Hakekat Sastra Di Media Sosial, Sebuah Perspektif

0
44

*) Yohanes Berchemans Ebang

Media Pewarta Teknologi Informasi Indonesia (MPTII, 2013), melaporkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95% menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Menurut Selamatta Sembiring, (MPTII, 2013), jejaring/media sosial yang sering diakses masyarakat Indonesia ialah Facebook dan Twitter, sehingga Indonesia mendapatkan peringkat ke-4 pengguna internet terbesar di dunia setelah USA, Brasil, dan India. Selain relasi, interaksi dan komunikasi dalam masyarakat berlangsung cepat, dan penyebaran informasi yang cendrung masif, dampak lain dari kehadiran jejaring sosial tersebut adalah berseliwerannya karya-karya sastra di media social. Siapa saja bisa bersastra, siapa saja boleh mengakses dan menggauli karya-karya sastra itu kapan saja. Tidak ada pihak yang berkuasa mengkurasi apalagi menilai dan menimbang karya-karya tersebut sebelum terpublikasi.

Situasi tersebut, tidak hanya menghadirkan peluang bersastra yang maha bebas, lapang dan luas, namun (mungkin) di sisi lain, situasi yang demikian ‘menggalaukan’ ilmuwan sastra  konservatif yang berpengang teguh pada tradisi bersastra konvensional. Bahwasanya, sebuah karya sastra harus melewati proses kreaasi yang tidak instan, melewati proses kurasi yang tidak serampangan serta harus memenuhi berbagai kaidah dan kriteria sastra. Sementara media sosial tak mengenal proses dimaksud. Lantas, muncul pertanyaan; apakah karya-sastra di media sosial layak disebut karya sastra? Lalu, kriteria atau batasan mana yang mesti dipakai untuk menjustifikasi karya-karya sastra di media social?

Tulisan ini tidak bermaksud menjawabi pertanyaan-pertanyaan di atas, tetapi lebih merupakan sebuah perspektif atau paradigma berpikir untuk meneropong karya-karya sastra yang berseliweran di media sosial. Sebagai bentuk pertanggungjawaban logis, penulis membangun perspektif ini mulai dari pandangan Irene Hilgers, perdebatan kritikus santra Indonesia hingga dalil teoritisi sastra Eropa (structural-kontenpoter), kemuduan ditutup-ikat dengan simpul terbuka berdasarkan konsepsi kebersastraan versi Roland Barthes dan Leo Tolstoy.

***
Irene Hilgers, seorang kritikus sastra berkebangsaan Jerman mengungkapkan bahwa sebuah karya sastra sifatnya sangat terbuka. Terbuka untuk dinilai dan dikritik sesuai dengan sudut pandang sikritikus. Berkaitan dengan itu, Irene Hilgers kemudian berdalil bahwa karya sastra (sebagai teks) dapat dinilai atau dianalisis melalui dua metode. Pertama, metode Konteks Ekstratekstual yang menganalisis karya sastra berdasasarkan aspek-aspek yang tidak berkitan dengan linguistik (bahasa). Kedua, metode Konteks Intratekstual yakni membuat analisis terhadap karya sastra berdasarkan aspek linguistiknya (Wahyu Wibowo: 1984, hal. 89),

Perkembangan selanjutnya, dalam gelanggang Kritik dan Analisis Sastra Indonesia, ada berbagai perdebatan dan selisi paham antara para kritikus sastra. Dua di antaranya adalah: pertama, perdebatan terjadi dalam pertemuan Sastrawan Indonesia II tahun 1974. Pada saat itu ada silang pendapat dan saling balas komentar antara Satyagraha Hurip dan A. A. Navis dalam membaca dan memaknai novel PSK (Pada Sebuah Kapal) karya Nh. Dini. Perdebatan dan silang pendapat itu terjadi dikarenakan adanya perbedaan prinsip dan latar belakang sosio-kultural kedua kritikus dalam membaca PSK. (Hoed, 2011). Perdebatan tersebut tidak hanya disebabkan oleh perbedaan dalam hal mengidentifikasi unsur intrinsik sebuah karya sastra (seperti latar, tokoh dan penokohan, serta alur cerita) tetapi juga dalam mengidentifikasi apa yang ada di luar karya sastra (ekstrinsik) seperti maksud pengarang, simbolisme, gaya cerita dan sebagainya.

