BAWAKAN AKU SELIMUT, Sajak-sajak M. Alfariezie

0
17

*) M. Alfariezie

Agar Walikota Kemari

Semakin hari saying

Panas meninggi
menyentuh mawar
yang dulu kau tanam

Mekarnya kian merah
tapi tak berkilau

Aromanya menyengat
tapi tidak membuatku ketagihan

Bahkan terlalu gersang
bila kita biarkan tumbuh

“lalu harus kita apakan”?

Ah pertanyaan kau…

Sudahlah
kau dengarkan saja suaraku

Dan dari pada kau diam

Menarilah
agar walikota kemari
perhatikan kita
dan bunga-bunga itu

(Kemiling, Bandarlampung. 21, 08. 17)

Bawakan Aku Selimut

Alunkan lagu kekasih
untuk aku
karena akan melewati halimun

Dan saat ini
sebelum aku keluar pintu

Ada berita
tentang perang dunia kedua

Kekasih
cobalah
sebelum jangkrik bersiul
kau ke rumahku

Bawakan aku selimut
serta apa saja
yang dapat menutupi mata dan telinga

Sengaja aku tulis surat ini
sebelum malam jum’at

(Kemiling, Bandarlampung. 21, 08. 17)

Dengan Legenda Itu

Dunia ini begitu kejam
saying
seperti alcohol
memangsa hati manusia

“sudah jangan kau sebut lagi tentang itu
aku mengetahuinya”

Menurutmu
mengapa bisa begini?

“itu karena kita makhluk
tidak beda dengan binatang
atau
batunya malin kundang”.

Ada apa dengan legenda itu?

“dia adalah manusia yang lupa

setelah ibunya menghantar ke pelabuhan
ia memaki sang bunda
dikerumunan

seolah-olah ia besar
tanpa pohon”.

(Kemiling, Bandarlampung. 22, 08. 17)

Singa di Ilalang

Kau singa di balik ilalang

Kau siapkan tenaga
untuk melumpuhkan aku

Penciumanmu tajam
seperti anjing mencari tulang

Padahal aku telah bersembunyi di antara kawanan gajah
Padahal padang ini luas
ada sungai serta bukit

Seharusnya kau menikmati
Jangan mengincarku terus

Kau telah melihatku
tidak berdaging

(Kemiling, Bandarlampung. 18, 07. 17)

Kau Akan Tercengang

Kekasih
coba kau bayangkan
bahwa
kau berada di negeri
yang manusianya
hanya beraktifitas di atas embun

Aku yakin
kau akan tercengang
karena
sendiri di bawah matahari

Pasti kau menelponku setiap waktu
bahkan
bisa sepanjang hari

Dan yang tadinya
kau enggan membaca sajaku-sajakku

Ketika kau berada di bayangan itu
dengan alamiah
kau akan menikmati nada
dari setiap nafasku

(Kemiling, Bandarlampung. 20, 08. 17)

Tirta di Pesawat

Lihatlah langit

Aku menitipkan tirta

Yang tadi pagi
ada di ujung tangkai mawar

Jangan
jangan kau salahkan matahari
yang hilang

Karena ketika embun di jendelamu

Kau
kau malah langsung
ke kamar mandi
: tanpa membuka gorden

Kemudian
kau tak meletakkan kertas dan pena

Kau hanya mengambil kaca mata
setelah itu pergi ke kantor

Bukan
bukan salah malam
jika gelap berkilat

Karena aku telah menyelipkan tirta
di pesawat

(Kemiling, Bandarlampung. 19, 08. 2017)

Peristiwa Paling Suci

Selalu aku rindukan
di mana
kita bersentuhan
dengan belantara

Kita yang menolak pagi
kita yang bernafas dengan jangkrik
kita yang diselimuti halimun
kita yang sesak

Selalu aku menanti
ketika suatu peristiwa
paling suci
tidak akan terjadi

Peristiwa kita berciuman
peristiwa kita bercanda
peristiwa kita berayunan
peristiwa kita saling menangis

Itulah kekasih
mengapa aku
selalu menatap jendela

(Kemiling, Bandarlampung. 20, 08. 17)

Mencintai Awan Berarak

Aku menentang mereka
juga kau

Aku berdiri di sini
menatap matahari
dan memandang ke timur
bukan kesilaunya

Karena aku
mencintai awan berarak
yang lembut melintas

Memang benar
aku membutuhkan cahaya

Tetapi jika menyilaukan
untuk apa mata ini terus mendongak

Sebab
aku mengagumkan langit
yang biru

(Kemiling, Bandarlampung, 22, 08. 17)

Mengharap dibawakan Mawar

Penjara
adalah teralis besi
yang meruwetkan isi kepala
membuat kepalan tangan mencengkram

membuat asing di jerami
tanpa selimut
mendengkur
kebisuan

Penjara
adalah nyanyian
sunyi

Di balik tembok
mengharap dibawakan mawar

(Kemiling, Bandarlampung, 22, 08. 17)

Bukan Hanya Cantik

Tak ada yang peduli
ketika aku bercerita tentangmu
termasuk ayahku
kecuali ibuku

Tetapi tenang saja

Terlalu pahit
tanpa kecantikanmu

Sebab
kau bukan hanya cantik
kau  anggur

begitu ungu

(Kemiling, Bandarlampung. 18, 08. 17)


Muhammad Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS. Karya-karya puisinya telah dimuat di Lampung Post.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here