Di Ndoso, utara adalah wilayah keramat. Kata kalian, di sanalah rumah para kakartana[1]: kegelapan hutan, sunyi di antara pepohonan dan halimun yang basah pada tanah. “Jangan sekali-kali main ke sana!”, ine[2] menatapku tajam. Dari mulutnya keluar aroma cepa[3] yang menyengat, “Apa mau kau diculik darat[4]?”

Setiap pagi, sebelum aku dan kalian meluncur ke sawah, ine selalu berujar demikian. Kalau ada ame[5], ia selalu melirik dahulu, seperti meminta restu menasihati laki-laki kedua di gendang[6] ini.

Aku anak laki-laki tunggal—saudariku enam orang, namaku War. “Tidak ada di antara keenam saudarimu yang berharga. Kau seorang”, itu kata-kata ame. Ia mengatakan aku seperti larik[7] yang menyala di langit.

Kraeng[8] War, begitu kalian memanggilku.

“Kau kraeng, karena dalam darahmu mengalir Langit dan Bumi, yang terbesar di Timur sekaligus di Barat”. Tapi setiap kali terluka, kita menumpahkan merah darah yang sama.

Kalian juga bilang, kelak, ketika dewasa, aku akan menjadi tu’a golo[9]—kepala dari semua laki-laki bukit. Gendang akan menjadi milikku.

“Tapi aku tidak ingin dewasa”.

Dan kalian tertawa: Pondik dan Lanur. “Kraeng, aku hanya mendi[10], kelak aku hanya akan mengusahakan sehampar kebun di Ndoso”, kata Pondik. “Dan, kau akan menjadi rang beo[11]”, Lanur melanjutkan sambil memeluk perutnya.

 “Tapi aku sungguh tidak ingin dewasa. Dewasa berarti tidak bahagia. Hanya tubuh anak-anak ini yang mampu menyisipi celah cunca[12] dan bermain di kolong gendang”.

Tawa kalian pecah lagi. Aku juga. Waktu itu aku merasa, kelak, kita akan berada di pang be le[13] yang sama.

***
Pagi. Parn awo[14]—matahari terbit di timur, seharusnya. Tapi di luar hanya ada kabut. Gendang tampak gelap pagi itu. Suara-suara riuh. Wajah ame-ku penuh peluh. Pembicaraan orang-orang seperti bertukar tangkap dan lepas. Sesaat seorang tua mencengkeram kerah baju pemuda pucat yang lain. Suaranya meninggi.

“Pemuda pucat itu ame-ku”, Nggerang berkata.

Aku mengarahkan telunjukku ke bibirnya, memberi isyarat untuk diam. Anak perempuan dilarang bermain dengan laki-laki. “Kalau kau ketahuan menguping dari kolong gendang, kau akan dihajar wase tete[15]. Aku tidak ingin kau terluka. Kulitmu indah.”

Ame—ayah-mu, diam dalam selengka[16]-nya. Kepalanya tertunduk. Dia mengepalkan tangannya erat-erat. Tapi, di kepalan itu, ada berpuluh peluh.

“Dia sudah menyalahi pemali, dia menikahi kakartana”, geram lelaki tua itu. Lelaki tua itu, tu’a teno[17].

“Tegaslah kraeng tu’a”, tu’a teno menatap ame-ku dengan tajam. Ada yang merah di ujung matanya.

Berkali-kali ame-mu, Nggerang, meneguk kopi di pagi yang dingin itu, tapi tubuhnya tetap gemetaran.

***
Malam datang. Bulan hampir penuh. Malam itu semua laki-laki kampung berkumpul sekali lagi di gendang. Tidak ada gelas-gelas kopi. Kata ame, semuanya darurat. Ia tidak boleh membiarkan pemali mengisi hari-hari penyembahan Langit dan Bumi. Perayaan itu akan jatuh saat purnama.

Ame-ku menghela nafas panjang sebelum ia menyampaikan: “Mau tidak mau, kau, Awang, harus keluar dari kampung”. Ada senyum kemenangan di wajah tu’a teno.

Tu’a teno kemudian melanjutkan, “rewung taki tana[18], akan menyusul kepergian mereka dari Ibu tanah!”

Waktu itu, aku mengharapkan gemeletuk air di periuk tanah bersuara keras. Atau suara asu yang menggonggong di kejauhan itu menyumbat telingaku. Aku kira, kebisuaan ine juga mengisyatkan kesedihan yang sama, sebab dari kedua matanya mengalir beberapa tetes embun.

Semua begitu tiba-tiba. Aku muak. Memberontak. Aku melompat dari gendongan ine dan mengasing ke malam gelap. Jam telah larut: Aku cemaskan kau, Nggerang. Di kedua mataku ada basah yang resah: aku menangis, tapi tidak ingin mengakuinya.

