Mahar Kain Kafan, Cerpen Ferry Fansuri

0
5

*) Ferry Fansuri

Saat ini yang kupunya hanyalah waktu dan cinta, tak lebih dari itu. Kupandangi wajah Mikela yang sendu, dibalik matanya menyimpan sejuta kenangan dan rahasia. Tapi tak ada waktu untuk merenggguh kenangan itu. Kudapati ia di café kenangan yang dulu pernah kami singgahi bersama. Kenangan itu sudah puluhan tahun yang lalu tapi wajah ayu Mikela masih terpancar.

Pertemuan itu tak sengaja, setelah banyak kejadian-kejadian yang mematik hidupku. Aku sering berkeliaran di café itu, hanya sekedar menyeruput cappuchino latte atau menguyah sepotong croissant sandwich. Lama aku berada di café yang menyuguhkan irama jazz, tiap hari, minggu bahkan tahun. Aku ditakdirkan keluyuran di tempat itu, biarpun disana kita bisa memesan secangkir kopi tapi tidak untuk takdir.

Terkadang aku duduk sendirian dipojok café itu mendengarkan alunan UB40 bersenandung Falling Love With You Sebuah lagu kenangan akan dirimu, dulu kau sering kuajak kesini saat kau masih berbahu putih abu-abu. Rambutmu berkepang kelabang diletakkan jatuh bahumu, bibirmu tipis saat berucap terasa renyah hingga banyak pria ingin menggigitnya termasuk aku.

Kita hanya sepasang merpati yang kasmaran saling bercumbu diudara.
“Apakah kau mencintaiku?”
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Kau pasti bisa melihatnya jawabannya dimataku”

Kata-kata itu yang terakhir terucapkan dibibirmu, aku tak bisa melihatmu lagi. Kau terbang jauh layak kunang-kunang, kau akan dipinang pangeran seberang. Dijodohkan oleh ibumu sendiri, ibumu tak menginginkan diriku. Pelajar miskin yatim piatu bernaungkan panti asuhan, hanya beasiswa yang menyematkanku ke bangku sekolah.

Pernahku datang ke rumahmu untuk meminang engkau, yang kupunya hanyalah waktu dan cinta di dada ini. Dihadapan ibumu, kuberanikan melamarmu.

“Anak siapakah kau ini?”
“Rumah?”
“Mobil?”
“Deposito?”
“Berlian?”
“Emas?”

Mulutku terkunci, pandangan getir, tangan ini meremas celana jeans bututku. Tangan ini tak bisa meraihmu meski bibir kita saling terikat. Kita tak bisa memesan takdir. Itulah nasib kita Mikela, kau dibawa cengkraman ibumu yang tak mungkin aku tampik semenjak ayahmu tiada. Pengaruhnya menancap keras di ula hatimu, aku pulang lunglai menjadi manusia kalah tanpa perang.

Semenjak itu aku tidak tahu kabarmu dan aku masih tetap di bangku ini, memandangi neon-neon reklame diluar jendela café ini dalam rinai hujan rintik-rintik. Dibalik hingar-bingar dan lalu lalang didalam café ini aku tak terdengar, mereka tak hiraukan aku sama sekali.

Suatu malam ini hampir menyentuh ufuk dan redupnya lampu pijar, pintu itu terbuka dan dibalik pintu kutemui wajah yang tak asing bagiku.

“Mikela” suaraku lirih terperanjat
“Sudah lama sekali sepertinya”
“Kau tak banyak berubah”

Mikela bergeser duduk di sampingku, semerbak parfum yang sama saat dulu kita pertama kali bertemu. Kupandangi wajahnya lagi, wajah puluhan tahun itu tak tersirat kepedihan sedikitpun tapi terlihat membuncah bahagia saat bertemu diriku.Aku tidak bisa menebak apakah itu sebuah topeng kepalsuan atau ketulusan dari dirimu.

“Aku mencarimu sayangku”

Mikela meraih tanganku dengan lembut dan memandangi bola mataku yang hitam sepekat kopi yang tiap aku teguk tiap malam.