Kedua, perdebatan antara kritik(us) sastra aliran Rawamangun dan kritik(us) sastra aliran Ganzheit. Kedua kubuh saling mengklaim kebenaran tentang mana sastra yang baik dan mana sastra yang buruk, mana kritik dan analisis sastra yang bermutu dan mana yang tidak.. Aliran Rawamangun yang beranggotakan akademisi Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang menekankan objektivitas dalam kritik, sementara aliran Ganzheit memaklumkan prinsip subjektivitas sebagai cara yang paling jitu dalam melakukan kritik. Aliran Rawamngun menekankan struktur dan libisan yang membangun sebuah karya (strukturalis) sementara kritik dan penilaian sastra aliran Ganzheit terkontaminasi ‘susasana hati’ kritikus dan cendrung like and dislike. Landasan dan metode kritik menjadi perbedaan mencolok dalam kedua aliran ini. (Wibowo, 1984: 45). Di Indonesia hingga saat ini, perdebatan-perdebatan senada juga masih terjadi walaupun masih di lingkungan dan lingkaran para penikmat sastra. Dalam berbagai diskusi-diskusi sastra, festival-festival dan temu sastrawan serta dalam publikasi artikel-artikel kritik sastra akhir-akhir ini dapat terdeteksi perdebatan tersebut. Perdebatan antara ilmuwan sastra (dosen/pengajar sastra) dengan kritikus sastra di luar lingkungan keilmiaan sastra (filsafat, antropologi sosiologi, ilmu komunikasi dan sebagainnya).

Sementara dalam skala internasional, pada tahun 2005 Raman Salden, Peter Widdowson dan Peter Brooker membuka cakrawala berpikir baru dalam hal membaca, menganalisis dan memaknai karya-karya sastra lebih kontemporer dengan merefisi buku A Reader’s Guide, 1985 (edisi perdana) dan tiga kali merefisi buku yang sama serta kemudian menerbitkan A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fifth Edition (2005). Buku tersebut berisi konsep-konsep baru seperti New Criticism, moral formalism and F. R. Leavis, Russian formalism and the Bakhtin School dan belasan artkel lainnya yang menyajikan gaya analisis structural-kontemporer terhadap karya sastra seperti  yang diuraikan oleh Barthes, Derrida, Foucault, Lacan, Althusser, Kristeva dan beberapa ilmuwan lainnya.  Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Pearson Longman yang memiliki kantor perwakilan pada dua puluh kota di dunia.

Pada pengantar buku tersebut, ketiga orang penyunting berdalil bahwa; pertama, ketika tahun 1985 Raman Salden (salah seorang penyunting) menulis dan menerbitkan  A Reader’s Guide (sebagai edisi pertama dari A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fifth Edition), banyak konsep-teoritis yang mengalami perubahan drastis. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh keterjebakan kebanyakan filsuf yang mengklaim diri sebagai pemegang kendali dalam menilai dan mengeritik sastra, hinggga bereka kemudian berdalil bahwa sastra yang baik dan benar adalah yang universal dan menyatakan kebenaran umum tentang kehidupan manusia. Lantas kritikus tersebut berbicara dengan bebas, aman dan nyaman prihal pengalaman pribadi penulis, rasa nyaman sastrawan, latar belakang sosial dan sejarah, pekerjaan, kepentingan manusia, imajinatif ‘jenius’ dan keindahan puitik sastra.  Sementara tentang baik atau buruk suatu karya, tidak ada patokan teori yang paten serta generalisasi  yang baku tentang bidang kritik sastra yang benar nan sistematis sebagimana yang berkembang beberapa tahun belakangan yang ternyata cukup mengusik konsensus akal sehat mahasiswa sastra yang sebagian dari mereka berasal dari Eropa terutama intelektual Perancis dan Rusia (halaman 1-2).

