REBOK, Puisi-Puisi Mz. Arwan

0
33

*) Mz. Arwan

SELAMA LANGIT BIRU PADA DADANYA
Kepada N.

selama langit masih biru pada dadanya
harapku pada sapamu adalah sepadang pasir
yang kupintal dalam dering telepon di pagi di tepi bantal
dalam gemerecik hujan pada malam di balik jendela
bawah pendar rembulan

selama langit masih biru pada dadanya
merasa ‘ku hangat oleh sajakmu basah
dan namamu tertulis di sana: Therese
sedang baitnya gerimis tergelincir jatuh ke mataku
dadaku ‘kan seluas padang mengeja luka

selama langit masih biru pada dadanya
tapi antara kau dan aku terbentang sungai yang panjang
siapa di antara kita hendak menimbang
rasa yang bagiku seliar petir
sedang kalbu ‘dalah jalinan sutera halus

selagi langit ‘kan biru pada dadaku
dan engkau kembali dengan tangis tertatih di pipi
nyanyikan lagi sajakmu dulu
mendapati diriku setengah hati. tak perduli

Kisol, 02 Februari 2016

REBOK

Di Ujung Pandang, yang ribuan kilo meter jauhnya dari Nuca Laleku, ku lumat habis butir-butir rindu yang kau titipkan lewat rebok-mu.

Dan sebelum malam memelukku dalam tidur, bisikmu masih ku dengar meski sayup:
‘Rebok adalah makananan kesukaanku, nana. Karena mengingatkanku akan tawamu yang renyah itu.’’

*Rebok adalah makanan khas daerah Manggarai dengan bahan dasar jagung atau beras yang ditumbuk.
** Panggilan akrab untuk seorang lelaki.

Makassar, 16 September 2017


Mz. Arwan, kelahiran Manggarai,  pada 1998, sekarang  menetap di  Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here