Sepilihan Sajak Yanwi Mudrikah

0
22

*) Yanwi Mudrikah

ALINEA

kau linglung 
di jaman yang serba instant 
dimana-mana tergesa
dimana-mana mengumpat
dan bergaya orang kota
semua dicela
dicemooh
tanpa pandang bulu

alinea,
menepilah
dalam kota nuranimu

10 september 2017

RIWAYAT
Akhyar Musofa

tahanlah kata-kata
agar kau paham
datang dan melangkah
di negeri orang

tahanlah keinginan-keinginan
agar kau mengerti
setiap lukisan
yang datang
di negeri sendiri

tahanlah dengan doamu
tahanlah dengan keyakinanmu

12 september 2017

NYAWA

mereka tergeletak…
diusir
dibunuh
dilenyapkan
oleh tuan-tuan

sebab apa?

darah-darah muncrat
mengalir
ke sungai waktu
jalan-jalan menjadi luka
menganga
sebab tragedi kemanusiaan

10 september 2017

PEJALAN

lengang,
para pejalan datang-pergi
mengukir isyarat
dan menimbun kenangan

10 september 2017

KATA-KATA

yang kau cipta  adalah
mantra
yang berotasi
dalam ingatan

21 juli 2017

BERPURA-PURA

berpura-pura lah…
tak apa kau alpa
tak apa kau lupa

aku…
bukan siapa-siapa
luka amat menganga
bau anyir
seluruh tubuh

11 september 2017


YANG PALING PUKAU

malam selalu menyuguhkan kenangan. entah malam lalu ataupun malam ini. anyelir-anyelir yang kita tanam sudah tumbuh subur dan mekar. sekalipun malam tetap saja kita bisa menikmati auranya dari barisan anyelir yang memanjang dan melingkar di taman belakang. duh, kota yang melingkar di dadamu. kota yang terus menyala dalam hatiku. kota ini menjadi kota kenangan. apapun yang aku lihat. semuanya indah dan amat megah. secangkir kopi dan sepotong roti yang kau sajikan di kursi yang paling pukau~di stasiun kota.

Agustus, 2017

 


Yanwi Mudrikah dilahirkan di desa Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, 12 Agustus 1989. Sejak sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Purwokerto dia mulai mencintai bacaan kesusastraan Indonesia. Kebiasaan membaca dan menulis itu semakin subur ketika dia kuliah di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto.

Karya puisinya dipublikasikan di media : Indopos dan Suara Pembaruan (Jakarta), Minggu Pagi (Yogyakarta), Koran Merapi (Yogyakarta), Majalah Mayara (Surabaya), Harian Tangsel (Jakarta), Satelitpost (Purwokerto, Jawa Tengah), Banjarmasinpost (Banjarmasin), Pikiran Rakyat (Bandung), Harian Waktu (Bandung), Suara Merdeka (Jawa Tengah), dan Media Indonesia (Jakarta).

Cerpennya terdokumentasi dalam antologi Bukan Perempuan(STAIN Pres, 2010). Sepuluh sajaknya terdokumentasi dalam antologi Pilar Penyair (Obsesi Press, 2011); duapuluh sajaknya terdokumentasi dalam antologi Pilarisme (Obsesi Press, 2012); dan sembilan sajaknya terdokumentasi dalam antologi Pilar Puisi (STAIN Press, 2013).

Karya puisinya juga terdokumentasi dalam Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 216 Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Sagang 2016); antologi Di Bawah Sadar Di Atas Sadar (Forum BKI, 2013); antologi Cahaya Tarbiyah (Forum Mahasiswa Tarbiyah, 2013); Creative Writing (STAIN Press, 2013); Kampus Hijau (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 2 (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 3 (Sekolah Sastra Peradaban, 2016); Rumah Penyair 3 (Kepompong Press, 2016); Seberkas Cinta Antologi Puisi 89 Penyair Indonesia (Diagna Pustaka, 2016); Antologi Puisi Membaca Kartini Memaknai Emansipasi dan Kesetaraan Gender (Komunitas Joebawi, 2016); dan Beberapa sajaknya lolos dalam Indonesian Literary Collective (ILIC, Jerman 2014).

Rahim Embun buku puisi tunggalnya, menghimpun 64 judul sajak, dengan kata pengantar Hanna Fransisca dan kata penutup Dimas Indianto S (Mitra Media, 2013); Menjadi Tulang Rusukmu buku puisi keduanya, menghimpun 41 judul sajak, dengan kata pengantar Nia Samsihono dan kata penutup Wahyu Budi Antoro (AMIKOM Press, 2016). Saat ini sedang proses buku puisi ketiganya, berjudul Menjadi Ibu (2017).

Yanwi Mudrikah, berprofesi sebagai Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia dan Kajian Puisi di Perguruan Tinggi negeri dan swasta, Jawa Tengah. Saat ini, tercatat sebagai Dosen Tamu di STMIK AMIKOM Purwokerto, IAIN Purwokerto, STKIP DARUSSALAM KarangPucung Cilacap dan Boarding Al-Irsyad. Dia juga juga mendirikan sekaligus mengasuh Komunitas Sastra Purwokerto, yang dinamai “KOMUNITAS GUBUG KECIL” (2013 sampai sekarang).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here