Lelaki Pemikul Sunyi, Cerpen Rio Nanto

0
74

*) Rio Nanto

“Jangan panggil aku Bernard, tetapi lelaki sebab lelaki mencintai seorang wanita hanya satu kali”, demikian tulisanBernard di status facebooknya. Sejak dia ditinggalkan oleh kekasihnya dia menjadi lelaki yang takut dengan senyuman setiap wanita. Kini dia menjadi seorang lelaki maya. Setiap hari dia hanya bersemedi sendiri dari pagi hingga malam tiba. Baginya jika seorang wanita terlanjur menyentuh inti jantungnya, mereka yang datang kemudian hanyalah sebuah kemungkinan-kemungkinan.

Seorang wanita bernama Helena mengomentari statusnya “Wahai lelaki sunyi. Wanita mencintai seorang lelaki pada kesempatan kedua setelah tiada”. Awalnya dia hanya menyukai status itu tetapi terbersit harapan di hatinya berhenti jatuh cinta lagi.

Dengan senyum dia membalas komentarnya “Ketika seorang lelaki patah hati, dia tak bisa mencintai seorang wanita untuk kedua kalinya. Dia hanya ingin mencintai sunyi dan sepi.

# # #

Bernard, seorang lelaki yang pandai dan berperawakan yang menawan. Dia bekerja di salah satu kantor Pemerintahan. Jabatanya yang terakhir adalah sekretaris Kepala Dinas Kelautan. Ada begitu banyak wanita yang mengaguminya. Tetapi dia berusaha untuk dewasa berhadapan dengan cinta di usinya yang masih dibilang muda. Apalagi dia masih menyekolahkan adik perempuanya yang mengambil jurusan Kesehatan di UGM Jakarta. Baginya, menyekolahkan adik semata wayangnya adalah suatu doa tanpa merapal kata. Sejak kedua orang tuanya pergi, dia menjadi tulang punggung keluarga.

Di kantor dia berkenalan dengan seorang wanita. Awalnya dia memilih dewasa dalam tutur kata. Tetapi keseringan berjumpa membuat dia tak mampu menipu dirinya sendiri. Seorang wanita yang meluluhkan keperawanan hatinya adalah teman kantornya sendiri. Wanita itu bernama Julia. Dia sederhana dan bersahaja. Setiap hari dia rela menjemput dan mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya. Di akhir pekan mereka selalu menghabiskan malam minggu di tepi pantai. Saat itu mereka bercanda di bawah bulan sambil menghitung ombak yang memecah kesunyian dan kedinginan.

Perjumpaan yang kian dekat membuat mereka selalu rindu untuk bertemu setiap waktu. Ketika mengalami kesulitan bekerja, mereka selalu mencari jalan keluar bersama. Kedekatan itulah yang membuat mereka tak pernah berhenti untuk mencintai.Pernah suatu waktu ketika musim hujan bulan Januari kembali, di serambi pantai mereka berjanji untuk menikmati honeymoon di suatu pulau sendiri. Mereka menyiapakan kapal dan menyepi untuk sementara waktu. Hayalan itu terkadang membuat mereka menghabiskan malam dengan keceriaan dan kehangatan. Mereka juga pernah berjanji untuk memiliki anak hanya dua saja yakni lelaki dan perempuan. Menurut  Bernard jarak kelahiran keduanya cukup satu tahun.

“Ilmu kedokteran sekarang, sayang bisa mengatur jenis kelamin anak kita”, demikian Bernard sambil mengurai rambut Julia di dadanya.
“Sayang, aku takut memiliki anak”, guman Julia sambil berdiri membelakangi Bernard.

Bernard tertegun. Dia tak pernah melihat Julia berdiri seorang diri ketika mereka duduk. Biasanya ketika mereka bercengkrama bersama, mereka juga berdiri bersama. Menurut mereka itulah latihan hidup berkeluarga bahwa harus bersama duduk ketika mengalami persoalan dan berdiri bersama menatap matahari baru.

