerinya.

“Tetapi ia hanya dikutuk menjadi seekor kodok dan aku akan dikutuk menjadi batu,” sambung Malin penuh keraguan.
“Sssttttttt…, tenang Malin. Soal kutukan tidak perlu engkau risaukan. Itu adalah bagianku, urusanku. Seorang bisa dikutuk menjadi apa saja, menjadi cacing, menjadi pohon, atau menjadi tahi sekalipun. Yang terpenting adalah setelah engkau dikutuk, engkau bisa segera menjadi manusia. Sssttttttt.”
“Apakah engkau punya mantra untuk membatalkan kutukannya?”
“Sssttttttt …, aku tidak punya mantra untuk itu.”
“Setan…, bangsat…, engkau menghendaki aku jadi batu rupanya.”
“Sssttttttt…, tenang Malin, tenang. Aku belum selesai berbicara. Sssttttttt.”
“Kalau begitu bagaimana cara membatalkan kutukannya?”
“Sebuah pelukan, Malin. Hanya sebuah pelukan dari kekasihmu.”
“Semudah itu?”
“Ya, semudah itu, Malin. Gampang bukan?”
“Bagaimana jika kekasihku tidak memelukku?”
“Sssttttttt…, tenang Malin. Bukankah kekasihmu sangat mencintaimu?”
“Iya. Ia tidak mungkin dapat dapat hidup di dunia ini tanpa diriku.”
“Kalau begitu apa yang engkau ragukan?”
“Baiklah kalau begitu. Besok aku akan menyangkal ibu kandungku, bukan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali tetapi berkali-kali,” jawab Malin penuh kemantapan.
Ular derik mendesis puas. “Sssssstttttttttt.”

“Besok ikutlah denganku. Bersembunyilah engkau di balik jubahku.”

Malam kian beranjak pelan. Cahaya Rembulan telah sirna karena ditutupi oleh serombongan awan hitam pekat. Sang ular derik merayap meninggalkan Malin, merayap membelah malam kemudian hilang dari pandangan mata.

*****
Perahu mewah Malin telah bersandar di pelabuhan tanah kelahirannya. Mendengar cerita kerumunan orang di pasar bahwa pemilik perahu mewah tersebut bernama Malin, seorang wanita tua berkebaya lusuh, kusam dan penuh sobekan dengan langkah tergopoh-gopoh berlari menuju arah pelabuhan.

Begitu tiba di pelabuhan, betapa gembiranya hati wanita tua itu ketika melihat seorang pemuda gagah nan rupawan yang berdiri tegak di tengah lambung perahu. Ia sangat kenal pria itu seperti ia mengenali kedua belah telapak tangannya sendiri.

Tanpa ragu, wanita tua itu berusaha sekuat tenaga mencapai lambung Perahu. Setibanya di atas, ia melemparkan tubuhnya ke arah Malin untuk memeluknya.

Malin berpura-pura kaget melihat ibunya, kemudian ia sengaja memiringkan tubuhnya ke samping agar terhindar dari pelukan wanita tua itu.

“Siapakah engkau wanita tua!?” hardik Malin pura-pura bertanya.
“Oh…, Malin anakku. Lupakah engkau pada ibumu yang renta ini?” jawab wanita tua itu berderai air mata.
“Aku tidak mengenalmu wahai wanita gila.”
“Ohhh…, Malin anakku. Lihatlah dan ingatlah baik-baik wajah ibumu ini, nak.”

Malin memalingkan wajahnya. Tidak sekalipun ia menatap wajah wanita tua renta di hadapannya.
“Pegawal. Seret dan lempar wanita tua gila ini dari kapal!” perintah Malin kepada para pengawalnya.
“Wanita gila ini mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku.”

Para pengawal Malin bergegas cepat menggandeng kedua lengan wanita itu dan kemudian menghempaskanya keluar perahu.

“Engkau bukan ibuku. Ibuku sudah lama mati,” teriak Malin dari atas perahu.
“Malin…, anakku, lupakah engkau padaku? Oh…, Malin anakku, putera kesayanganku, putera semata wayangku,” teriak wanita tua itu dengan suara parau sambil terduduk dan menangis di atas pasir.

“Sudah kukatakan bahwa aku bukanlah anakmu. Memohon seribu kali pun, aku tetap bukan anakmu wanita gila.”
“Kakanda, benarkah dia ibumu? Bukankah kanda pernah bercerita kalau ibunda kanda telah lama meninggal?” tanya kekasih Malin.
“Bukan dinda. Ia hanya seorang wanita tua gila yang ingin mengemis. Tak usah dinda hiraukan. Di jaman sekarang banyak penipu yang berkeliaran.”
“Malin…..oh Malin, sungguh teganya dirimu nak,” teriak wanita tua itu di tepi pantai. Hatinya pilu, teriris-iris, mendengar ucapan anak semata wayangnya itu.

Dengan langkah yang terseok-seok, wanita tua itu berjalan gontai menuju gubuknya. Air mata membasahi jalan setapak yang dipijaknya.
“Oh…, Yang Maha Agung pemilik semesta raya. Di hari-hari tuaku kenapa Dikau anugerahkan sepasang mata yang kalah. Sungguh aku sangat berdosa jika pria gagah nan rupawan di perahu itu bukanlah puteraku tercinta. Dan jika ingatan tuaku ini ternyata menipu kedua mataku Yang Maha Agung, maka ampunilah keserakahanku. Aku terlalu serakah berdoa di ribuan siang dan ribuan malam agar dapat bertemu lagi dengan puteraku yang tercinta. Oh…,Yang Maha Agung, jika kasih seorang ibunda membuatnya dapat mengenali puteranya dimana pun ia berada, maka tunjukan keajaibanmu kepada puteraku yang tercinta di sana. Tunjukan keajaibanmu bahwa pikiran, perasaan, dan kerendahan hatinya yang telah membatu dapat mengubah raganya menjadi batu pula.”

Langit yang cerah seketika menjadi gelap gulita. Petir dan guntur menyalak keras seolah sedang bertengkar di atas awan. Hujan Lebat disertai angin bertiup kencang mendatangkan ombak besar yang mengguncang-guncang perahu Malin.

“Hmmm…, mungkin ini tanda-tandanya, “ batin Malin.
“Tenang Malin, tenang, karena aku akan melindungimu” bisik ular derik yang bersembungi di balik lengan jubah Malin.
“Aku tidak takut,” jawab Malin jumawa.

Tiba-tiba sebuah petir jatuh di atas kepala Malin.
Blarrrrrrr.
Tubuh Malin langsung roboh kemudian mengejang-ngejang beberapa saat. Tubuh Malin tidak membatu tetapi menghitam, gosong, hangus, dan menebarkan aroma daging terbakar.

Seketika suasana di atas perahu menjadi panik. Para pengawal, pelayan, dan juga kekasih Malin berhamburan melarikan diri, menyelamatkan dirinya masing-masing. Ular derik yang sedari tadi bersembunyi di balik lengan jubah Malin juga ikut melompat secepat kilat dan masuk ke dalam pasir di pantai.

“Sialan, aku tertipu. Seharusnya dari awal aku menyadari bahwa ular adalah musuh bebuyutan dari kodok,” ucap Malin sebelum menghembuskan napas terakhir.
Ular derik merayap pelan ke balik karang. Di antara rongga-rongga karang sepasang mata hitam pekatnya menatap puas.


Venansius Pea Mole, peminat sastra dan tinggal di Bajawa.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY