Gabriel Si Pembawa Pesan, Cerpen Venansius Pea Mole

0
77

*)  Venansius Pea Mole

“Halo sayang, kamu Yoseph kan?”
“Bukan, aku Gabriel.”
“Bohong, kamu Yosep bukan Gabriel si tukang pos itu.”
“Aku Gabriel, dan aku bukan tukang pos.”

“Iya sayang, kamu bukan tukang pos, karena kamu suamiku. Yosep adalah namamu. Gabriel itu tukang pos yang membawa sepucuk surat tentang kehamilanku.

“Kalau kamu hamil, kapan kamu melahirkan? Di mana anakmu sekarang?”
“Anak kita Yosep, bukan anakku saja.”

Begitulah percakapan sehari-hariku dengan salah seorang pasien gangguan jiwa bernama Mariam di satu-satunya rumah sakit jiwa yang ada di kota kami.

Namaku Gabriel, lebih tepatnya dokter Gabriel. Sudah cukup lama aku mengabdi di rumah sakit jiwa ini, sudah hampir sepuluh tahun. Dan sudah menjadi tugasku sehari-hari untuk melayani dan merawat pasien-pasien di rumah sakit ini sepanjang hari.

“Mariam, ayo minum obat dulu. Setelah itu kita mencari anakmu?”
“Anak kita, Yoseph,” sanggah Mariam.
“Iya, anak kita maksudku. Mari minum obat dulu dan setelah itu kita mencari anak kita.”
“Iya sayang. Isya memang anak nakal. Entah di mana sekarang ia bersembunyi.”

Mariam sudah hampir tiga tahun menjadi pasienku. Ia mengalami trauma berat ketika diperkosa dalam keadaan hamil tua. Ia adalah korban perampokan yang sadis ketika itu. Akibat perkosaan tersebut ia mengalami keguguran dan kemudian menjadi trauma berat hingga saaat ini.

Sesungguhnya kondisi Mariam kini terbilang baik dibandingkan satu tahun sebelumnya. Tidak seperti pasien lain yang mengalami stress pasca trauma atau Post Traumatic Stess Disorder yang cenderung cemas, mudah emosional, mengalami panic attack dan sering bermimpi buruk yang berkepanjangan, Mariam setahun terakhir ini cenderung lebih ceria dan komunikatif walaupun ia masih memiliki persepsi dan kepercayaan aneh. Seperti saat ini misalnya dimana ia membangun persepsi bahwa aku adalah suaminya dan kami memiliki seorang anak bernama Isya.

Dalam setahun terakhir, aku mencoba terapi berbicara selain terapi menggunakan obat-obatan dan beberapai terapi lainnya kepada Mariam.

“Mariam istirahat saja ya. Biar aku yang mencari Isya saja.”
“Terima kasih Yosep sayang.”
“Panggil aku Gabriel saja.”
“Ah…, tidak. Kamu bukan tukang pos, bukan pembawa pesan. Kamu adalah Yosep suamiku.”
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu sekarang Mariam istirahat ya.” 

***
“Yosep, apakah kamu sudah menemukan Isya?”
“Belum, Mariam.”
“Sudahkah kamu mencari ke bukit itu?” kata Mariam sambil menunjukan jari ke sebuah bukit yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah sakit.
“Apakah Isya bersembunyi di sana?”
“Iya sayang. Kemarin kulihat dia mendaki ke arah sana.”
“kamu yakin, Mariam?” tanyaku sekedar basa-basi saja.
“Aku yakin sayang. Mari kita ke sana menjemputnya.”
“Besok saja Mariam. Hari ini minum obat kemudian istirahat dulu ya,” ucapku membujuk Mariam.
“Aku tidak mau. Ayo kita ke bukit itu menjemput Isya.”
“Besok saja Mariam. Dan juga mungkin saja sebentar lagi Isya sudah pulang.”
“Yosep, kamu ini suami tidak bertanggung jawab. Kamu tidak punya perhatian sedikitpun terhadap anakmu,” kata Mariam mulai marah.
“Sabar Mariam, besok kita pasti ke sana mencarinya.”
“Bohong. Tinggalkan aku sendirian!” bentak Mariam seraya menuju ke kamarnya.

Brakkk.

Dibantingnya pintu kamarnya dan setelah itu ia menyendiri di salah satu sudut kamarnya.

Kubiarkan Mariam menyendiri dulu. Kupikir Mariam perlu diberikan waktu untuk meredakan emosinya.

***
Suasana gaduh tiba-tiba meliputi rumah sakit jiwa di pagi hari. Penyebabnya adalah Mariam.  Semalam Mariam kabur dari rumah sakit. Mariam berhasil mengelabui para petugas piket semalam dan secara diam-diam berhasil meninggalkan kamarnya.

Tidak ada yang mengetahui Mariam melarikan diri kemana. Beberapa petugas medis segera dikerahkan untuk mencari Mariam di rumah-rumah penduduk sekitar juga ke rumah-rumah kerabatnya.

Kepala rumah sakit jiwa juga telah menghubungi aparat kepolisian agar dapat membantu dan memudahkan pencarian.

Sudah sehari lewat, Mariam belum ditemukan juga. Tiba-tiba aku teringat ucapan Mariam yang ingin mencari anak imajinasinya, Isya, di bukit di belakang rumah sakit jiwa ini.

