Andai Debora Dapat Bicara

0
28

*) Christina Sogen

Masih hangat dibicarakan di media Televisi, Surat Kabar, berita-berita online dan di berbagai jejaring sosial, tentang kisah bayi Debora yang meninggal dunia pada Minggu, 3 September 2017, di RS Mitra Keluarga Kalideres, karna tidak mendapat penanganan seperti seharusnya. Hal itu terjadi lantaran RS Mitra Keluarga Kalideres yang tidak bekerja sama dengan BPJS, sehingga orang tua bayi Debora diminta harus menyelesaikan terlebih dahulu biaya administrasi sedangkan Debora saat itu tengah berada dalam situasi kritis. Orang tua Debora yang tidak memiliki cukup uang pun berupaya memohon agar Debora terlebih dahulu ditangani di UGD namun pihak RS tak menyetujuinya. Sebaliknya pihak RS mencarikan RS lainnya yang menggunakan BPJS agar Debora dapat dipindahkan. Sementara itu UGD pada beberapa RS yang dihubungi ternyata sedang terisi dan UGD RS Mitra Keluarga Kalideres sendiri sebenarnya dapat menampung Debora. Akibat tak ditangani dengan cepat bayi bernama lengkap Tiara Debora yang baru berusia empat bulan itu pun meninggal dunia.

Sebagai salah seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, kisah nyata Debora ini sungguh membuat hati saya teriris dan tersayat-sayat rasanya. Saya sangat prihatin dan ingin sekali berontak atas ketidakadilan ini. Bagaimana mungkin dalam situasi kritis, kita tetap memprioritaskan uang hingga nyawa seseorang menjadi taruhan. Negara yang begitu besar, di mana sikap empati adalah bagian dari budaya yang diwariskan para leluhur, mengapa kini menjadi begitu kejam dan egois? Entah telah hilang kemana rasa iba dan belas kasih yang selalu identik dengan tradisi dan kebudayaan kita, sehingga dewasa ini semakin banyak kejadian-kejadian memilukan terjadi di negara kita ini. Saya tak habis pikir, apakah hanya orang-orang yang kehidupannya serba mewah dan berkelimpahanlah yang semestinya menderita sakit, sehingga RS mana pun akan dengan senang menerima dan merawat mereka tanpa harus merasa kuatir akan biaya administrasinya? Saya pikir tingkat kegilaan kita pada uang semakin menjadi-jadi hingga mengecilkan hati nurani kita. Jika kisah ini kita abaikan begitu saja, berapa banyak lagi orang yang akan menjadi korban seperti Debora? Saya pikir pihak manapun sudah semestinya menanggapi dan merespon kejadian ini. Sebab setiap nyawa lebih berharga dari apapun, bahkan dari warisan termahal apapun yang pernah ada di dunia ini.

Sebagai seorang penulis, saya tergugah untuk merespon kejadian ini. Saya merasa perlu memberikan sanksi sosial kepada pihak-pihak tak bertanggung jawab dalam kasus bayi Debora dengan cara mengkritik melalui puisi. Saya menuliskan sebuah puisi di bawah ini dengan harapan setiap pembaca dapat merasakan kemarahan dan protes saya terhadap ketidakadilan yang terjadi pada bayi Debora. Saya peduli sebagai sesama manusia, saya peduli karna saya masih memiliki hati nurani, saya peduli karna saya rakyat kecil, saya peduli karna saya Indonesia.

ANDAI DEBORA DAPAT BICARA

Ingin kukatakan pada dunia; betapa tak berperasaannya kau!
tapi kulumat saja kata-kata itu; jangan sampai terucap
sebab, sepertinya aku berdosa jika mengatakan itu
aku masih terlalu mungil untuk brani berkata tak sopan
aku masih terlalu polos untuk mengerti arti amarah
barangkali aku harus menunggu dewasa untuk menghujat kejamnya dunia
sayangnya aku ditolak jadi dewasa
lihat saja, tubuh mungilku buru-buru terbujur kaku
padahal usiaku baru empat bulan; kasihan bukan?
baru saja ayah dan ibuku menikmati masa-masa gemasku
dunia telah memisahkan kami demi beberapa nominal rupiah

kupikir aku yang mungil adalah kesayangan siapa pun
tak hanya ayah atau ibu, keluarga dan kerabatku
kupikir aku yang mungil ‘kan jadi pusat perhatian
tak akan ada yang sanggup menolak apalagi mengabaikanku
kupikir aku yang mungil mudah bikin jatuh hati
orang-orang tak akan tahan ingin menimangku dalam peluknya
apalagi aku Debora, putri kecil nan manis
adakah yang mampu menolak jika aku diperlakukan istimewa
bukankah konon katanya, kanak-kanak selalu disanjung bagai malaikat?

Lantas mengapa dunia memandang sepele ketika kusakit
mengapa mesti ada kompromi tentang jumlah lembar-lembar rupiahdisaat nyawaku justru berada tepat di ujung gerbang kematian?
mengapa mesti ada pilihan antara aku dan uang?
katakan padaku; seberapa berartinya nilai uang dibanding nyawaku
mengapa dunia mesti memandang siapa ayahku, siapa ibuku
hingga tak peduli betapa kritisnya aku melawan derita
atau haruskah aku menunda sakit hingga ayah dan ibu memiliki uang?
apakah aku berkuasa menentukan kapan semestinya aku jatuh sakit?

Oh… betapa tak kusangka mungilku tak berarti apa-apa
bahkan sekedar untuk mencuri belas kasih; mungilku tak diperhitungkan
oh… betapa menyedihkan karna kini kutahu
nurani orang dewasa rupanya dililit napsu dan tamak dunia
mereka sudah tak mengerti betapa berharganya sebuah pertolongan
mereka sudah tak menyadari, sebuah kehidupan adalah anugerah Sang Khalik
lebih mahal dari apapun harta duniawi

ingin kukatakan pada dunia; betapa tak berperasaannya kau!
biarlah kukatakan ini demi berkurangnya rasa bersalah di nubari ayah dan ibuku
barangkali mereka telah mengutuk kehidupannya yang terlanjur apa adanya
hingga memasrahkan ketakberdayaan merenggut nyawaku ibarat tumbal
padahal aku tahu mereka telah berupaya mati-matian
sembari menahan gelisah yang tak terukur siksanya
kini hati mereka terlalu getir menunggu malam berganti pagi tanpa rengekku
sungguh ingin kukatakan pada dunia; betapa tak berperasaannya kau!
biarlah kukatakan ini demi mengimbangi duka dalam batin ayah dan ibuku
yang tak sanggup kehilanganku namun terpaksa rela

barangkali aku beruntung pergi secepat ini kepada Bapa Pencipta
sebelum dunia membuatku tumbuh jadi orang dewasa
lalu merecoki nuraniku jadi penuh napsu akan uang dan materi
aku tak mau hidup untuk menyaksikan orang-orang kehilangan hati
memperbudak nurani di bawah kuasa uang
hingga nyaris menjadi Tuhan; mengirim sebuah nyawa pada kematian

Bogor, 11 September 2017


Penulis bernama lengkap Kristina Barek Sogen, berasal dari Desa Lewotala, kec. Lewolema, Larantuka. Sejak awal kuliah pada tahun 2011 sampai saat ini berdomisili di Cibinong, Bogor, dan telah menamatkan kuliah pada November 2015. Merupakan lulusan Sarjana Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Pakuan Bogor. Saat ini sedang melamar kerja sambil menulis puisi. Christina Sogen adalah nama pena sekaligus nama facebook penulis.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here