KETIKA KOTA (TERBAKAR)

Kota terbakar
Malam
Yang menipu kita
Dengan sejumlah puisi sulit

Kota-kota
Tenggelam
Setelah sukses
Memberi tipu daya
Atas kita

Menyajikan berhala-berhala yang berjalan
Nyaris tanpa pakaian—

Barangkali
Kota
Telah lama terbakar

Terlalu murah
Ditafsirkan

Surabaya, September 2018

ADA YANG SENANTIASA LEPAS

Ada yang senantiasa lepas dari bahasa
Ketika hari lengkap menyusun ruang
Puisi yang terbunuh di ujung pagi
Kalimat-kalimatku yang tak lekang menyusur pecah jejakmu
Ditiriskan cuaca yang menulis batu-batu

Siapa kau sebut bertanya pada cahaya
Yang menimpa daun-daun
Di sore yang luruh
Mengeja kita yang lain?

Kata-kata hanya ingin kembali
Menyusur jejak yang pecah
Barangkali kau
Yang tak terkatakan
Dalam puisi ini
Mengeja hari yang lengkap
Menyusun ruang yang lain
Di sudut yang tak pernah lagi kubaca.

Di mana malam
Yang senantiasa sembunyi
Ke dalam palungmu
Memiuhkan sunyi kata
Yang mati
Ke dalam palungku maha renung?

Ada yang selalu lepas dari bahasa
dan aku yang mengeja dengan sejuta perumpamaan tak pasti
jejakmu yang pecah
di ujung sebuah puisi
yang mati
terbungkam sunyi kalimat-kalimatmu

Surabaya, September 2018

BUKAN SAJAK CENGENG

Kurindukan wangi pagi
Dan mimpi yang tumpah
Di atas secangkir kopi
Mengeja sunyimu—

Dan kita yang tak pernah mengerti
Perjalanan rindu
Musim-musim patah
Di jendela, mengaburkan aroma kisah
Yang menjadi perumpamaan bunga-bunga di halaman

Tanya yang tak tertafsir, sebelum kita kembali tergugup
Mengucap satu-satunya rahasia(bukankah rindu adalah kecengengan
yang tak pernah dikhatamkan waktu di buku-buku kesunyian?)

detik gugur
di ujung sebuah senja
yang palsu

terlupa namamu
juga muara
dari seluruh sunyimu
yang rimbun
mengeja jejak
jejak yang mengulang sebuah fase

Surabaya, September 2018

SELURUH PAGI

Seluruh pagi
Menjadi tumpuan
Bagi bahasa
Yang ingin kau tuliskan, sebagai sejarah
Yang kelak dirangkum para penyair
Dalam puisi-puisinya yang kekal

Surabaya, September 2018


Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media massa dan antologi bersama. Buku kumpulan puisi tunggalnya TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal (2018). Mahasiswa di Prodi Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here