Penyair yang Kalah

Ia seorang penyair yang kalah
Jauh dari gemerlap panggung
dan kepak sayap seribu burung.
Dan ia menulis puisi dengan
darahnya sendiri
yang mengucur di hari-hari sepi

Dengan campuran batu nisan
dan sisa tanah yang dijarah zaman.
Kata-kata adalah paku ditancapkan
ke batang pohon pisang, dan ia
menduga dirinya penyair paling getir
dalam abad terakhir.

“Kita mesti selamatkan dunia,” katanya
“dengan diksi dan sedikit irama.”

Maka ia selalu merasa zaman tidak
bersahabat, peradaban telah keluar
dari cita-cita puisi, dan ia mengutuki
nasibnya yang tidak lahir bersama
para pemuda penuh angan revolusi.

Ia membaca Marx, Che, Trotsky,
Rosa Luxemburg sampai Henri Lefebvre.

Tapi tak penting betul hasil pikir
dari nabi kiri dan orang-orang sohor itu
sebab ia tak tahu akan dijadikan apa
ide dan wacana mereka dalam puisinya.

Tangannya kaku, lidahnya kelu
dan larik-larik yang ia tangkap dengan
jaring laba-laba merah beterbangan
menjauhi para petani yang kehilangan
tanah. Para buruh yang masih juga
tak menentu dari nasib sehari-hari.

Ia penyair yang kalah oleh
cita-citanya yang terlalu tinggi;
ingin mengubah dunia sebelum orang-
orang selesai makan malam di restoran.

Dan ia hanya ingin berjuang setelah
bangun dari tidur cukup panjang
dari fajar hari sampai kelewat siang
karena semalam suntuk begadang
menangkap frasa-frasa berjargon
politik dan renungan-renungan plastik.

Bulan di Denpasar

Kau nongol dari selangkangan
Malam di Sanur, dari denting
Gelas dan botol-botol alkohol.
Kau muncul dari dompet sepasang
Bule kere yang merindukan Eropa.

O bulan yang mabuk!
O malam yang nakal!
Lolong anjing terperangkap
Angkasa yang perawan.

Bulan sempoyongan
Cahayanya menyinari rambut
Seribu perempuan kesepian.
Dan seorang penyair
Tak tahu jalan pulang
Tersungkur di trotoar, mengingau
Dan bermimpi menunggangi
Kupu-kupu ungu.
Bulan terbang sepanjang sunyi
Lorong-lorong di Denpasar.

Bulan nongol lagi di wajah perempuan
Yang dirindukan seorang penyair
Perempuan yang tidur pulas
Setelah mengalami
Orgasme kedua dengan suaminya.

O Denpasar yang binal!
O bulan yang mabuk!
O penyair penuh luka dan berdarah!

Sayup-sayup terdengar
Maribeth menembang
Seperti meratapi cinta yang hilang
Dan kesedihan hati dalam
Binal cahaya bulan.

Sepasang Gairah Muda

Kami menaiki jalan berkelok sore hari.
Aku dan dia melintasi bagian kecil
Bumi yang kita kasihi. Dia begitu cantik
Dengan mini dress-nya yang merah.
Dia di sisiku dan aku di sisinya.
Kami sepasang muda di luar hitungan dunia.

Tangan kami saling bersentuhan.
Mata kami kadang saling pandang.
Oh lihat, matanya berkaca-kaca
Dan pipinya bersemu merah.
Dia sangat anggun!

Aku telah jatuh cinta pada
Kedua matanya sebelum pada
Bibirnya yang tipis, sebelum
Pada sepasang kakinya yang lincah
Dan buah dadanya yang mungil.

Dia mengajakku jalan di sore hari
Di pertengahan bulan Juni yang bimbang.
Dan kami bicara pantai dan gunung.
Kami bicara konser musik dan liburan.
Kami bicara perasaan dan buah-buahan.
Kami bicara makanan dan minuman.
Kami bicara hal sederhana yang kami tahu.

“Chi, lihat itu!” kataku padanya.
Aku menunjuk sepasang burung
Yang bertengger di dahan.
Dia menyipitkan matanya
Dan kucium pipinya yang kanan.

Dia berkata dengan manja,
“Oh tidak, kita tersesat!”
“Kita tersesat. Ya kita tersesat,” jawabku.
Tapi matahari masih ada.
Tapi terang masih panjang.
Dunia terus berkembang.
“Kita mesti kembali. Kita harus kembali.”
“Ini perjalanan menyenangkan.”
“Kita terlalu jauh. Kita sangat jauh.”