Kebencianku malam itu menyala, waktu aku kembali dari kegelapan malam (sebenarnya aku sembunyi di kolong gendang), akhirnya ame memukulku dengan wase tete. Dua kali. Cambukkan di betisku yang ranum tidak terasa, tapi api yang membakar kedalaman hatiku sungguh panas. Dan menyakitkan.

Lalu, sejak saat itu larangan untukku dipertegas. Dan diperbanyak. Hampir semua tempat menjadi Yang Terlarang. Aku takkan bisa ke sana Pondik, Lanur, Nggerang. Kita takkan menyisip celah cunca lagi. Entah mengapa, malam itu, di sela-sela tangisanku, aku berharap segera tumbuh dewasa.

***
Hati anak-anakku akan berubah menjadi hati pemuda. Bagaimanapun ame, tu’a golo, terlalu tua untuk melakukan segalanya. Ia mempercayaiku untuk menjaga kebun pisang dari kepungan kera.

Aku memimpin Pondik dan Lanur. Sudah tiga hari kami di perbatasan kampung. Pondik sudah menjerat empat but[19] dan dua ayam hutan. Lanur sudah memukul mati seekor kera. Aku sudah menombak seekor babi hutan. Dalam perencanaan, besok kita akan pulang.

Tapi senja ketiga itu, aku mendengar nyanyian. Merdu suara itu datang dari utara. Pondik mengingatkan kakartana memang memunyai suara yang merdu, tapi aku tidak percaya. Mendengar itu, Lanur dengan acuhnya mengatakan kami berdua sinting.

“Aku akan masuk”
Kraeng, jangan. Tidakkah kraeng takut dengan titah kraeng tu’a golo?”
 “Aku takkan ikut. Kalau kau berani, aku akan melapor pada ame-mu”, ini suara Lanur. Ada ketegasan di suaranya, tapi di matanya aku melihat ketakutan. Ia mirip seperti ayahnya, tu’a teno.

Aku mengambil korung[20] dan segera berlari ke arah hutan. Dari kejauhan aku mendengar deru panggilan mereka meredam.

***
Waktu itu matahari bergerak—kolepn sale[21]. Dapat kulihat sinarnya menerobos dari celah dedaunan. Sesekali di bagian selatan dan timur kulihat beberapa babi hutan. Kalian selamat kali ini, kataku dalam hati.

Aku masuk lebih dalam lagi. Ternyata area tengah hutan itu lebih lengang dari perkiraan. Hanya ada alang-alang, perdu dan ubi kayu.

Oh Langit dan Bumi, ada seorang gadis sedang memetik daun ubi kayu. Rambutnya tersibak angin. Tingginya semampai, pinggulnya berisi dan wajahnya cantik sekali. Kulitnya seputih getah kina.

Aku belum mengatakan “Tabe yo nduk[22], ketika ekor matanya menangkap kehadiranku. Di wajah cantik itu tergurat kecemasan, ia berlari sekuat tenaga. Tapi aku tahu, songke[23] menghambat geraknya. Dengan gesit, seperti memotong jalur pergerakan babi hutan, aku berlari diagonal. Aku berniat menangkap tangannya. Tapi kakiku terantuk dedahan patah. Aku rebah dengan kedua lenganku memeluk tubuh gadis itu. Aku menyampaikan permohonan maaf berkali-kali. Aku bersumpah ame-ku, tu’a golo, tidak pernah mengajariku cara mencurangi perjumpaan.

Melihat tingkahku, gadis itu tertawa. Manis sekali. Di antara gelaknya, ia berkata “Ikutlah, mungkin kami yang harus berterima kasih pada kau”.

***
Aku mendengar nggong[24] ditabuh dari kejauhan. Ada suara anjing menyalak. Ada riuh yang mendekat. Dari balik perasaan lelahku, aku mendengar panik suara Pondik, “Kraeng War…”. Di belakangnya ada ame dan laki-laki sekampung. Wajah mereka tidak ceria.

Aku dibawa ke gendang. Perempuan sekampung sudah menunggu. Ine menangis. Ia lemas dan berbaring di kamar. Tapi, kata ame, dia akan baik-baik saja.

“Kamu harus menceritakannya nana[25],… sejujur-jujurnya”.

Apa aku akan dihakimi karena melanggar perintah ame? Aku dapat saja berbohong, tapi kebohongan adalah senjata para pecundang. Maka, aku berkata; “Aku memang memasuki wilayah larangan itu ame!” Wajah ame  memucat.