“Julia, mengapa engkau tidak menghembus nadiku untuk mencintaimu abadi?”, kata Bernard pada Julia yang tiba-tiba meneteskan air mata.
Julia memeluk Bernard dengan rangkulan yang hangat dan kuat.
“Sayang. Jangan bertanya mengapa. Setiap wanita memiliki satu jawaban yang menolak diberi pertanyaan. Kelak kau tahu. Jangan berhenti memeluk aku, Bernard. Aku takut sendiri ketika bumi semakin sepi”, air mata mengekalkan pelukan Julia.

Bernard semakin bingung. Tak biasanya Julia menjatuhkan air mata. Ini adalah tangisan pertama yang membasahi kerinduannya memiliki anak.
“Ketika aku mencintaimu di awal hari. Aku akan selalu ada walaupun bumi kian sepi dan sunyi. Ada untukmu adalah adaku yang abadi”, bisik Bernard sendu.

Tak ada ruang untuk udara bersuara ketika Julia merapat dekat di dada Bernard. Inilah pelukan yang paling agung bagi sepasang kekasih yang sudah menua dalam cinta dan air mata.

“Apakah masih ada rindu ketika pagi tak pernah kembali di ujung kalender?”, tanya Julia mengiba.
“Sebelum Adam ada aku telah lama mencintaimu. Engkaulah melati yang membuat aku menjadi seorang lelaki yang tak pernah takut memikul mentari dan menyuruh bulan kembali pada malam yang panjang”.

# # #
Hari-hari membakar sukacita kedua Insan, Julia dan Bernard dalam suatu pernikahan suci di Katedral kota. Seluruh perayaan dan resepsi ditanggung oleh keluarga Julia yang terpandang di kotanya. Sementara Bernard hanya seorang diri. Orang tuanya telah pergi sejak mereka masih kecil. Adiknya, Sesilia tak hadir dalam pesta katanya sedang sibuk mengurus skripsi.

Keesokan harinya ketika perayaan usai, Julia dan Bernard mempersiapkan diri menikmat honeymoon di suatu pulau yang kecil. Jaraknya tidak jauh dari bibir pantai. Pulau itu menjadi pilihan keduanya ketika mereka masih pacaran. Menurut keyakinan penduduk asli pulau itu selalu membawa berkat bagi pasangan baru. Hampir pasti bahwa leluhur pulau itu memberikan keturunan laki-laki sebagai anak sulung dan perempuan sesudahnya.

Aroma pantai dan desahan rerumputan pulau itu seakan menjadi pelaminan baru bagi mereka. Ketika matahari masih mengintip di celah-celah ombak, keduanya berlari-lari di atas pasir. Mereka tampak begitu bahagia menikmati kesunyian dan kesendirian di pulau. Pada malam itu juga mereka menikmati suatu adorasi yang agung ketika gelas-gelas kaca kehilangan kata mereguk anggur kana dalam kantong yang baru. Ada desahan suci ketika kedua kitab dibuka pada bulan yang pertama. Di bawah langit yang sama keduanya berubah rupa menjadi pelangi yang bisa menguraikan warnanya pada malam hari.

Ketika pagi kembali Bernard berlari menjemput matahari. Ada sukacita ketika malam bening di atas lengan yang panjang. Sementara Julia melipat jarak dengan kursi dan kaca. Ada tangisan yang tak sempat diucapkan mengenang duka yang abadi nanti.

# # #
Julia makin kurus dan kusut. Ada sejuta harap di kening Bernard karena kekasihnya sedang mengandung seorang putra menurut legenda pulau itu. Lagian sebelum berbulan madu keduanya mengunjungi dokter kandungan untuk mencari informasi tambahan tentang bulan madu. Pernah suatu kali Julia menginginkan telur dadar buatan mama. Telur itu harus dibuat pada jam tiga sore. Bernard dan mamanya Julia tampak girang dan membuat telur itu sebelum jam tiga petang.

Tetapi bulan-bulan berlalu Julia takkunjung mengandung. Berdasarkan hasil pemeriksaan di dokter kandungan, Julia masih negatif kehamilan. Sementara Badan Julia makin kurus. Melihat itu, Ibunda Julia hanya menangis. Dia ingat ketika Julia masih kecil tetapi dia tidak menangis di depan Bernard dan tidak menceritakan masa kecil Julia.

