Ayam belum berkokok, para pelayan istana sudah sibuk ke sana kemari mempersiapkan pesta yang diselenggarakan Raja. Raja ingin mengambil simpati rakyatnya sekaligus menanyakan pendapat mereka tentang masa pemerintahannya. Memang terdengar sedikit aneh, karena sang raja terkenal sebagai diktator, tetapi tetap berusaha ingin mendengar suara rakyatnya.

“Tuan, segala persiapan telah selesai”, tandas kepala pelayan.

“Baguslah, aku tidak ingin pesta ini gagal. Martabatku bisa jatuh. Semua harus terlihat sempurna”. Sang Raja berkata dengan nada wibawa namun angkuh.

“Tapi tuan…” bibir kepala pelayan tidak mampu lagi melanjutkan. Dia takut sang Raja murka.

“Tapi kenapa?” sang Raja membelai si pelayan. Tanda sayang atau mungkin juga ancaman.

“Begini tuan, undangan untuk para pejabat kerajaan telah disebarkan. Tetapi untuk rakyat pedesaan, masih belum tersebar semua.” Tidak ada tatapan dari mata kepala pelayan. Dia berusaha untuk tidak melihat ekspresi sang raja.

Tidak ada sahut dari Raja. Dia hanya tersenyum geli lalu mengibaskan tangannya pertanda, menyuruh si kepala pelayan untuk pergi. Kepala pelayan juga tidak ingin bertanya lebih lanjut. Sebab, bila dia melanjutkan bisa jadi para prajurit yang sedari tadi berjaga bakal memenggal kepalanya.

***
Belum sempat embun meninggalkan dedaunan, rombongan undangan pesta mulai berdatangan. Kelompok yang paling pertama tiba adalah para petani sederhana dan orang-orang desa yang tidak punya pekerjaan. Tidak ada salam penyambutan. Bahkan tidak satupun pelayan istana yang mempersilahkan mereka untuk duduk. Tanpa instruksi mereka pun duduk di tempat yang paling belakang. Bahkan lebih dekat ke pintu keluar ketimbang ke takhta Raja. jumlah mereka banyak, tetapi hidangan yang disediakan terbatas. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak ingin menjadi menu pengganti, sebaiknya tidak ada protes. Karena sebenarnya, mereka datang juga bukan karena keinginan memenuhi undangan melainkan karena rasa takut terhadap sang raja.

Sebelum aroma hidangan masuk ke hidung para petani, kelompok kedua pun tiba. Kali ini dengan jumlah yang lebih sedikit. Tetapi mereka terlihat rapih. Jalannya tegak sambil membusungkan dada,ingin menunjukkan bahwa mereka orang dalam istana. Mereka ini adalah para menteri, penasehat raja, pedagang kaya, juga pedagang kaya dari kerajaan tetangga serta jubir para petani. Khusus nama yang terakhir ini, dia masuk golongan terhormat karena menjadi perwakilan khusus para petani untuk menyampaikan keluhan mereka kepada raja. Walau dia lebih sering tidak menjalankan tugasnya, tetapi dia tetap dipanggil Pak Jubir.

Tidak perlu waktu lama untuk menyaksikan sapaan ramah dari sang raja. Satu persatu mereka dipeluk raja dan dicium raja. Dan sudah pasti ciuman dan pelukan itu tidaklah gratis. Para tamu terhormat tersebut datang dengan masing-masing hadiah di tangan. Tidak ada hadiah, berarti tidak ada jabatan. Tidak ada jabatan berarti sama dengan menempatkan diri di meja paling belakang bersama para petani dan para pengangguran di meja paling sudut belakang.

Pesta dimulai. Lagu-lagu diperdengarkan dan tarian-tarian erotis mulai dipertontonkan. Anggur-anggur terbaik mulai diedarkan untuk semua undangan. Acara sungguh meriah. Tetapi tidak semua orang senang. Orang-orang sederhana yang duduk di meja belakang mengalami kekurangan makanan. Sementara hidangan di meja terdepan begitu melimpah. Tapi tidak ada satu pun suara protes yang keluar. Sebab memakan makanan di meja para tamu terhormat malah akan mendekatkan mereka ke liang kubur ketimbang kenyang. Siapa yang ingin berurusan dengan kepala keamanan istana. Badan tegap, rahang lebar, kumis tebal, janggut sepanjang janggut neptunus, sudah mampu menciutkan nyali orang. Bahkan nyali itu sudah hilang sebelum muncul.