“Apa yang kau lihat di sana. Bagaimana rupa mereka?”
“Mereka? Aku tidak ingat apa-apa”.
“Sungguh kau tidak ingat apa-apa? Kau menghilang empat hari nana”.

Aku membisu.

“Sebaiknya kau istirahat War”, timpal tu’a teno.

Aku kemudian berbaring di atas loce[26]. Lelap. Di dalam mimpi, aku ingat nama perempuan di tengah hutan terlarang itu: “Namaku Nggerang, War. Kau ingat, kan?”.

Ya Langit dan Bumi betapa cantiknya dia. Aku ingin sekali meneriakkan namanya.

***
Waktu itu, di jam larut, kata Lanur kemudian, aku mengamuk. Di antara gigiku tumbuh taring. Di sekitar wajah dan lenganku tumbuh bulu-bulu halus. Aku kehilangan diriku. Menggigit. Mencakar siapa saja: orang-orang—tua dan anak-anak, saudari-saudariku, ibu bahkan Ayah.

“Lalu, kemudian, bagaimana aku dapat tenang?”, aku menatap Lanur. Bertanya-tanya.
“Kau tenang, setelah menghabisi ayahku”.

2018


Yogi D Warut, lahir di Ruteng, 3 Agustus 1996. Sekarang, tinggal di Ritapiret dan menjadi anggota Teater Tanya.

[1] Kakartana: Makhluk halus.

[2] Ine: Ibu.

[3] Cepa: Sirih pinang.

[4] Darat: Salah satu jenis makhluk halus yang menyerupai manusia.

[5] Ame: Ayah.

[6] Gendang: Rumah adat di Manggarai.

[7] Larik: Cambuk yang digunakan dalam permainan caci (Caci: Tarian perang manggarai, juga sejenis permainan adu cambuk tradisional).

[8] Kraeng: Bangsawan.

[9] Tu’a golo: Kepala kampung.

[10] Mendi: Budak.

[11] Rang beo: Lambang kejantanan kampung (dapat juga laki-laki terkuat di kampung).

[12] Cunca: Air terjun.

[13] Pang be le: Dunia di seberang, tempat orang-orang mati pergi dan hidup setelah kematian.

[14] Parn awo: Matahari terbit di Timur.

[15] Wase tete: Tali dari batang ubi jalar.

[16] Selengka: Bersila.

[17] Tu’a teno: Kepala pertanahan dalam sebuah kampung. Ia bertugas membagi tanah ulayat.

[18] Rewung taki tana: (harafiah kabut yang melayap di bumi) Sebuah fenomena alam di Manggarai di mana kabut tebal turun sepanjang hari.

[19] But: Burung Puyuh.

[20] Korung: Tombak.

[21] Kolepn sale: Matahari terbenam di Barat.

[22] Tabe yo Nduk: Permisi Nona.

[23] Songke: Kain adat Manggarai.

[24] Nggong: Gung.

[25] Nana: Panggilan untuk anak laki-laki.

[26] Loce: Tikar.

5 KOMENTAR

  1. Rasanya, terlalu banyak catatan kaki. Salah satu strategi untuk menghindari catatan kaki yang terlampau banyak adalah dengan ‘memasukkan’ terjemahan di tubuh cerita. Kata tu’a golo Pada kalimat ini yang sesunguhnya tidak memerlukan catatan kaki: “….aku akan menjadi tu’a golo[9]—kepala dari semua laki-laki bukit.”

  2. Ceritanya menarik, teruskanlah….. Setiap kosakata daerah tidak perlu diberi catatan kaki. Penulis bisa mnterjemahkan langsung di tubuh cerita, lain kalau hanya satu atau dua saja mungkin gk apa-apa apalagi pada sebuah narasi cerita pendek.

    “Kraeng War” ada satu kampung disana namanya kampung War. Apakah penamaan kraeng War terinspirasi oleh nama kampung itu atau hanya kebetulan sj? Nk rbo kepo ckoen ite….hhhhh salam n sukses trus….

    • Terima kasih. Yah; begitulah. Setelah karya ini dimuat redaksi, saya pun mendapat banyak masukkan tentang catatan kaki. Memang, efektifitasnya kurang jika terlalu banyak. Ada banyak usulan untuk memasukkan catatan kaki ke tubuh cerita. Saya kira, itu sebuah masukan yang kencana hehehe

      Mengenai nama “war” sebetulnya memang ada kampung yang bernama demikian di Manggarai. Nenek saya berasal dari sana. Namun, karena akses jalan yg belum diperhatikan pemerintah, selama bertahun-tahun, saya belum pernah pulang kampung. Barangkali karena rindu, maka di sela-sela proses pengendapan saya memutuskan nama tokoh cerita ini “War” hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here