Kedua,  sejak penerbitan edisi pertama tahun 1985, terjadi kemajuan studi sastra yang semakin signifikan hingga perdebatan teoritis yang cendrung mengesampingkan ‘pesan tekstual’  dan  menyepelehkan pembaca, dan kegiatan  membaca sebagai kegiatan yang tidak bersalah. Pesan tekstual yang sebenarnya merupakan hasil dari usaha mandiri pambaca dan pemahaman tentang posisi kritikuas (sebagai pembahas dan penjelas pesan), tidak disadari secara benar oleh para kritikus. Situasi selama dua dekade terakhir yang disebut “Moment of Theory” sudah saatnya berali kepada prinsip “Post-Theory. Bahwa (pesan) karya sastra tidak hanya dipamai dalam konteks teori yang kaku tetapi juga dalam konteks sosial dan atau fakta sosial (halaman 4).

***
Gambaran dua situasi di atas (Perdebatan antara kritikus sastra di Indonesia dan dalil revisi dan penerbitan A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fifth Edition, 2005) memberikan celah atau peluang untuk menoropong karya-karya sastra (Indonesia) yang berseliweran di media sosial. Karya-karya sastra di media social walaupun bukan diterbitkan dan kemudian beredar dalam media-media konvensional seperti, buku, jurnal dan surat kabar (yang terkurasi), namun harus diakui bahwa karya tersebut sudah terkonsumsi oleh piblik.

Untuk itu, salah satu jalan atau kerja lanjut sebagai bagian dari pembacaan adalah memaknainya sesuai koteks pembaca. Berkaitan dengan itu, dalil Roland Barthez tentang sastra sebagai ‘pesan yang belum selasai’, menarik menjadi pegangan sekaligus sebagai acuan kritik. Dalil Barthes tersebut merupakan semacam ajakan bagi para pembaca (pembaca sastra di media sosial) baik pembaca awam, ilmuwan maupun kritikkus sastra untuk memaknai karya sastra (pesan) dimaksud. Pada titik ini, pembaca tidak punya kuasa kritis untuk menentukan baik-buruk suatu kaya, namun lebih penting dan utama adalah bagaimana karya-karya itu diterima, dianalis dan dimaknai.

Sebagai jalan pemaknaan, argumentasi Leo Tolstoy bahwa Seni (sastra) merupakan bagian penting dari peradaban manusia menarik untuk dipakai sebagai pegangan pembaca. Sehingga baik penulis, pembaca maupun masyarakat umum sadar akan eksistensi seni (termasuk sastra). Lebih lanjut, Leo Tolstoy dalam sebuah literaturnya, On the Significance of Science and Art, khususnya pada Bab IV dan V (The Literature Network), menegaskan eksistensi ilmu pengetahuan dan seni dalam panggung kehidupan sosial umat manusia. Bahwa ilmu pengetahuan dan seni adalah pemegang kendali peradaban dunia. Keduanya tampil sebagai ‘pelayan’ bagi diri sendiri serentak dan penting menjadi ‘hamba’ bagi manusia. Ilmu pengetahuan dan seni sangat penting bagi manusia. Bagai makanan rohani dan jasmani, seperti nafas dan udara. Laksana air yang terus mengalir, menghidupi dan merawat manusia. Merawat jiwa dan raga. Karena itu, keduanya patut untuk selalu berdampingan dengan manusia.

Oleh karena itu, hakekat dari karya-karya sastra di media sosial dapat diteropong dengan menggunakan dalil dan konsep yang demikian. Membendung dan menjustifikasi karya-karya sastra di media soisal perihal baik-buruk, layak dan tidak layak adalah kerja yang sia-sia. Sehingga benar apa yang dikatakan Barthes bahwa karya-karya itu setelah terpublikasi, pengarangnya mati – sejak saat itu karya-karya terlepas dan menentukan nasibnya sendiri, Nasib itu ada di tangan pembaca. Pembaca punya kuasa untuk menentukan. Tidak semata dalam tataran konseptual-teoritis, tetapi lebih dari itu, kemanfaatan dan kebergunaan dari karya-karya tersebut, baik secara individual maupun sosial-kolektif. ***


Yohanes Berchemans Ebang Esais dan penikmat sastra. Kuliah di Prodi llmu Komunikasi di FISIP Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Dapat terhubung melalui surat elektronik  hans-ebang@yahoo.com atau di lingkaran pertemanan sosial facebook Hans Ebang (Yohanes Berchemans Ebang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here