Kisah Absurd Dalam Sebungkus Nasi Pecel, Cerpen Ferry Fansuri

0
12

*) Ferry Fansuri

Saat mata ini terbuka sedikit perih, belek masih melekat dipelupuk. Badan ini terasa layu kusut untuk mengangkat bangun, menghimpun tenaga untuk berdiri. Kepala agak mendenging pusing sisa kemarin malam, goncangan bus ekonomi itu masih mendera kaki dan tangan ini. Datang ke Tancak menemui seorang teman yang lama tak jumpa, inbox Brodin di media sosial mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga. Kantil istrinya telah melahirkan seorang bocah laki-laki imut, Garin sudah beranjak 4 tahun sedang lucu-lucunya. Mereka bertempat tinggal di daerah yang dikenal air terjunnya yang indah dan sejuk, seperti cita-cita Brodin sejak masa kuliah dulu.

Datanglah kawan ke tempatku, disini kau akan merasakan ketenangan abadi. Itulah pesan-pesan yang selalu gurih disampaikan padaku, lama tak sua akan Brodin. Sosok periang dengan guyonan-guyonan khas anak daerah yang urban ke kota besar, pertengahan semester menghilang tanpa sebab.

Kabar itu datang tiba-tiba dan tak menyangka setelah sekian datang, disela-sela pekerjaan bergelut dengan angka-angka dan mata uang yang bukan milikku. Penat dan jenuh itulah membuat diriku tidak menampik undangan Brodin untuk datang. Jalanan pelosok dengan jalanan makadam, ketika malam aku tiba dan disambut hangat. Tapi minim penerangan tak bisa kulihat mereka begitu jelas, rasa ngantuk dan lelah menyerang pundakku. Brodin mempersilahkan untuk tidur dan telah mempersiapkan kamar untukku. Akupun lelap tersirep hawa dingin nan sunyi.

Pagi itu saat kubangun sambil mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih berkeliaran tak mau kembali, aku mendapati rumah Brodin sepi. Rumah ini termasuk besar dan memang terlihat paling megah ada di pojok kampung ini. Brodin seperti menata rumah ini dengan atap tinggi hingga muncul kesan bahawa tiap ruangan lega dan luas. Sirkulasi serta ventilasi teratur keluar masuk tanpa AC atau kipas angin, didalam rumah ini terasa sejuk dan itu yang aku rasakan tadi malam tidur nyenyak tak siuman sama sekali.

Tapi tidak kutemui Brodin serta keluarga kecilnya, ku coba melangkah kecil buat menjelajahi tiap ruangan. Mulai dari ruang tamu yang minimal dengan sofa tersusun asimetris, area dapur terkonsep minimalis modern, ruang tengah berkultur etnik atau halaman belakang yang dihiasi kolam ikan hias. Tak ketemu mereka, laksana hilang ditelan bumi tanpa kabar. Herannya tiap ruangan tidak terkunci sama sekali, kupikir mereka masih tertidur dan coba kuketuk pintu kamar. Tidak ada jawaban terdengar bahkan pintu itu terbuka dan didapati cuman kosong melompong.

“Kemanakah mereka semua? Atau mereka sedang keluar? Tapi mengapa rumah dibiarkan tanpa pengaman?

Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di korteks otakku tak terjawab seketika. Aku bagaikan mencari serta masuk dalam labirin dan tersesat didalamnya. Belum lagi suara-suara cacing-cacing demo minta jatah hariannya didalam perut, mungkin panggilan alam yang membuatku bergerak mengarah ke dapur. Celingak-celinguk macam maling jemuran mencari buruannya. Nihil juga.

Kelaparan mendera membuat mata ini awas untuk menyesuri tiap lekuk dapur, tak sia-sia mata ini menajam bak elang. Kulihat sebungkus pelepah pisang yang ditusuk bambu pipih seukuran selilit gigi. Diletakkan pada piring komplit beserta garpu dan sendok, baunya begitu menggugah selera makan dan terhisap di lubang hidungku. Tapi agak ragu, apakah ini memang untukku? Disiapkan Brodin dan keluarga buat sarapan pagi.

Lapar versus sopan santun terkadang timpang, manusia jika masalah perut akan muncul sifat asli layak binatang penuh napsu dan akal pikiran raib. Perlahan kuletakkan pantat ini dikursi depan meja makan itu, kupandangi bungkusan nasi menghadap kepadaku. Kutengok kanan-kiri dan kulihat jam di tembok, pukul hampir 9 pagi menunjukkan waktunya makan pagi mungkin agak telat juga.

Tanpa pikir lama, kuloloskan tusuk bambu itu dari pelepah pisang. Nasi putih punel putih tersiram kuah sambal kacang khas bumbu pecel ditambahi sambel tumpang. Dihidangkan urap sayur hijau ditemani kacang panjang, taoge, mentimun dan tak ketinggalan daun kemanggi. Lauk pauk macam tempe bacem, tahu, telur rebus bali, ayam kampung dan satu hal wajib ada yaitu rempeyek kacang bercampur teri tersaji.

Ini paket nasi pecel komplit hanya ada di kampung macam Tancak yang khas dan tidak ditemui di kota urban. Tangan ini bergerak sendiri menyedok bulir-bulir nasi pecel bercampur bumbu kacang masuk ke dalam mulutku. Kukunyah perlahan melalui geraham belakang, berikut lauk pauk dan rempeyek. Rongga gusi merasakan sensasi yang luar biasa, tiada yang nikmat nasi pecel ini. Aku ketagihan tiap suap layaknya anak kecil yang menemukan mainan, begitu lezat rasa pedas-asin-manis berkumpul jadi satu. Pengecap rasa di lidahku tak henti menemukan khayalan-khayalan kuliner dari sebungkus nasi pecel ini.

Kumakan tanpa berkedip dan habis tandas, tak pernah kurasakan nasi pecel seenak ini. Atau memang aku lagi kelaparan tapi ini beda daripada lainnya. Sampai ku tak sempat minum untuk mendorong sisa makanan di tenggorokan, gelas kaca bening itu kutuangkan air putih dari teko. Saat ingin kuraih untuk kuteguk, tangan ini memegang gelas terasa kaku. Kenapa tubuhku begitu menegang tak bergerak, otot-otot kejang dan aliran darah menerobos deras berdesir. Badan ini mematung bisu.

Sedetik kemudian semua terlihat gelap, terhuyung bergemetar dan jatuh tergeletak bersamaan denting gelas pecah di lantai. Setelah itu aku tak ingat apa yang terjadi, tubuh tersungkur menghantam ubin keramik. Posisi miring dengan kepala disanggah pipi menghimpit dinginnya tanah.

***
Entah berapa lama aku pingsan dan apa yang terjadi pada diriku, tubuhku masih kaku di lantai tak bergerak. Mata ini terbelalak karena disampingku telah ada Brodin dan istrinya Kantil, mulut mereka belepotan darah dan sela-sela gigi tertinggal daging. Mereka telah merobek diriku, menggigit, mencincang dan melahap dengan rakus kulit tubuhku. Mata mereka memerah darah dengan raut wajah membisu. Suara ditenggorokan ini tersendat, mereka tak peduli dan terus mengerat diriku. Tak terkecuali Garin anak mereka yang berusia 4 tahun dengan gigi mungilnya itu juga tak ketinggalan menyobek dan mencabik-cabik leherku.

Surabaya, Juli 2017


Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio(2017) dan berbagai antologi cerpendan puisi. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antologi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here