Dengan tergesa-gesa, aku menuju ke arah bukit di belakang rumah sakit jiwa. Setelah mendaki dan sampai di puncak bukit, aku menemukan sebuah pekuburan umum yang cukup luas. Kupandangi secara cermat sehamparan luas pekuburan umum satu-satunnya di kota ini yang kini telah cukup padat dengan makam-makam yang saling berhimpitan tidak beraturan.

Dari kejauhan kulihat sesosok tubuh perempuan bergaun putih sedang bersimpuh di sebuah makam seraya memeluk salib kecil yang menjadi nisannya.

“Itu pasti Mariam,” gumamku.
“Mariam…, Mariam…, apakah itu kamu?” teriakku.

Aku berjalan pelan menuju sosok wanita yang memeluk erat sebuah salib kayu yang menjadi nisan sebuah makam.

“Sayangku, Yoseph, lihatlah puteramu terbaring di sini,” ucap Mariam dengan mata berkaca-kaca.

Mariam memeluk erat sebuah nisan berbentuk salib bertuliskan nama Isya Putra Dewata.

Makam tersebut ukurannya sangat kecil. Dilihat dari ukurannya, itu adalah makam anak-anak. Entah mengapa Mariam bisa terdampar di makam itu. Dan anehnya pula makam itu bertuliskan Isya seperti nama anak dalam imajinasinya Mariam.

“Ini anak kita, Isya, Yosep. Ia telah pergi meninggalkan kita,” ucap Mariam sambil terisak-isak.
“Mari kita pulang Mariam. Kamu harus beristirahat. Kamu sudah seharian meninggalkan rumah.”
“Tidak. Aku ingin menemani Isya di sini.”

Mariam berkukuh tidak ingin meninggalkan makam tersebut. Sebagai seorang dokter, aku harus berpikir cepat, mencari akal agar Mariam dapat pulang denganku.

“Mariam, aku baru mendapat kabar kalau Isya sudah pulang. Ia sedang menunggumu di kamar.”

Aku tiba-tiba mendapat ide untuk memberitahukan Mariam bahwa anak imajinasinya sudah pulang dan menunggunya di rumah.

Mariam yang sedang terisak-isak tiba-tiba bangun dari tempat bersimpuhnya.
“Benarkan itu, Yosep?”
Trik kecilku sepertinya berhasil mengelabui Mariam.
“Iya benar. Dan aku Gabriel bukan Yosep.”
“Oh, kamu si tukang pos itu. Kamu si pembawa pesan itu. Kamu yang dulu membawa pesan kehamilanku. Gabriel kan namamu?”
“Iya Mariam. Kali ini aku membawa pesan dari Isya dan suamimu. Mereka menunggumu sekarang di rumah.”
“Kalau begitu mari kita segera pulang menemui Isya dan suamiku,” kata Mariam penuh semangat.

Kami berdua lalu meninggalkan bukit pemakaman umum tersebut dan kembali ke rumah sakit.

Kejadian tersebut akhirnya sering berulang beberapa kali. Setiap kali Mariam melarikan diri maka aku akan dengan mudah menemukannya di bukit belakang rumah sakit ini.

Setelah memberikan obat penenang untuk Mariam, aku menuju sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari rumah sakit. Sekedar melepas penat, aku menikmati secangkir kopi pahit yang telah kupesan.

Lagi asyik menikmati secangkir kopi pahit, tiba-tiba kulihat pasienku yang lainnya sedang berlari-lari di depan kedai sambil berteriak-teriak.

“Tuhan sudah mati, tuhan sudah mati. Kita telah membunuhnya hari ini.”

Meninggalkan secangkir kopi yang masih tersisa setengahnya, aku berlari menghampiri pasienku itu.

“Fredrik, ada berita apa hari ini?” tanyaku kepada pasienku yang bernama Fredrik tersebut sambil berlari di sampingnya.

“Tuhan sudah mati dokter Gabriel. Dan kita telah membunuhnya hari ini,” jawab Fredrik.
“Tenang saja Fredrik, tuhan yang mati itu akan diganti oleh tuhan yang baru.”
“Benarkah itu dokter Gabriel?”
“Benar. Hari ini adalah waktu pemilihan tuhan yang baru. Ayo kita bergegas kembali untuk memilih tuhan yang baru. Kamu adalah salah satu kandidatnya.”
“Oh, aku lupa dokter Gabriel. Untung saja ada dokter Gabriel yang merangkap tukang pos dan pembawa pesan ini. Mari segera kita kembali,” ujar Fredrik seraya merangkul bahuku.
“Ayo Fredrik, kita kembali.”
“Tapi dok, saya punya pertanyaan.”
“Apa itu Fredrik?”
“Dok, akan memilih saya menjadi tuhan yang baru kan?”
“Itu pasti. Kamu adalah kandidat favoritku.”
“Terima kasih dok.”

Aku menggandeng lengan Fredrik dan kemudian melangkah santai menuju rumah sakit.

Matahari telah tenggelam di ufuk barat. Lonceng gereja berdentang memecah kesunyian di sore itu. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Seraya berjalan aku berdoa di dalam hati. (Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, maka Ia mengandung dari Roh Kudus…)


Venansius Pea Mole,  peminat sastra dan tinggal di Bajawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here