“Aku tahu kau pasti ada disini”
“Kau selalu kembali ke tempatmu semula disini”
Mulut mungil terus berucap manis
“Ini sudah lama sekali, Mikela”
“Kau tak berubah sedikitpun”
“Apa yang kau cari disini?”
“Kau tak akan menemukan kenangan itu disini”

Kau tetap memandang dan memegang erat tanganku seperti menjamah rembulan yang terpotong separuh itu.

“Apakah semua itu penting sekarang?”
“Aku disini sayang”

Ah..bujuk rayu itu lagi mendera diriku, kau harusnya jauh pergi dengan impian-impian ibu kamu itu. Akupun terbuai akan rayuan serta kenangan masa lalu yang membuatku teperangkap tubuh ini. Kami pun tenggelam dengan percakapan manusia yang berubah menjadi kupu-kupu di tengah malam. Terbang berkeliaran di gelap malam, hinggap satu atap ke atap lainnya. Dalam café itu mereka tak akan memperdulikan kami, mereka hanya melihat apa yang nyata bukan tersirat. Mata mereka buta oleh gemerlap dunia tanpa memperhatikan sekitar, begitu juga kami tak mereka anggap.

“Bagaimana kehidupanmu Mikela?”
“Kau bahagia?”
“Kau ibu dari anak-anak dan suamimu”
Mikela hanya tersenyum simpul dengan bibir itu kembali.
“Kau bahagia sayang?”
“Siapa yang mengisi hatimu selepas aku pergi?”
“Tak perlu kau jawab, karena aku tahu jawabannya”

Mikela menyadarkan kepalanya di bahuku dan memegang dadaku, kau seperti ingin merasakan detak jantung tapi itu sudah tidak ada tempatnya. Kau pasti tahu itu, lenyap setelah dihantam bus jahanam itu puluhan tahun yang lalu. Bahkan akupun tak ingat lagi kejadian itu.

“Maafkan aku, waktu itu aku meninggalkan engkau”
Aku hanya diam karena tak ada guna semua itu, waktu tak mungkin diputar ulang biarpun mesin waktu itu ada nyatanya. Saat kita dilahirkan ada beban yang diemban, kita bisa memilih jawaban kematian. Mau hidup normal atau bunuh diri, menang atau kalah,digerogoti penyakit atau cinta. Kata terakhir itu aku ingin jika memang bisa itu untuk diriku saja.

Matahari hampir bangun dari peraduan, mengintip-intip malu-lalu dibalik awan. Aku dan Mikela masih di café itu, mereka telah kembali ke asal tapi kami tetap disini.

“Kau masih menyimpan permintaan terakhirku dulu”
“Saat kau didepak oleh ibuku”
“Aku berlari ke arah mu dan berbisik padamu”

Aku tak akan lupa hal itu, itu masih tergiang-giang ditelingaku. Kau bisikan.
“Aku hanya minta satu hal dari kamu. Jika di kehidupan ini kita tak bersanding, kematian yang mempertemukan kita. Jika kita menikah nanti, aku hanya meminta satu mahar dan itu sebuah kain kafan. Itu saja tak lebih”  

Kata-kata masih tersimpan di bilik hati ini dan menunggu untuk dibuka sang empunya. Aku telah mempersiapkan mahar itu, tersimpan dalam kotak kayu dengan rapi tak tersentuh oleh siapapun.

“Kenapa kau tanyakan itu Mikela”
“Kau dan aku bukan siapa-siapa lagi”

Sepasang kekasih bertemu dan disatukan dengan suatu ikatan mahar kain kafan, itu kunci dan rahasia dari semua itu.

“Apakah perlu pertanyaan itu aku jawab lagi?”
“Aku sudah disini untukmu”
“Tubuh ini tak nyata dan tak ada yang memilikinya sekarang”
“Ini waktuku untukmu”

Aku hanya mengangguk dan mengecup bibirnya

Kami pun berpendar perlahan menghilang ditembus terik cahaya matahari dari sela jendela dan berjanji akan bertemu lagi malam ini.

Pekanbaru, Mei 2017


Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya kumpulan cerpen “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio(2017) dan karya lainnya di beberapa antologi puisi dan cerpen. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY