Di luar hujan. Gemericik air jatuh menyiram bougenvil yang ada di bawah jendela kamarku. Kesiur angin membuat gorden melambai-lambai tak tentu arah. Dinginnya menusuk tulang. Gemuruh sesekali bersahutan, seperti ingin menumpahkan kekesalan. Aku masih terpaku dengan segelas coklat panas di tanganku. Balkon ini terasa lengang sejak Noe tak lagi ada di kota ini.

Kulihat bayangnya menari-nari di pelupuk mataku. Aku tahu, saat ini aku sedang rindu. Rindu seorang Noe yang dulu selalu ada di sekitarku. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh. Barangkali karena kedekatan kami, aku merasa Noe adalah milikku. Tapi ketika dia ada, aku tidak merasa ingin memilikinya. Karena menurutku, Noe tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan selalu ada di sini untukku. Menemani sedih dan tawaku.

Aku menyentuh buku harian bersampul biru tua itu. Kuletakkan coklat panas di atas meja. Aku menatap buku harian yang sejak sebulan lalu telah berada di kamarku. Aku tahu, ada sebuah rahasia besar di sana. Noe menitipkannya pada mama. Dan baru seminggu yang lalu aku berani membukanya. Seperti yang sudah kukatakan, Noe menulis rahasia besar di buku itu.

Bukan aku tidak mau membaca buku harian itu. Hanya saja, itu kulakukan sebagai bentuk protesku pada Noe. Dia pamit tanpa menemuiku sore itu. Aku merasa diabaikan. Noe tidak pernah berlaku dingin layaknya kemarin. Kepergiannya ke salah satu kota kecil di Amrik membuat aku merasa dicampakkan. Aku tahu Noe akan kembali, meski aku tidak bisa pastikan kapan hari itu datang lagi.

Aku menarik napas dalam. Noe membuat aku merasa sangat kehilangan. Buku harian itu seperti menamparku dari sisi mana pun. Bodoh sekali, karena tidak pernah menyadari bahwa Noe mencintaiku. Anak laki-laki itu selalu saja perhatian, sementara aku tidak tahu bahwa itu adalah bentuk dari rasa cintanya.

Hujan semakin deras. Aku memeluk buku harian itu. Aku sangat merindukan Noe. Salahku yang terlambat menyadari bahwa aku pun juga telah jatuh hati. Aku mengabaikan segala ucapan Noe ketika dia bilang bahwa dia suka padaku. Saat itu, aku merasa Noe sedang bercanda. Noe dekat dengan Nabila, dan aku pikir dia sedang mencoba merilekskan diri dengan mengatakan itu padaku, sebelum diungkapkannya pada Nabila.

Ternyata aku salah, Noe tulus mengatakan itu untukku. Buku harian ini telah menceritakan semuanya. Tulisan tangan Noe ini telah memberikan kejujuran seutuhnya. Dan aku merasa waktu tidak berpihak padaku. Sebab saat aku tahu semua kebenaran tentang perasaannya, Noe telah pergi jauh dari kota ini. Dan aku sangat menyesali itu.

Aku teringat sesuatu. Malam itu, aku menangis di pelukan Noe. Hatiku terluka karena Saga tidak bisa membalas perasaanku saat itu. Ya, aku mencintai lelaki lain. Dan aku menangis di pelukan Noe saat lelaki yang kucintai ternyata mencintai gadis lain. Noe menepuk pundakku. Mengusap rambutku dengan lembut. Lalu dia menenangkanku dengan mengatakan, “Aku di sini untukmu.”

Aku tidak tahu bahwa saat itu Noe juga terluka. Aku tidak tahu tentang perasaannya. Dan aku tidak cukup peka dengan semua yang dikodenya. Aku tidak pernah berpikir bahwa Noe, sahabatku itu, akan jatuh cinta padaku. Namun aku tahu, Noe tidak seegois itu. Dia tidak pernah menyampaikan rasanya padaku. Barangkali dia takut aku menjauh. Atau dia takut kehilangan persahabatan ini.

Mataku kembali panas. Aku merasa ada gumpalan air yang hendak keluar. Aku menggigit bibir bawahku. Berusaha menahan segalanya agar tidak meledak. Aku baru menyadari, bahwa jauh dari Noe adalah keputusan terberat. Aku tidak mau itu terjadi, namun nyatanya saat ini Noe sudah pergi. Noe tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Sama sepertiku dulu, yang tidak tahu mengenai bentuk perasaannya.

Sejak kepergiannya hari itu, aku dan Noe belum sempat berkomunikasi. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Noe tidak mau menghubungiku. Dan aku sendiri, belum siap untuk mendengar suara yang sangat kurindukan itu. Aku takut menangis ketika berbicara dengannya. Dan aku tahu Noe tidak suka melihat aku menangis.

Aku kembali menatap hujan yang masih setia membasahi pekarangan. Biasanya, aku dan Noe akan menghabiskan waktu di balkon kamar ini. Melakukan hal-hal yang mengundang tawa. Atau hanya sekadar berbagi cerita tentang cita-cita. Aku sangat merindukan sosoknya. Aku rindu Noe sebagai teman cerita yang setia. Dan aku rindu melihat senyum di wajah tampannya.

Aku tahu, kepergian Noe ini ada kaitannya dengan diriku. Buku harian itu mengatakan, bahwa Noe memilih pergi untuk bisa melupakan perasaannya sendiri. Dia tidak ingin aku terluka karena perasaan cintanya. Noe ingin menyendiri. Melakukan banyak hal agar perasaannya pergi. Dan saat itu terjadi, Noe akan datang menemuiku dengan pribadi yang lebih baik lagi.

Aku sendiri menyimpan takut. Takut jika ketika Noe kembali, perasaanku yang tak mau pergi. Aku takut Noe telah membuat janji untuk tidak mencintaiku lagi. Padahal aku ingin sekali mengatakan padanya, bahwa di sini aku juga mencintai sosoknya. Aku merasa aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak ingin Noe terus-terusan mengira bahwa perasaannya itu salah.

Kuambil ponselku, wallpaper itu belum terganti. Noe sedang merangkulku dengan pose lucu. Aku mengetikkan sesuatu. Sebulan lebih tidak komunikasi, aku pikir ini adalah saat yang tepat sebelum semuanya jadi terlambat. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin Noe lebih jauh lagi menghindar dariku. Aku ingin Noe segera pulang, menemani hari-hariku seperti dulu.

Hujan bertambah deras. Angin bertiup semakin kencang. Aku mulai kedinginan. “Lekaslah menenangkan pikiran. Tapi kumohon, jangan kau buang setumpuk perasaan. Sebab ada perempuan yang menunggu jawabanmu di sini. Noe… aku merindukanmu. Bukan sebagai seorang sahabat. Tapi sebagai perempuan yang merindukan kekasihnya.” Pesan itu telah terkirim. Setidaknya Noe akan mengetahui perasaanku. Agar saat dia kembali, kisah ini akan menjadi lebih indah lagi.


Nanda Dyani Amilla. Penulis novel remaja “kejebak Friendzone” yang diterbitkan Novela, Bentang Pustaka, 2017.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here