Ketika Aku Patah Hati, Cerpen Rin Ismi

0
79
Sumber ilustrasi: http://image-serve.hipwee.com

*) Rin Ismi

Namanya Imam Kurniawan.Tinggi seratus delapan puluh sekian. Jika kami berdiri bersisian, kepalaku hanya sejajar dengan perutnya. Apalagi ketika berjalan, aku harus terseok untuk menyamakan langkah panjangnya. Sebulan berselang bekerja di pabrik stainless steel ini, Imamlah teman sebaya pertama yang kukenal. Ketampanannya mengingatkanku pada aktor Ben Joshua. Aku mengenal Imam ketika Pak Salmon__well, namanya memang mengingatkan kita pada ikan laut__atasanku itu menyuruhku membantu ke bagian packing yang sedang mengejar target ekspor. Kulihat Imam sedang menggesekkan sebilah pisau ke semacam mesin gerinda untuk mengilapkan kembali mata pisaunya.

“Hei, kau! Awak titip satu anak ini, ya. Ajari dia. Kalo sudah selesai pinjam, antar lagi ke bagian awak,” ujar Pak Salmon dengan suara bariton dan logat Melayunya yang khas.

Pinjam. Dia pikir aku barang apa? sungutku kesal.

“Dilepas aja masker sama sarung tangannya.” Pemuda yang sejak tadi fokus ke mesin akhirnya melepas masker dan bicara padaku.

Waktu bagai terhenti ketika tatapanku berserobok dengan mata itu. Katakanlah terdengar seperti katak dalam tempurung. Tapi selama delapan belas tahun hidupku, rekor pria tertampan yang pernah kutemui layak disematkan padanya. Ia memberi instruksi agar aku duduk di sebelahnya, lalu mengelap pisau yang sudah dikilapkan dengan kain katun dan memasukkannya ke dalam polybag.Pisau itu kemudian diletakkan di atas konveyor untuk dicek ulang sebelum dipacking. Saat tangan kami hampir bersentuhan, kulit putihnya kontras dengan kulitku yang kecokelatan. Ditambah lagi bekas luka bakar di lengan kanan membuat kepercayaan diriku terjun bebas.

Pekerjaan di perusahaan ini terbilang berat. Itulah mengapa karyawannya mayoritas lelaki. Sedangkan yang wanita ditempatkan di bagian inspeksi atau packing. Tapi karena lebih banyak pekerja pria, tak jarang aku harus menahan jengkel karena ulah kurang ajarsejumlah karyawan lelaki. Mereka dengan sengaja bersiul, menarik tali bra, atau mencolek daguku. Yang perempuan pun tak kalah horor. Jika aku lewat, mereka menatapku dari atas sampai bawah seperti melempar tatapan permusuhan, seakan mereka khawatir aku akan merebut pasangannya. Tak ada yang istimewa dalam diriku. Rambut pendek sebahu, bokong rata, ukuran bra juga cuma cup 32. Dadaku lebih pantas disebut telur ceplok ketimbang payudara. Tapi lelaki di sampingku ini kelihatannya baik. Dia tidak tampak brengsek seperti yang lain.

“Eh, kita belum kenalan,” sapa pria itu setelah beberapa menit kami sibuk bekerja dalam diam.
“Airin,” jawabku singkat.
“Hah?” Entah kenapa dia terdengar syok.
“Airin,” ulangku. “Emang kenapa? Nama gue Airin, ya. Bukan nyuruh lo nyiram air ke gue,”
Hahaha. Gak, kok. Nama lo mirip sama nama mantan gue, Erin. Oya, gue Imam Kurniawan.”

Aku hanya bisa ber-oh mendengarnya. Pertama, oh karena namaku mengingatkan lelaki ini pada sang mantan. Kedua, oh karena akhirnya aku tahu namanya. Sejak hari itu Imam sering mampir ke bagianku saat jam istirahat. Kami mengobrol tentang banyak hal. Dia seorang personel band indie. Terlihat dari gaya pakaiannya yang kasual. Belum lama ini baru saja putus cinta dengan Erin. Ia bukan hanya diduakan, tetapi ditigakan sekaligus. Parahnya selingkuhan Erin tak lain adalah teman-teman Imam sesama personel band. Rasa sakit hati membuat Imam terjerumus rokok, alkohol, dan sesekali nyimeng.Pantaslah tubuhnya kurus menjulang macam lidi. Aku jadi bertanya-tanya, memangnya secantik apa Erin sampai pria nyaris sempurna dalam pandanganku ini bisa hancur olehnya.Tanpa diminta, Imam  menunjukkan foto Erin padaku. Demi Canopus, Capella, Vega! Aku dan gadis itu ibarat Merkurius dan Pluto jauhnya. Seluruh definisi kecantikan lahiriah ada pada diri Erin. Apalah aku yang hanya serpihan kaca di pinggir berlian.

