JAKARTA-FS, Dalam rangka memeriahkan Hari Puisi Indonesia 2018, gerakan 1000 guru Asean menulis puisi yang digagas oleh Asrizal Nur dari Rumah Seni Asnur  bersama Tim Kurator telah melalui proses panjang dan kini tengah dilakukan persiapan acara peluncuran yang akan digelar di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, pada tanggal 24 September 2018.

Buku antologi puisi yang berjudul Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu yang memuat karya para guru dan dosen dari tiga negara yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam ini ternyata memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) untuk kategori Antologi Puisi oleh Guru Terbanyak karena menghimpun 1000 penulis.

Azrizal Nur, sang inisiator menjelaskan “Buku antologi ini terwujud karena adanya apresiasi yang tinggi dan respon positif dari para guru dan dosen sehingga gerakan ini berdampak terhadap guru dan dosen untuk terus berkarya,” akunya.

Puisi, menurut Nur adalah karya seni yang adiluhung, yang tidak saja dapat meningkatkan kecerdasan bangsa tetapi juga memberikan motivasi, pencerahaan yang muaranya memperkuat karakter bangsa. oleh karena itu aktifitas  puisi mesti terus digerakkan dengan segala upaya, diantaranya merayakan Hari Puisi Indonesia 2018 ini dengan melibatkan guru.

“Oleh karena itulah,  Perkumpulan Rumah Seni Asnur membuat terobosan dan gagasan gerakan akbar Guru Asean menulis Puisi. mengajak guru-guru menulis puisi sebagai awal dari usaha menggerakkan puisi di sekolah” lanjutnya.

Gerakan 1000 guru menulis puisi ini sebenarnya bermula dari kegiatan penerbitan buku Antologi Puisi Guru “Musafir Ilmu” diikuti  oleh 97 peserta dari Indonesia , Malaysia, Singapura dan diluncurkan dengan pembacaan dan workshop puisi yang dilaksanaka pada 26 Mei 2018 silam di Theater Studio Rumah Seni Asnur, Depok.

Pada ketika itu kegiatan diikuti dengan antusias oleh para guru. Kegiatan tersebut ternyata tidak saja memotivasi guru untuk berkarya tetapi juga berdampak pada martabat  guru di sekolah ketika puisi-puisi mereka yang ada di dalam buku tersebut dibaca oleh Kepala Sekolah, teman-teman guru hingga murid-muridnya.

“Makanya setelah kegiatan ini berhasil terlaksana, guru-guru yang terlambat mengirimkan puisinya atau yang telat mendengar kegiatan antologi puisi guru ini termotivasi pula untuk ikut serta kegiatan serupa berikutnya, makanya para guru bahagia dan sangat antusias ketika mendengar bahwa Perkumpulan  Rumah Seni Asnur kembali menyelanggarakan acara serupa terlebih dengan kegiatan lebih besar lagi” jelas Nur

Sama seperti kegiatan Pentas Puisi dan Penerbitan Antologi Puisi Guru Musafir Ilmu, Gerakan Akbar 1000 Guru Menulis Puisi dilaksanakan dengan semangat gotong royong dan mandiri. Kali ini setiap peserta berkontribusi dengan biaya Rp 250.000,- pada mula kompensasinya hanya mendapat 1 buku Antologi puisi setebal 1000 halaman  dan sertifikat dari penyelenggara, namun dalam proses perjalanan gerakan ini kemudian berkembang. Peserta tidak saja dhanya mendapat 1 buku mewah setebal 1000 halaman dengan kata pengantar oleh Kritikus Sastera Indonesia semisal Maman S. Mahayana dan endorsment para penyair nasional antara lain Sutrdji Calzoum Bachri, Rida K Liamsi, Hasan Aspahani, Sofyan RH Zaid dan  Syarif Bando (Kepala Perpustaakan Nasional ) dan Diki Lukman Hakim ( Kepala Satuan Pelaksana PDS HB Jassin ), tetapi penyelenggara memberikan apresiasi lebih dengan hadiah sejumlah Rp.25.000.000 untuk 1 Puisi terbaik dan 4 Puisi Pilihan serta dipilih juga judul puisi pilihan untuk dijadikan cover buku antologi puisi guru yang diterbitkan.

Menurut Nur, penyelenggara berusaha semaksimal mungkin biaya gotong-royong peserta menjadi sebuah event monumental dan spektakuler dengan bantuan beberapa pihak yang peduli pada perjuangan Perkumpulan Rumah Seni Asnur ini.

Acara peluncuran digarap dengan konsep multimedia, dengan sound system yang lengkap dan diperkuat dengan kualitas tata cahaya, membuat acara semakin megah. Kemegahan acara semakin meriah ketika ruang loby gedung dipenuhi banner dan foto-foto kegiatan sehingga tergambar betapa spektakulernya acara ini.

Peserta yang hadir tidak hanya menonton dan mengambil buku saja,  tetapi juga terlibat mengisi acara, penyelenggara memfasilitasi mereka untuk tampil. Ada yang mengisi acara di Pertunjukan Puisi Kolosal, Paduan Suara Mars Indonesia Raya dan Mars Gerakan Guru Menulis Puisi yang sengaja dicipta oleh Asrizal Nur dan Ravelz Guchi dan arransemen oleh Andhika Monthong  menjadikan acara semakin bermartabat, sebagian peserta yang lain terlibat juga tampil di Prosesi Penyerahan Anugerah.

Sementara beberapa peserta lainnya dipilih untuk tampil di Parade Puisi Guru dan perwakilan peserta yang masuk nominasi tampil pada malamnya bersama penyair terkemuka Indonesia dan pejabat negara.

Begitulah penyelenggara memartabatkan guru dan memuliakan puisi. Tidak hanya melahirkan buku antologi 1000 halaman, menciptakan rekor MURI dan memberi hadiah kepada peserta pemenang, penyelanggara juga mengusahakan penginapan dan makan kepada 200 peserta di luar Jabodetabek.

Motivasi penyelenggara membuat acara ini adalah memartabatkan guru memuliakan puisi dan memasyarakat puisi ke sekolah sehingga puisi menjadi bergerak dan penting dalam rangka mencerdaskan dan memperkuat karakter bangsa sebagaimana ditulis Sutardji Calzoum Bachri dalam catatan untuk buku tersebut. Menurut Bachri  guru adalah jembatan dan juru penerang pertama dalam apresiasi sastra bagi para siswanya.

“Para guru mencicipi karya sastra dan mencicipi (baca: menghayati) sejarah kesusasteraan dan memperkenalkan cicipan/selera (apresiasi) mereka kepada para siswa, sebagai bandingan atau masukan bagi selera/apresiasi awal yang telah ada atau yang mungkin ada dari para siswa. Dengan demikian minat dan apresiasi sastra siswa diharapkan bisa diperkaya atau terbangkitkan.” tulisnya.

Oleh karenanya, puisi bukan hanya menjadi milik penyair, penyair bertugas mencipta puisi dan masyarakat luaslah yang akan menikmati dan membaca puisi itu. Semakin banyak masyarakat membaca puisi karya penyair tersebut maka semakin besar pulalah manfaat puisi. Untuk tujuan itu, ruang bagi keberadaan puisi mesti dibuka seluas-luasnya. Puisi harus keluar dan bergerak dalam masyarakat dan menjadi budaya massa agar tidak menjadi kenangan belaka. (editor:kbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here