Sementara para petani merenungi nasib kelaparan mereka, orang-orang terhormat di meja depan sedang asyik dengan para wanita. Sambil sesekali memainkan jari-jari nakal, mereka menggoda para wanita. Tidak ada satupun yang peduli dengan para petani. Toh mungkin itu dianggap layak. Kecuali Pak Jubir, dia sedari tadi telah memperhatikan kesusahan para petani. Tapi, ya sudahlah, toh mereka sudah biasa lapar pikirnya. Sebab dia sendiri juga dulunya adalah petani. Tetapi karena sedikit keberuntungan dia naik jabatan.

Keramaian itu tiba-tiba menjadi diam seketika. Tidak ada kata yang keluar. Hanya udara dingin  menusuk daging yang terasa. Sang Raja telah berdiri dari takhtanya.

“ Tuan-tuan, maksudku mengundang kalian kemari karena aku ingin bertanya soal pandangan kalian tentang gaya kepemimpinanku. Aku ingin mendengar keluh kesah kalian.” Wajahnya sesekali melirik golongan petani dengan sorot mata yang tajam dan nada suara yang tinggi. Itu sebenarnya bukanlah pertanyaan tetapi sebuah undangan untuk memuji kehebatan sang raja.

“Tuanku amat bijak. Setiap keputusan pasti didiskusikan terlebih dahulu.” Tandas salah seorang penasehat.

Di sudut belakang seorang petani mengingat lagi peristiwa ketika sang Raja membunuh salah seorang penasehat karena menentangnya.

“Tuanku sungguh-sungguh hebat. Ekonomi kerajaan semakin membaik. Kita menjadi salah satu kerajaan termakmur. Para pedagang benar-benar diberi kebebasan. Dan kami sangat mengapresiasi itu.” Sambut seorang pedagang kaya.

Sementara di sudut lain seorang petani membayangkan harga barang-barang yang terus meningkat. Bahkan demi sesuap nasi para petani harus bekerja banting tulang jungkir balik. Sang Raja sibuk mengurusi kerja sama dengan kerajaan tetangga, tetapi lupa mengurusi rakyatnya yang miskin.

“ Yang mulia adalah orang yang sangat toleran. Buktinya kami sebagai pedagang dari kerajaan tetangga sungguh diayomi. Kehidupan kami pun dijamin. Pokoknya kami merasa di sini seperti negeri kami sendiri.” Seorang pedagang dari kerajaan tetangga menyahut dengan suara lantang.

Tapi, lagi-lagi sambil menatap piring kosongnya yang tidak diisi makanan seorang petani membayangkan kekejaman sang raja ketika membasmi para pedagang dari negeri seberang. Katanya mereka memonopoli harga barang dan memiskinkan rakyat. Padahal dari mereka-mereka itu jugalah sang raja mendapat banyak sekali keuntungan.

“Bagi kami, tuan sangat memperhatikan rakyat miskin. Ada banyak sekali bantuan yang telah kami terima. Dan itu sangat membantu kami tuan. Sekali lagi terima kasih.” Pak Jubir tidak ingin ketinggalan mencari muka. Dia sengaja menggunakan kata kami. Supaya menjadi tanda bahwa tidak ada lagi hak bicara dari para petani. Dialah yang mewakili para petani.

Kali ini bukan hanya seorang petani saja yang membayangkan ketidakadilan sang raja. Semua hanya merenung dalam hati dan mengingat bahwa tidak satupun bantuan itu yang sampai ke tangan mereka. Sebab semuanya sudah masuk kantong Pak Jubir. Tapi tidak ada protes. Mereka hanya pasrah. Pasrah bagi mereka adalah sebuah tindakan untuk memperlambat kematian mereka. Mereka sadar, satu suara sama dengan satu kibasan pedang. Lebih baik mati di kemudian hari, sembari mendidik anak sambil berharap dewi fortuna menghampiri dan anak mereka dapat menjadi jubir kelak.

***
Hari telah larut. Pesta telah berlangsung selama setengah hari. Orang-orang telah lelah. Masing-masing bersiap-siap untuk pulang. Ada banyak tamu yang muntah. Ada yang muntah karena kekenyangan ada pula yang muntah karena kelaparan. Beberapa tamu sibuk membopong rekannya, sambil menahan aroma muntah yang tersembur seperti gunung meletus.

Di ujung gerbang Istana sang Raja telah menanti setiap undangan untuk mengucapkan terima kasih atas kehadirannya. Ketika berpapasan dengan seorang petani yang kelaparan, sang raja mencegat sang petani lalu bertanya:

“Bagaimana tanggapanmu terhadap pestaku? Juga terhadap pemeritahanku? Enak to?”

Hanya ada satu kalimat yang keluar dari bibir si petani:

“Tuan, ini adalah pesta anda, dan kami ada di dalamnya.”

 


Jimmy Yohanes Hyronimus, menetap di Ritapiret, Nita Maumere. Sementara ini sedang menempuh pendidikan tinggi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here