Imam yang semula kukira anak pendiam ternyata mau bercerita banyak.  Sepasang mata sipit membuatnya mirip etnis Tionghoa hingga ia dijuluki Encek. Tetapi aku lebih suka memanggilnya Bule karena rambutnya yang dicat pirang. Beberapa hari bersamanya telah menumbuhkan benih-benih harapan di hatiku. Kondisiku tak ubahnya si Upik Abu yang bermimpi bisa bersanding dengan pangeran tampan. Terlebih ketika ia mengatakan ibunya menjalankan bisnis katering. Semakin mengerutlah nyaliku. Suatu hari keajaiban berbaik hati menghampiri.

“Rin, lo mau gak jadi cewek gue?” tanyanya tiba-tiba di sela jam istirahat.

Pertanyaannya seketika membuatku tersedak dan mengangguk bagai terhipnotis. Imam tersenyum mengacak-acak rambutku. Begitukah cara lelaki mengungkapkan cinta? Hatiku serasa berubah menjadi cokelat yang meleleh. Dia beranjak pergi meninggalkanku yang masih melongo. Aku yang tak pernah berpacaran sebelumnya benar-benar tak paham bagaimana cara sepasang kekasih menghabiskan waktu saat bersama. Yang kutahu dari novel atau film, mereka akan melakukan hal-hal romantis. Nyatanya tidak demikian pada Imam. Jangankan berpelukan, pegangan tangan pun tak pernah. Satu-satunya sentuhan yang dilakukannya hanya mengacak-acak rambutku. Dia takkan pergi jika rambutku belum menyerupai surai singa.

Jika sedang berdua, kami hanya mengobrol seperti biasa. Jangan harap ada panggilan mesra kekinian macam anak alay itu. Kami tetap berelo-gue ria layaknya sobat nongkrong di warung kopi. Imam sempat bertanya soal kehidupanku. Maka kujelaskan dengan apa adanya. Aku baru lulus SMA. Sulung dari tiga bersaudara. Satu-satunya anak perempuan. Bapakku tukang becak, Emakku tukang jamu. Aku sempat mendapat beasiswa di UNPAD tapi tak kuambil. Jangan tanya kenapa. Itulah sebabnya aku terdampar di pabrik ini. Aku begitu bahagia ketika Imam mau menerima keadaanku. Ia sering berkunjung ke rumah, bertemu Emak Bapak, bahkan kami makan bersama. Ketika Imam pertama kali main ke rumah, seisi kampung heboh mengetahui gadis tomboy sepertiku rupanya bisa punya pacar juga.

“Doain gue ya, Rin. Semoga band gue bisa masuk dapur rekaman. Lo sendiri gimana? Apa harapan lo?” tanyanya suatu hari di bawah pohon beringin dekat kantin pabrik.
“Gue cuma mau mata gue tetep sehat. Biar bisa baca, punya perpus pribadi. Bisa nulis dan tulisan gue dibaca banyak orang. Dan, bisa lihat lo jadi vokalis band terkenal kelak.”
“Uuuuhh, co cuiiittt.” ledeknya.

Baru sekitar dua minggu kedekatan itu terjalin, Imam tiba-tiba mengucapkan kalimat yang paling kutakutkan. Meski harus menahan sesak di hati karena di setiap obrolan yang dibahasnya selalu hanya menyebut nama Erin. Aku sadar selama ini hanya dijadikan pelarian karena namaku mirip dengan nama mantannya. Tak masalah asalkan dia ada di sisiku. Bukankah ada pepatah mengatakan cinta datang karena terbiasa? Tapi rupanya itu hanya harapan belaka.

“Lo gak pantes buat gue. Lo terlalu baik, Rin.”

Kalimat perpisahan itu memenuhi kepalaku sepanjang waktu. Seakan belum cukup, Imam tiba-tiba menghilang. Sms tak lagi dibalas, nomor ponselnya tak bisa dihubungi. Aku mencari tahu kabarnya di bagian packing, tapi teman-temannya bilang dia tidak masuk kerja sejak seminggu lalu. Aku begitu terpukul dan marah pada Tuhan. Ini tidak adil. Kucoba mengingat kebiasaan yang dilakukan Imam saat bersamaku. Kopi dan rokok! Baiklah, mari mulai dengan merokok dan menyeruput kopi hitam seperti yang sering dilakukannya. Diam-diam aku membeli beberapa bungkus kopi, rokok, dan kerap mengunci diri di kamar untuk menikmatinya. Aku terbatuk-batuk saat pertama kali menghisap uap rokok itu. Benda yang selama ini selalu kukutuk kini mau tak mau kuhirup juga. Seketika aku berubah menjadi orang lain hanya karena dibutakan oleh perasaan semu. Kau bisa menyebutku ratu drama sampai kaurasakan sendiri seperti apa namanya patah hati.

