Sosialitas Manusia dalam BKBM, Pembacaan Atas Cerpen ‘Beta Kaya Beta Miskin’ karya Fian Watur

0
30
Sumber ilustrasi: https://www.absolutearts.com/portfolio3/a/afriani/absurd-1488050606m.jpg

*) Yohanes Berchemans Ebang

Tulisan ini merupakan salah satu bentuk dan atau cara penulis memaknai cerpen ‘Beta Kaya Beta Miskin’ karya Fian Watur di ruang Imajinasi Pos Kupang, Minggu, 27 Agustus 2017 lalu. Ada tiga asumsi yang melatarbelakangi tulisan ini. Pertama, puisi dan cerpen di rubrik Imajinasi Pos Kupang setiap edisi Minggu tidak sebatas ruang hiburan yang sengaja dihadirkan untuk menyambangi kejenuh-seriusan khalayak oleh sebab membaca berita-berita keras sepanjang pekan, tetapi kedua, rubrik Imaginasi ini menjadi semacam upaya Media dalam merekonstuksi realitas sosial dengan cara dan bentuk ‘lain’, dalam hal ini berwujud karya sastra. Tentunya, realitas yang terindera oleh pengarang/penyair yang walaupun kemudian terteks atau terwacana secara estetik-imajinatif.  Sosialitas sastra. Ketiga, penulis sepandangan dengan Roland Barthes bahhwa teks (termasuk sastra) setelah terpublikasi, menentukan nasibnya  sendiri; nasib itu ada di tangan pembaca. Maka tulisan ini lantas merupakan hasil ‘perlakuan’ penulis terhadap cerpen Beta Kaya Beta Miskin (BKBM).

Peter F. Drucker dalam karyanya The New Realities (1989) menyajikan secara struktural hasil riset dan pemikirannya tentang perubahan dunia yang dramatis di berbagai bidang kehidupan manusia. Bahwasanya, realitas dalam pemerintahan dan politik, perekonomian dan bisnis, masyarakat dan pandangan dunia – selain ditengarai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, secara tersirat Drucker menempatkan teknologi (termasuk teknologi komunikasi informasi) sebagai yang juga berpengaruh dalam tatanan kesosialan masyarakat. “Teknologi bukan sebatas perkakas, tetapi tentang cara kerja manusia. Teknologi juga mengenai cara hidup dan cara berpikir manusia”, tulis Drucker.

Karya Drucker ini, hemat penulis, menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ‘saudara kembar’ yang menyentuh dan menentukan gaya, corak dan bahkan arah langka masyarakat modern. Di hadapan mata kaum konservatif yang berpandangan tradisional maupun modern, ‘saudara kembar’ itu menjadi laksana pedang bermata dua. Menyelamakan, bisa juga mematikan. Menopang teguh kemanusiaan di satu sisi, dan pada sisi yang lain manusia dan kehidupannya luluh-lantah dan bahkan jatuh mati. Paradoksal memang.

Sebagaimana dalil Drucker, karya imajinatif Fian Watur dalam cerpen BKBM, merupakan realitas konfigurarif yang menuntut persepsi dan analisis yang holistik dan mendalam dari manusia, pembaca BKBM. Tidak hanya terbatas pada tatanan retorika dan dirkursus tetapi juga dalam tindakan praktis.

Dalam cerpen BKBM Misalnya, kehadiran permainan (modern) yang terfitur dalam handphone, tidak hanya menggantikan permainan dan nyanyian favorit (tradisional-manual)  Kopong, Beda, Ina, Barek dan anak anak desa lainnya, tetapi juga mengeliminasi bentuk dan praktek sosial kekerabatan seperti kebersamaan, kesetiakawanan, pertemanan, keakraban dan model relasi sosial lainnya. Tidak hanya di lingkaran dan corak hidup anak-anak tetapi di semua level usia. Sebagaimana BKBM, halaman rumah si Kopong yang sebelumnya menjadi tempat bermain sekelompok anak desa, dituntut paksa oleh sang Ayah untuk meninggalkan tempat itu. Tempat itu akan dipagari dan dijadikan taman sebagaimana rumah si Beda di pojok lain desa itu.

“Mulai soreh ini, tidak ada yang boleh bermain di halaman rumah ini”  (alinea 51).

 “Kopong, ayah ingin membuat taman seperti di rumah Beda temanmu itu. Ayah juga akan membangun tembok agar tidak ada anak-anak masuk dan bermain di dalamnya” (alinea 53).

Imbas lanjut dari logika berpikir dua orang ayah (ayahnya Kopong dan ayahnya Beda), bentuk, dinamika dan khasanah bermain anak-anak desa yang berlatar halaman rumah, bisa digantikan dengan model permainan ala teknologi (game). Seorang anak tidak perlu lagi membutuhkan teman dan tempat bermain semisal halaman rumah, tidak perlu berkeringat-keringatan tetapi dalam kesendirian di kamar atau teras rumah, hasrat bermain seorang anak bisa tersalurkan melalu gerak jari tangan di tuts atau layar handphone. Tetapi dengan itu, bukan berarti perkarah selesai. Tidak. Masih ada soal lanjut yang belum tuntas, yang melekat dalam diri anak-anak. Hal ini dapat terbaca dalam keluhan Beda kepada ayahnya. “Lihat ayah, semua temanku pergi. Sekarang dengan siapa aku bermain?” (alinea 55).

Berdasarkan nalar cerpen BKBM dan keluhan Beda salah seorang anak desa di atas, ada semacam ‘teriakan minta kebebasan’ sebagai representasi suara orang kecil yang belum tuntas. Logika teknologi tidak selamanya sejalan dengan hakikat kesosialan manusia. Bahwa ruang sosial atau res-publica bukan sebatas ruang fisik, sebagaimana Politika Aristoteles, tetapi merupakan hasrat dan tindakan. Dan kehidupan sosial merupakan tujuan dari keberadaan manusia. Maka ke-mekanis-an teknologi tidak serta merta menggantikan ruang sosial itu.

Dengan alur pemikiran serta dalil yang demikian, dapat dimengerti mengapa di Kota Kupang dan Labuan Bajo ada suara ‘orang kecil’ yang menolak privatisasi bibir pantai yang nota bene adalah simbol sosialitas. Halaman rumah merupakan simbol sosialitas, simbol keber-ada-an manusia. Maka cerpen BKBM merupakan wacana yang sangat relevan, paling kurang dalam pembangunan di Nusa Tenggara Timur; infrastrukturnya dan juga yang terpenting pembangunan manusianya. Fian Watur melalui BKBM secara estetis-imajinatif merekonstruksi sebagian realitas sosial NTT; selanjutnya tugas kita adalah mendekontruksikan wacana ini dalam diskursus dan aksi nyata atau tindakan praktis.

Dekonstruksi itu bisa terjadi dalam berbagai level dan bidang kehidupan sosio-politik, misalnya dalam hal pembuatan kebijakan tentang tata ruang kota. Bahwa pembangunan fisik tidak semata mempertimbangakan estetika dan modernitas sebuah kota, tetapi juga sisi human-sosialitas dari sebuah “ruang”.***


Yohanes Berchemans Ebang, Penikmat Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here