“Rindu ibarat melaut  ke  dalam hati
Semakin dalam kita berenang,  kita  tenggelam di dalamnya.”

Cinta  tak  pernah salah  dalam memilih. Rasa ini bergetar kapan saja,  dan kepada siapa ia mau datang. Kita tidak  pernah tahu.  Mencintai tak seharusnya memiliki. Tetapi selalu ada rasa yang berdenyut panjang setiap kali ada perjumpaan. Itulah getaran yang kerap  tak  kau duga, kapan dan kepada siapa ia tuju. Tetapi kau harus memiliki harapan bahwa cinta  tidak  pernah lahir begitu saja, ia tumbuh karena ada suatu sinyal yang tidak disengaja oleh Tuhan. Cintailah sejauh kau mampu menuruti kata hatimu. Cinta itu suci seperti biji rosario yang kau ucap setiap kali kau merindukannya, setiap kali kau mengingatnya di kepala dan juga di hatimu.

Adonara, 2018.

Chell, gadis bermata coklat itu tersenyum puas ketika mengamati  riak-riak ombak yang mengecup deretan karang tua di pesisir pantai Wato Tena. Tak ada yang lebih dalam, selain kesunyian dan busa ombak yang tempias setelah bertubrukan dengan gerigi bebatuan pesisir. Dari arah laut, angin berhembus kencang. Beberapa pohon tua ambruk setelah ditimbus angin. Laut siang itu amat jinak, seperti  rindu pemuda itu kepadanya. Rindu yang teramat gigil.

Pantai berpasir putih memajang jauh. Di  pesisir, ada beberapa batu besar yang menjorok ke laut. Beberapa rumah payung di dirikan di atasnya. Pemuda itu duduk bersebelahan dengannya. Mereka memandang  jauh, sambil sesekali berpapasan lama. Hening. Masih terdengar gemuruh ombak  yang terbantun ke bibir pantai. Sesekali terdengar  derit kayu yang patah ditimbus angin atau pun cerecit burung-burung pantai yang bertengger di cabang pohon bakau. Chell membuka percakapan waktu itu, saat matahari tumbuh di ubun-ubun kepala.

“Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, saya mau melanjutkan S2 di Australia”, ucapnya.

Tidak, jangan bilang pertemuan ini  yang terakhir, masih banyak pertemuan yang akan kita jalani nanti. Kata pemuda itu meyakinkan.

Tangan mereka  makin  rapat. Jari-jari mereka mengerat kuat. Terbaca jelas bahwa  mereka tak mau dipisahkan oleh jarak dan waktu. Di sebelah pantai anak-anak kecil bertelanjang dada bermain ombak dengan asyiknya. Sesekali mata mereka menghujam ke mari, mencuri pandang dua sejoli yang lagi asyik memadu cinta.

“Peluk…,peluk…”, kata gadis itu  dengan nada sedikit manja.

Lelaki itu menyorongkan tubuhnya 50 derajat dari sebelumnya.

Mereka berpelukan. Pelukan yang amat dalam.

Sesekali gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Mereka duduk terenyun, diam, lalu merunduk malu-malu. Lipstik gadis itu merah merona, lamat-lamat semakin luntur setelah ciuman itu mendarat tepat di bibirnya. Gadis itu tersipu-sipu, matanya dalam memandang mata lelaki itu. Sesekali ia melempar pandangan jauh, ke arah pantai,  sambil  menggisar rambutnya yang mulai berantakan diterpa angin. Pemuda itu menghela rambutnya dengan jarinya. Mereka duduk seolah bisu.

Setelah semuanya berlalu mereka tertegun. Langkah kaki mereka menyeret debu. Sambil duduk beralaskan pasir, mereka  memandang jauh, mengamati perahu yang nimbrung di tengah laut sambil melemparkan jala dan mendaratkan sauhnya di dasar. Tak ada yang mereka percakapkan lebih  jauh  selain pelukan-pelukan kecil yang merambat pelan. Langit amat kusam sedari tadi. Mendung. Gerimis menetas  kecil. Mereka berlari pelan menghampiri beberapa pohon tua yang berdiri megah di pesisir pantai, sambil menatap telapak kaki mereka  yang masih tertancap di pasir itu.

Setelah petang merembang jauh, mereka pulang dengan rindu yang kian lumut. Motor Gl Max siap tancap gas menuju pasar Waiwerang.  Rasa lapar   itu  terus menggamit. Yang tertinggal hanya bekas kaki pejalan yang setia melarungkan kenangan-kenangan setelah rindu dilipat dalam doa-doa. Semoga esok mereka bersua kembali. Cuma waktu yang bisa menjawabnya.

Hinga, Adonara-2018


Yurgo Purab berasal dari Lewotolok-Amakaka-Lembata. Penulis Buku Kumcer “Merantau”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here