Ketika keadaan Julia semakin marah dan nafsu makan mulai menghilang, Bernard meminta mertuanya untuk mengantar Julia ke Rumah sakit. Pada malam itu, mereka mengantar Julia ke rumah sakit. Kepala Rumah Sakit memeriksa keadaan Julia di UGD. Ada suatu keanehan dalam diri Julia. Kemudian pada malam itu juga, Julia dibawa ke ruang persalinan untuk diperiksa kandunganya.

Awalnya dokter lelaki muda itu menanyakan banyak hal kepada Julia tetapi ketika melihat hasil pemeriksaan, dia menjadi tidak percaya. Dia heran karena di usianya yang masih muda, Julia menderita suatu penyakit yang langka.

Dengan penuh rasa iba, dia melaporkan kepada Bernard dan orang tua Julia bahwa bukan bayi yang ada di kandungannya tetapi penyakit Shiorphsiaxt. Suatu penyakit baru yang belum ada pengobatanya. Penyakit ini bisa disebabkan oleh keturunan. Sebenarnya benjolan itu bisa dioperasi tetapi sudah terlambat. Julia berada pada stadium akhir. Benjolan itu sudah berakar di rahimnya.  Lebih lanjut dokter mengatakan bahwa pihak Rumah sakit tidak mempu mengobati penyakit ini. Menurut perkiraan kami, nyawa Bu Julia tak bisa tertolong lagi. Hari perkabungan akan menjemputnya dalam hari-hari ini.

Mendengar itu, Bernard berteriak histerius lalu tak sadarkan diri hingga dini hari. Dia tertidur dalam ketaksadaran karena shock. Dalam keadaan tak sadarkan itu, Bernard bermimpi bertemu seorang Kakek tua yang mendiami rumah di pulau tempat bulan madu mereka.

Kakek itu berkisah, “Julia menderita penyakit itu sejak kecil tetapi dia tak menceritakan kepadamu. Julia menderita penyakit ganas yang tak mampu mendapatkan keturunan. Itulah yang membuat dia menangis ketika kamu mengimpikan seorang anak. Julia hanya menghitung hari menuju keabadian”, jelas kakek itu.

“Engkau bisa menyembuhkanya bila mencari kuburan kedua orang tuamu bersama dengan Sesilia, adikmu”, suara kakek itu semakin kecil lalu menghilang.

Setelah itu Bernard siuman. Waktu menunjukan pukul tiga petang. Tampak dia masih berada di rumah sakit. Di sekelilingnya duduk mertua dan dokter. Keadaan Julia makin parah. Tetapi, dengan sukacita dia menceritakan mimpi itu kepada mereka di ruangan persalinan. Dia mengambil HP dan membuka FB untuk mengadakan video call dengan adiknya, Sesilia. Obat yang paling ampuh adalah menyuruh adiknya pulang untuk mencari kuburan kedua orang tuanya di kampung. Dia berencana berdoa dan meminta maaf di kuburan ayah dan ibu mereka.

Hatinya kecut ketika dia melihat foto adiknya di kronologi berdampingan dengan seorang wanita yang pendarahan hebat. Di atasnya tertulis “Seorang wanita yang gagal mengaborsi bayi lalu membunuh diri karena berasal dari perkawinan yang tidak sah. RIP”. Dia berteriak lalu pingsan kedua kalinya.

# # #
Bernard menjadi lelaki sunyi dan sepi. Sejak dia ditinggalkan oleh kekasihnya dia menjadi lelaki yang takut dengan senyuman setiap wanita. Dia tak bisa mencintai seorang wanita untuk kedua kalinya. Baginya jika seorang wanita terlanjur menyentuh inti jantungnya, mereka yang datang kemudian hanyalah sebuah kemungkinan-kemungkinan.


Rio Nanto, Mahasiswa STFK Ledalero. Memiliki minat pada sunyi, puisi dan kontemplasi. Bergiat di Komunitas Kahe Maumere, Asal (Arung Sastra Ledalero) dan Teater Aletheia, Ledalero.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here