Gudang

Ingatanku cuma lahan lapang yang memelihara
gudang. Semata masa silam yang menjulang
bagai gedung yang berupaya menyentuh
langit matamu.

Rerongsokan kenangan dalam ingatanku
yang berkarat ini hanyalah gudang tua
berisi seluruh masa lalu yang selalu kau
coba lupakan.

Kepergian membuatku membiarkan seluruh
yang berlalu tanpa arti. Membuat aku sengaja
membiarkan gelandangan bersusah payah
berjalan seorang diri di jalanan.

Pada akhirnya kita tahu. Hidup semata mengisi
kekosongan ke dalam diri sendiri. Di balik itu
hanya ada kata menanti.

Mendengarkan Diri Sendiri

Aku seperti cuaca di pagi hari
yang goyah-gelisah memutuskan
berair atau bersinar di sepasang mataku.

Kau malam yang panjang, menciptakan
kesunyian di sepasang mata seorang peronda
berjalan seorang diri melewati lampu-lampu
jalan mati dan jalanan yang menyempit.

Lagu yang kudengar malam ini,
menjelma suaramu di ujung telepon
terakhir itu. Kalimat selamat tinggal itu
serupa permintaan bertahan semata
untuk memastikan kesetiaan orang lain.

Menyusuri Jalanan Malam Seorang Diri

Aku belajar menghormati jalanan
yang aku susuri seorang diri.

Kita menjelma ilalang panjang
atau bunga rumput yang berembun.
Aku menghampirimu dan kau
menyambutku sebagai dunia yang lengang.

Orang lain menjelma sebagai batas.
Membelah keinginanku menjadi
beberapa potongan—aku menginginkanmu,
tetapi kau tidak. Seperti lilin yang menolak
menyala di dalam gelap kamar tidurku.

Menulis Puisi di Waktu Petang Datang

Seluruh lagu yang kudengar semata mampu
membuatku tetap berdiri sendiri di sini.
Membiarkanku berbicara kepada cahaya
dan dinding usang sebagai lorong ingatan.

Seluruh kata kau kecup dalam puisi
yang aku tulis pada kertas yang pada akhirnya
bertebaran setelah langkah kakimu hari itu.
di langit-langit mataku. Hanya menjadi
kemungkinan-kemungkinan. Sebab
seseorang telah terlanjur menyentuh
dadaku dengan cinta yang belum lengkap.

Sudah terlalu sering kau buat aku senang
dan bahagia, katamu. Tetapi kita tahu
pada akhirnya kita sudahi kebahagiaan itu
hanya dengan perasaan-perasaan cukup
dan memiliki rasa sakit.

Menyerah

Hidup adalah kesepian bagi seorang yang mencintai kehidupan.
Kau selalu berusaha menghindari kekosongan. Jika tidak ada
yang bisa diajak bicara, maka kesedihan selalu siaga menanti
kata-kata paling puitis menetes dari bibirmu.

Kebosanan mengubah seseorang jadi pembunuh waktu paling dingin.
Kesetiaan akan tiba ketika kegelisahan mampu membawamu kepada
pikiran dan perasaan yang gampang memaafkan seluruh kesalahan
pada segala yang telah dan yang akan terjadi.
Kini aku hanya mampu menyadari, bahwa di penghujung
malam dan siang, aku cuma perlu menyerahkan diri pada waktu
dan tidak perlu memelihara dugaan.

Bercermin

Aku berdiri di depan cermin. Kulihat rambutku seperti hujan
atau jalan lengang di malam hari. Bibirku seperti sedang
menafsir kedalaman goa di atasnya. Mata sipitku
seperti masa nanti yang murah

Aku berdiri di depan cermin sambil mencengkeram kepala.
Gampang lelah dan gampang pasrah, kususuri garis leher,
punggung ke pinggang hingga punggung kakiku, kokoh
dan ingat aroma hangat rahim ibu juga kecut keringat ayah.
tungkai kakiku seperti tangkai pohon Alaban muda
sebelum jadi kayu bakar, serimbun semak dan aku
membayangkan kau kembali jadi Rahim

Aku remaja abadi tanpa sehelai benang di depan cermin
tidak punya masa lalu di negeri jauh, hanya masa kini
yang menanti masa nantimu.


Abdul Karim, berasal dari Murung Raya, Kalimantan Tengah. Lahir di Tumbang Masao pada 21 Oktober 1996. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin, anggota aktif Tarekat Warna Fotografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here