ELEGI HUMAIROH, Cerpen Zaki Fahrizal

0
28

*) Zaki Fahrizal

Subuh yang dingin. Dinginnya teresap ke bagian tubuh paling dalam. Rembulan nampaknya masih betah dengan tugasnya semalam. Ia nampak enggan berpamitan. Suara panggilan ibadah pun seakan tak terdengar tadi pagi. Aah ternyata  jarum waktu begitu melenakan aku. Aku begitu asik dengan kehangatan pagi dan tidurku.

***
Namaku Humairoh, namun teman-teman di kampungku selalu memanggil aku dengan sebutan Iroh atau bahkan nama ejekanku yang disematkan kedua temanku Suti dan Weni menjadi Imok. Begitulah mereka memanggil aku. Aku tak begitu masalah dengan panggilan-panggilan tersebut. Bahkan panggilan yang lebih parah dan keterlaluan pun sudah aku dapati dari teman-teman sekolah. Yaa mereka mamanggilku dengan sebutan Gembel. Begitu menghinakan memang, tapi apalah sebutan sebuah nama kalau kita tak merasa dan tak melakukan apa-apa yang mereka sebut. Bagiku nama hanyalah sebuah kumpulan huruf-huruf yang tersusun menjadi beberapa kata. Meskipun ada yang mengatakan bahwa nama adalah sebuah cita-cita yang diamini oleh orang tua. Tetapi itu sebuah cita-cita atau hanya sebatas angan-angan atau bahkan obsesi orang tua yang mendapat bisikan-bisikan tetangga? Sudahlah perkara penamaan memang jika dibahas tidak akan ada habisnya, perlu waktu yang cukup lama untuk membahas sebuah kata dalam namadan itu membuat waktu habis sia-sia.

Aku kini menjadi siswa kelas 10 di sebuah SMK yang dibilang orang merupakan sekolah cukup favorit di kota ku. Ya sekolahku terkenal karena mengahasil lulusan-lulusan yang berhasil diterima oleh pabrik-pabrik, hotel-hotel bintang tiga, bahkan sampai kantor-kantor dinas yang memakai jasa lulusan sekolahku meski menjadi pegawai pembantu.SMK Negeri 1 Pertiwi nama sekolahku ini, sudah sedari SMP aku mengimpikan masuk SMK itu. Awalnya aku ingin mengambil konsentrasi jurusan perkantoran, tetapi jalan nasib berbelok. Akhirnya aku ditakdirkan masuk konsentrasi jurusan perhotelan. Ya sudah aku terima dan aku imani semoga ini menjadi takdir yang menguntungkan bagi ku. Aku dapat belajar maksimal sampai nanti lulus dan ditempatkan di sebuah hotel untuk bekerja.

Berbicara keluarga, aku merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Jadi aku memiliki adik lebih kurang tiga orang. Dari sini dapat dilihat bahwa aku sebagai anak sulung mempunyai kewajiban atau tanggung jawab besar menjadi tulang punggung keluargaku.  Ayah seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan besar di ibu kota negara. Berangkat petang pulangpun petang. Berangkat ketika aku masih sibuk membuat akhir cerita dengan mimpi-mimpi indahku, pulang ketika aku baru memulai tahapan-tahapan mimpi-mimpi indahku. Tapi itu dulu sebelum terkena PHK, sekarang ayah hanya seorang “dokter”.  Kata dokter bukan dalam makna yang sebenarnya. Hanya sebuah akronim dari dua kata “dodok” dan “muter”. Terdengar aneh memang, itu akronim Bahasa Jawa yang diberikan oleh tetangga-tetanggaku kini. Kini ayah hanya seorang tukang becak. Profesi yang semakin hari semakin tersisih dari modernitas tidak pandang kasta dan dusta. Tetapi dengan begitu aku bersyukur masih diberi nikmat, dengan begitu aku semakin dapat melihat ayah. Dahulu itu menjadi sesuatu yang susah untuk dilakukan. Ohh iya, aku belum bercerita tentang ibu. Ibuku hanyalah seorang wanita paruh baya dan sudah memasuki usia tua tetapi belum begitu tua. Untuk membantu agar dapur tetap “ngebul”. Ibu berjualan macam-macam makanangorengan. Setiap pagi aku dan ibu bangun lebih awal untuk memasak gorengan-gorengan tersebut. Lalu siang harinya ibuku keluar rumah berkeliling ke kampung-kampung bahkan ke komplek-komplek. Pernah sewaktu berkeliling ke komplek, ibu terbayang rumah dahulu yang kami miliki. Rumah dengan pagar tanaman hijau asri, bangunan dua lantai kokoh selalu menemani hari-hari ibu. Tapi itu dahulu sebelum ayah kena PHK. Tetapi tidak apa-apa, meski kini kami hidup di rumah sederhana tetapi itu membuat kami jauh lebih bersyukur.