Saat hatiku tengah hancur, tak ada satu pun orang rumah yang peduli. Mereka sibuk mengurusi Bi Amira, bibiku yang minggat dari rumah karena kasus KDRT yang dilakukan sang suami. Untuk sementara Bibi tinggal di rumahku. Tapi perempuan itu benar-benar tak tahu diri. Ia tidur seranjang denganku, seenaknya memakai pakaianku, dan bicara di telepon dengan pacar barunya tanpa kenal waktu. Puncaknya, aku marah besar ketika aku pulang terlambat. Menghamburkan uang gajiku selama sebulan bekerja untuk membeli barang remeh-temeh di mal. Sisanya baru kuserahkan pada Emak. Tapi Emak malah menyebar lembaran rupiah itu seperti daun kering.

“Bagus! Sebar aja, Mak, kayak sampah! Sana urusin adik Emak yang gak tau diri. Yang tidur seranjang sama Airin, pakai pakaian Airin, telepon-teleponan sama pacarnya dari tengah malem sampai pagi. Padahal Airin butuh istirahat dan harus kerja masuk pagi. Emak gak tau kan kalo Imam udah putusin Airin? Ya iyalah, wong Emak Bapak pada sibuk ngurusin si jalang itu!” Aku bertepuk tangan dan mengumpat, mengeluarkan seluruh emosi yang selama ini tertahan. Aku membanting pintu kamar, mengacak-acak seluruh isinya dengan marah. Emak mengejarku untuk memberi penjelasan, tetapi ia terdiam ketika Bapak menemukan sebungkus rokok di tengah kekacauan kamarku.

“Apa-apaan ini?” tanya Bapak memungut rokok itu seraya berusaha meredam emosi.
“Iya, Airin ngerokok. Bapak Emak gak tau kan? Hahaha, kalian sibuk terus ngurusin Bi Amira. Tapi yang dibelain udah gatal pacaran lagi padahal sidang cerai belum kelar. Menjijikkan!” tantangku sinis.

Mendengar itu, Bi Amira menangis terisak. Ia meminta maaf, berjanji tidak akan memakai pakaianku lagi, dan akan segera pergi dari rumahku jika sidang cerai sudah selesai. Baguslah. Aku sudah muak dengan kelakuannya. Sudah cukup lama ia menjadi benalu di keluargaku. Emak dan Bapak juga meminta maaf karena terlalu sibuk membantu mengurusi perceraian Bibi hingga mengabaikan anaknya.

Dua bulan berlalu sejak kejadian itu. Aku berusaha melanjutkan hidup. Bibi Amira juga sudah pindah dari rumahku. Aku tetap bekerja seperti biasa. Suatu hari partner kerjaku tak masuk dan digantikan oleh orang lain. Ternyata penggantinya adalah Mbak Yuni, kakak sulung Imam. Rupanya ia sudah mengetahui sedikit-banyak tentangku. Semula aku agak takut karena konon teman-teman bilang wanita ini terkenal galak. Tapi setelah mengobrol banyak, Mbak Yuni begitu ramah, tak seperti yang mereka katakan. Ia mengenalkanku pada ayahnya yang seorang maintenance di perusahaan ini. Aku tak terkejut karena dulu Imam pernah mengatakannya. Yang mengagetkanku adalah saat ia bilang ibunya bekerja sebagai juru masak catering, bukan owner seperti yang selalu dibanggakan Imam.Sepulang kerja, wanita itu mengajakku mampir ke rumahnya di Bekasi.

Aku terenyak ketika melihat rumah itu dan mendapati Imam juga berada di sana. Begitu pun Imam yang syok melihatku. Rumah itu setengah kali lebih kecil dari rumahku. Dindingnya sudah lapuk, dan setengah bangunannya masih anyaman bambu. Dengan anggota keluarga yang begitu banyak, mereka tidur berjejalan di tikar ruang tamu. Dalam hati aku tertawa, jadi selama ini aku ditipu oleh pemuda miskin tampan tapi bergaya selangit?

“Hai, apa kabar? Kok lo bisa sampe sini?” tanyanya berusaha menutupi keterkejutan.
“Baik. Diajak sama Mbak Yuni,”jawabku datar.

Kini bertahun-tahun bertahun-tahun telah berlalu. Aku tetap menulis seperti yang pernah kukatakan dulu. Aku tak tahu apa ia masih mengupayakan mimpinya menjadi vokalis band atau tidak. Masih teringat jelas saat Imam berkata aku tak pantas untuknya, dan dengan naif aku menangisinya. Tapi sebenarnya dialah yang tak pantas untukku. Sebab aku berhak bersanding dengan cerminan diri yang baik, bukan dengan lelaki penipu.

Rin Ismi, pegiat literasi asal Cikarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here