*) Rahmat Akbar

KEMBALI

Aku kembali membuat malam terasa singkat
Berdialog dengan Tuhan
Membuat jalan-jalan
Mendekatkan diri sampai ketujuan

Kotabaru, 2018

MATAMU

Matamu serupa bencana
Melumpuhkan raga
Maka,
Aku telah membacanya.

Kotabaru, 2018

KUTADAHKAN TANGAN

Kutadahkan tangan
Di sepertiga malam
Berdialog dengan-Mu
Meminta kasih, bertukar cerita
Hingga aku lupa
Waktu sudah menjelang siang

Kotabaru, September 2018

DI PELUPUK MATAMU

Di pelupuk matamu
Melingkar cerita
Riwayat luka
Liar penuh kata.

Kotabaru, 2018

HALIMUN DALAM LUKA

Di tiang waktu
Pupus semua sunyi
Mati semua aksi
Berdarah- perih terisi

Lautmu
Berlumur darah jebakan
Kapal-kapal
Berlayar dihempas gelombang ketiadaan

Daratmu
Sisakan air mata kelam
Motor-motor
Bernafas polusi dan bau busuk sampah jalanan

Hutanmu
Menanak kubangan keserakahan
Gundul
Kemana lari pohon, kemana akar menggengam
Lepas, semua kisah tenggelam.

Halimun,
Sebelum kau bicara
Beringsut hilang lautmu
Dimakan bangunan daratmu
Dibakar resah hutanmu

Maka di tempat ini
Kau telah bicara
Melalui peristiwa luka.

Kotabaru, 2018


Rahmat Akbar, lahir di Kotabaru, Kalimantan Selatan, 04 Juli 1993. Puisinya pernah menggisi beberapa media massa seperti Merapi, Tribun Bali, Media Kalimntan dan sejumlah antologi bersama. Sekarang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan pendiri sekaligus pembina bagi siswanya di komunitas Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here