Dia memegang lenganku.
Dia tak ingin jauh dariku.
Dan kubiarkan cahaya senja
Melingkar nakal di lehernya yang indah.

Dia mengajakku ke jalan mendaki.
Dia ingin pergi ke gunung.
Dia ingin melihat api abadi di puncaknya.
Dia ingin angin di ketinggian
Mengibarkan rambutnya yang hitam.

“Tapi mamamu menunggu di rumah!”
“Tapi kita baik-baik saja, Honey.
Kita tidak benar tersesat.
Mamaku percaya kau menjagaku.
Ibumu percaya kau menjagaku.”
“Tapi kau tak ada jaket, Sayang.
Jangan biarkan tubuhmu kedinginan.”
“Tapi aku ada kamu. Selalu ada kamu.
Sepasang lenganmu lebih dari cukup.”

Kami berlari kecil di bawah bayang
Pohon-pohon sepanjang Lejin.
Kami percaya kebaikan alam.
Kami sepasang merpati beriringan.
Kami sepasang gairah muda dan bercinta.
Lihat Ibu, betapa manja calon mantumu!

Kita Masih Muda

Kita masih muda. Bunga-bunga
Mekar dan api biru menyala
Dalam dunia kita. Kita menjelajahi
Ragam malam, keluar masuk
pagina hari tanpa rasa lelah.

Darah hangat senantiasa
mengalir di tubuh kita.
Burung-burung membuatkan
Jalan bagi petualangan.

Kita tulis puisi cinta dan
Pemberontakan. Kita bersama
Waktu dalam gairah dan birahi.

Kita masih muda. Jiwa kita
Senantiasa dan selalu muda.
Dengan sepasang tangan kita
Membangun atau menghancurkan
Dunia menjadi sama saja.

Luka

Betapa banyak luka
Yang berlari di jalan-jalan, yang terbang
Di udara dan berenang di sungai-sungai liar.
Betapa banyak, luka-luka bicara
Lewat bahasa tanpa lembaga, lewat
Bunyi tanpa mikrofon, lewat yang kalah
Dan dikalahkan, lewat gerak
Samar siang hari yang bercampur polusi
Udara kota. Di malam hari mereka
Menggigil di bawah cahaya lampu yang muram.
Luka tidur di atas tanah gelisah
Luka terjaga dalam panas mimpi-mimpi.
Luka hidup di mana-mana.
Luka mengembara dari waktu ke waktu.
Luka datang dan pergi. Betapa banyak.
Dan darah ini tak bertanggung atas lukaMu!


Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, Jawa Timur, pada 12 Desember 1991. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, novel, esai dan artikel. Puisi-puisi dan tulisannya yang lain telah tersebar di pelbagai media cetak di Indonesia dan media online. Puisi-puisinya juga terkumpul di beberapa buku: Puisi pilihan penyair muda Basabasi; Sungai-Sungai dalam Dirimu (2018), Senyum Lembah Ijen (2018), Kumpulan Puisi Temu Penyair Asia Tenggara; Epitaf Kota Hujan (2018), Seratus Puisi Melawan Korupsi; Mengunyah Geram (2017), Antologi Rohingya; Dari Sitture ke Kuala Langsa (2017), Langit Senja Jatigede (2017), Tamadun Istiqlal; Tentang Masjid (2017), Vitalitas dan Spiritualitas 19 Penyair Muda Indonesia; Kavaleri Malam Hari (2017),  Puisi pilihan Suara NTB 2014-2015; Ironi Bagi Para Perenang (2017), Festival Puisi Bangkalan 2; Lebih Baik Putih Tulang Daripada Putih Mata  (2017), Sayembara Puisi Cimanuk; Cimanuk, Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi (2016), Antologi Puisi Kopi Penyair Dunia; Kopi 1550 mdpl (2016), dan Antologi Lumpur Lapindo; Gemuruh Ingatan (2014). Ensiklopedi Pejalan Sunyi (2015) adalah buku puisi bersama empat sahabatnya dalam berproses. Buku puisinya Api Kata (Basabasi, 2017) menjadi nominasi Kusala Sastra Katulistiwa 2016-2017.

2 KOMENTAR

  1. Chi itu kiki kan? Tega sekali kamu. Lebih baik bunuh saja aku daripada kau biaya aku seperti ini. Chi kiki beruntung sekali nasibmu

  2. Aku tahu chi itu adalah kiki. Berapa beruntungnya dia. Kenapa kau perlakukan aku seperti ini. Kau tertawakan akundengan kau bersama dia. Lebih baik bunuh saja aku daripada kau buat seperti pelacur murahan seperti ini. Selamat kiki. Kau menang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here