***
“Din, sore ini kamu mau ikut aku ketemu pelangganku tidak?”, ajak aku ke Dini.
“Sore ini? Baiklah aku ikut, jemput di tempat biasa ya”, jawab Dini dengan raut senang.

Begitulah keseharian aku. Aku sehari-hari berjualan kerudung dan baju-baju perempuan. Dibantu teman sekolahku bernama Dini. Barang-barang tersebut aku jual dengan dengan memanfaatkan media sosial yang sedang digandrungi anak-anak seumuranku. Terkadang aku menjualnya secara langsung bertemu dengan calon-calon pembeli. Sistem pengiriman barangpun dilakukan dengan banyak cara, melalui COD “Cash on Delivery”. Dari akar kata “cash” dan “delivery”, sebenarnya sudah bisa kita simpulkan bahwa COD adalah layanan di mana konsumen/pembeli sepakat dengan penjual untuk membayar ketika barang yang dibelinya sampai ke alamat pengirimanatau via transfer dan mengirim barang pesanan melalui jasa pengirimian yang sudah banyak saat ini.

Bisnisku ini ternyata efektif membantu aku memenuhi kebutuhan aku sekolah. Alhamdulillahnya aku terbantu dengan program beasiswa dari pemerintah yang aku terima. Jadi dari bisnis jual barang-barang itu aku gunakan hanya untuk membeli buku dan kebutuhan-kebutuhan tugas. Sisanya aku tabung dan aku berikan ibu untuk membeli beras. Ya bisnis jual beli ini memang sedang naik daun saat ini, tetapi kita harus jeli untuk tak cepat percaya terhadap konsumen atau pembeli yang mencurigakan. Banyak kejadian yang dialami oleh teman-teman sekelasku yang tertipu oleh pembeli yang tak bertanggung jawab. Begitupun aku, pernah tertipu oleh  pembeli yang mengaku sudah transfer dengan menunjukkan faktur transfer dan aku dengan bodohnya percaya begitu saja meng-iya-kan dan langsung mengirim barang pesanan melalui jasa pengiriman. Setelah cek tabunganku ternyata saldoku tak bertambah. Aku penasaran. Kulangkahkan kakiku ke rumah Dini dengan tergesa. “Din, bantu aku”. “Adapa apa Um?” jawab Dini dengan kegat.

“Saldo di tabunganku kok tidak bertambah, padahal dia (pembeli) sudah transfer dan menunjukkan bukti tranfernya” cetus aku dengan perasaan menggebu.
“Sabar..tenang… coba aku lihat mana bukti transfernya?” tanya Dini.
“Ini lihatlah”
“Ternyata kamu kurang teliti, lihat baik-baik. Tanggal fakturnya tidak sama dengan tanggal hari ini” seru Dini kepada aku.

Ternyata apa yang dikatakan dini benar bahwa tanggal faktur dan tanggal transfer berbeda. Aku telah ditipu dan dikelabui oleh pembeli yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tersebut menajdi pelajaran untuk aku saat itu. Meski kejadiannya sudah lama, tetapi kejadian itu masih teringiang-ngiang dan membekas.

