KIDUNG MEMPELAI, Sajak Joan Udu

0
121

*) Joan Udu

KIDUNG MEMPELAI
 —untuk sepasang mempelai: kakak Olyyen dan kakak Willy 

Kidung 1:
Kita seperti sepasang burung gereja,
selalu berkisar di satu ranting cemara.

Tuhan mempertemukan kita di waktu
yang tepat—agar kita semakin tahu
bagaimana menaruh janji pada keabadian,
dan menyusunnya dalam sepenggal roman:
itulah yang kita sebut ‘kasmaran’.

Kidung 2:
Masih belum kusadari, zat-zat penyebab
kasmaran susuri sel-sel tubuh kita, lalu
merupa jadi debar; dan di dada kita
ia tak tertahankan. Ia tumbuh
jadi gelegar yang keras.

“Selamat datang”, katamu
dan tahu: dag-dig-dug-dag di dadaku
sengit berkejar-kejaran.

Tapi kau, di kedua matamu
sebuah nada memagut: damai,
tiada sedikit pun ragu.

Lalu, kita berkhalwat—berpaut
dan kunang-kunang di mata kita meruap
“Kita seperti sepasang burung gereja”, katamu.

Kidung 3:
Angin membawa tetangkai rindu kita
yang pernah patah, yang tumbuh kembali,
di seputar mezbah ini. Tuhan menjahit
ujung-ujungnya, mengikat patahan-patahannya,
dan kini mekar jadi janji (jadi berkat yang likat,
yang tinggal tetap di hati kita).

Di mezbah ini—begitu anggun, kita
mengekalkannya sebagai kenangan: sebagai
rumah yang ramah hingga penghabisan.
Kita kemudian menamainya: kesetiaan.

Sukabumi, 10 Juli 2017.


Joan Udu, Saudara Dina, kini menjadi redaktur Jurnal Filsafat Driyarkara, tinggal di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here