***
Hari ini aku pulang cepat dari sekolah. Try out Ujian Nasional sudah aku kerjakan dengan maksimal.  Hari ini aku akan mendapat 3 pesanan. Semuanya meminta COD. Aku sanggupi semua COD tersebut. Aku ajak Dini seperti biasa. Aku berencana setelah COD, aku akan mengajak Dini ke tempat makan karena dia berhasil mendapat nilai Try Out Ujian Nasional tertinggi di kelasku. Ini keberapa kalinya aku kalah oleh Dini, tetapi aku tidak dengki malah sebaliknya aku sangat bangga mempunyai seorang sahabat pintar dan pengertian seperti dia. Siang pukul 02.00 aku meminta izin ke ayah untuk meminjam motor. Ayah sempat ragu untuk memberikan izin. Tetapi aku meyakinkan kalau aku tidak pergi sendiri. Aku ditemani Dini. Aku berjanji kalau aku tidak pulang malam. Akhirnya ayah mengizinkan dan meimnjamkan motornya. Aku pamit ke ayah dan ibu. Entah kenapa ketika aku pamit ke mereka ada rasa yang sesak dan tidak enak dalam hati. Aku melihat ke ayah dan ibu. Kupandang sejenak. Lalu aku gas motor dengan tenang. Dini telah menunggu di depan rumahnya. Aku pinjami dia helm dan kita langsung pergi ke tempat  COD yang pertama. Perjalanan kami berdua aman dan lancar. Lamu merah kami lewati, jembatan kami sebrangi. Perasaan tak enak tadi ketika aku pergi dari rumah sedikit demi sedikit hilang. Mungkin ini karena canda tawa dan asiknya obrolan kami di motor. COD pertama selesai. Pelanggan COD pertama merupakan pelanggan setiaku. Ia sepertinya pus dengan produk-produkku. Kami melanjutkan COD tempat selanjutnya. COD tempat kedua tidak begitu jauh dengan COD tempat pertama. COD tempat kedua selesai.

Kami lanjut ke COD tempat ketiga. COD tempat ketiga jaraknya jauh. Berbekal GoogleMap untungnya Dini hafal arahnya. COD tempat ketika sukses diselesaikan. Tetapi waktu sudah sore menjelang magrib. Ya lebih tepatnya pukul 06.10. kami mampir ke sebuah tempat makan di pusat perbelanjaan. Musala di tempat makan mengingatkan kami akan tugas kami sebagai muslim. Melihat pembeli makan yang antre lumayan panjang. Akhirnya kami putuskan untuk salat terlebih dahulu. Salat pun selesai. Kami antre cukup lama. Akhirnya makanan pun di dapatkan. Saat makan tiba-tiba perasaan ku kembali tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku seperti ingin menangis tapi tidak bisa. “Apakah ini yang dinamakan firasat?” tanyaku dalam hati. Jarum jam di dinding warna merah tempat makan menunjukkan pukul 08.00. Aku lupa kalau aku janji pulang sore ke ayah. Bodohnya aku sampai lupa dengan waktu pulang. Akhirnya ku ajak Dini pulang. Aku pulang dengan perasaan bersalah. Sepanjang perjalanan aku dan Dini kali ini tidak banyak mengobrol. Sebetulnya dini mengajak mengobrol tetapi pikiranku sedang tidak fokus. Pikiranku terbagi. Rasa bersalah, janji, khawatir pokonya campur aduk. Tetapi Dini sepertinya mengerti akan sikap aku seperti itu. Ku antar Dini sampai pintu rumahnya. Aku pamit ke Dini kemudian langsung ku tekan gigi satu motor, gas pun aku tarik. Dini perjalanan menuju rumah perasaan semakin menjadi-jadi. Takut. Rasa bersalah. Menghantui batinku.

Deeek!
Deeekkk!
“Ini apa?”  pikirku dalam hati

Tiba-tiba seketika tubuhku kaku. Punggungku seperti tertusuk. Semuanya gelap.
Aku sadar ketika aku sudah di rumah. Orang-orang memandangiku dengan mata berlinang. Tubuhku masih kaku dan lemas. Sakit di seluruh tubuhku. Ingin menangis tetapi tidak bisa. Kepalaku diusap-usap ibu. Ayah hanya berdiri di samping adik-adik.

***
Dua hari kemudian, saat sudah dapat duduk dan bercakap. Aku diceritakan oleh ayahku bahwa aku telah mengalami pembegalan sepeda motor. Ayah bercerita, kalau aku ditemukan tetangga yang satu RT saat melintas di jalan ketika malam aku mengalami pembegalan. Getir terasa, hatiku sakit. Lebih sakit dari luka yang kudapati. Pipiku basah seketika. Aku merasa bersalah. Aku telah melalaikan kepercayaan yang diberikan ayah. Ayah memeluk dan mencoba menenangiku. Aku meminta maaf ke ayah. Aku insyafi semua kesalahanku. Ini menjadi pelajaran bagi ku. Semoga tidak terulang kembali kejadian ini. Sejak saat itu aku semakin berhati-hati dalam mengendarai motor. Aku tidak berani keluar malam hari kalau hanya sendiri.*)


Zaki Fahrizal, Guru SMP Peradaban Serang, Mahasiswa Pascsarjana Untirta Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here