Jembatan di seberang panti jompo itu tidak pernah benar-benar dilewati orang. Aku bisa memastikan karena hampir sepanjang waktu aku duduk di situ dan tidak beranjak. Lalu lalang orang kebanyakan terjadi dekat taman yang berada persis di ujung salah satu jembatan.

Aku tidak tahu apa yang ada di ujung lain jembatan, tetapi kupikir boleh jadi itu jalan menuju kota lain di balik bukit. Buat apa orang sudi membangun sebuah jembatan yang cukup besar hanya untuk mengantarkan pengunjung taman kota kecil ini ke sebuah hutan? Sampai sejauh itu, tidak ada kemungkinan lain yang bisa kubayangkan.

Aku pikir, dahulu, jembatan itu tidak sesepi sekarang. Tiada henti dilewati mereka yang pergi ke kota lain tadi dengan rute yang lebih istimewa karena menawarkan lokasi yang bebas polusi udara dan risiko tertabrak mobil. Orang-orang bisa menyeberang ke kota tetangga dengan rute yang tidak ada bedanya dari tempat rekreasi.

Sebelum memastikan dugaanku itu benar atau tidak, sebab aku hanyalah pasien di panti jompo ini, aku terus membayangkan itu dan mempercayai yang kusangkakan. Dari situ aku membangun cerita-cerita romantis, kriminal, dan horor dalam kepalaku, yang mungkin saja dapat terjadi pada ujung lain jembatan dengan segala macam karakter dan konflik.

Sebut saja dalam salah satu cerita, kubayangkan seorang gadis bersembunyi di sisi lain jembatan demi menghindari kejaran ayahnya yang bertangan besi. Seorang pemuda memergoki dan membantunya mencari tempat untuk berlindung. Tidak lama setelah itu, mereka jatuh cinta dan terjadilah hubungan yang tidak diketahui ayah si gadis.

Atau kisah tentang pemuda patah hati yang gantung diri di jembatan itu. Hantunya yang pucat menunggui ujung jembatan sehingga membuat orang-orang, pelan dan pasti, meninggalkan rute lain menuju kota sebelah yang asri.

Aku bisa merangkai banyak cerita. Aku bisa membayangkan segala kemungkinan, seperti bagaimana wujud pinggiran kota usai hutan yang ada di sisi lain jembatan tadi berakhir. Boleh jadi ada gerbang tanpa penjaga yang penuh para pedagang makanan dan pernak-pernik oleh-oleh. Mungkin saja malah tidak satu pun gerbang berdiri, melainkan hanya ada beberapa rumah petani atau malah sebuah gedung bekas pabrik sepatu yang terbengkalai, yang jadi sarang para biadab yang lolos dari kejaran penegak hukum. Para penjahat ini senang membuat keonaran di kota lain, termasuk kota di mana panti jompo tempatku kini berdiri, sehingga situasi taman pada suatu malam menjadi sangat genting. Sesosok mayat ditemukan tanpa kepala tergeletak di ujung jembatan itu.

Aku bersumpah, aku tak tahu bagaimana bisa datang begitu banyak imajinasi dari sekadar menglihat sebuah jembatan yang sama sekali tidak dilewati orang-orang itu. Ya, aku belum dapat memastikan apakah memang jembatan itu selalu begitu, tetapi selama aku di sini, selama aku menatap ke luar jendelaku yang terkuak dan tertutup dari pagi hingga sore, tidak ada seorang pun lewat.

Seorang perawat suka berkata, “Sebaiknya kamu mengerjakan apa pun dan jangan hanya memandangi jendela!”

Dia jelas tidak tahu apa yang sedang kupikirkan. Seandainya aku bisa bicara, akan kubentak dia dan kukatakan aku sedang membayangkan jembatan tua yang kesepian, yang tidak dilewati orang-orang di seberang sana. Aku dapat mengarang banyak cerita dari hanya memandangi bangunan itu!

Kalau saja aku tidak lumpuh atau bisa bicara, mungkin cerita-cerita yang kurangkai dalam kepalaku dapat menjadi buku yang amat tebal, dan dari sana aku bisa mendapat sejumlah penghasilan sehingga beban anak-anakku tidak terlalu berat demi merawatku di tempat ini.

Aku tak ingat secara pasti sejak kapan aku dibawa ke sini, tetapi sejak hari itu, tak lepas kuamati jembatan yang kumaksud. Dan sejak itu pula, lahirlah cerita-cerita dalam kepalaku yang tak akan pernah terwujud. Aku sendiri bukanlah penulis dan dulu sempat berangan menjadi penulis. Tetapi, pekerjaan dan segala urusan menyita waktuku hingga tak ada sedikit pun kesempatan untuk sekadar membayangkan apa yang harus kuperbuat demi mencapai angan-anganku menjadi penulis.

Aku tua, lumpuh, dan didera banyak penyakit. Aku yakin tidak lama lagi bakalan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi dapat berangan-angan menjadi apa pun. Dari sinilah penyesalan terdalamku terbit. Aku rajin membangun cerita-cerita sederhana di kepalaku, dengan susah payah, namun dapat tersenyum sesekali olehnya atau bahkan menangis bila perlu, hanya demi merasa girang sebab aku mampu menjadi penulis (meski baru sekadar di pemikiran).

Tentu aku tidak bisa berdaya berbuat apa pun, dan yang perawat itu maksud tidak berkaitan dengan aktivitas fisik. Maksud dia adalah: sebaiknya aku membaca sesuatu di perpustakaan, sebab tanganku masih bisa bergerak-gerak untuk membuka lembar demi lembaran halaman buku, sehingga kemungkinanku menjadi gila akan mengecil. Hanya saja, aku tidak tertarik melakukan itu. Aku lebih tertarik mengamati jembatan itu, dan setiap kali sang perawat mencoba membawaku keluar, aku mengerang sekuat tenagaku. Kalau sudah begitu, dia mendudukkanku di kursi dorong persis di depan jendela dan menyuapiku tiga kali di sana dalam sehari dan baru akan datang menutup jendela ketika matahari mulai terbenam.

Suatu malam, ketika aku bosan oleh rutinitas sendiri, aku bermimpi. Di situ kulihat gambaran yang berbeda dari ujung lain jembata. Ada pantai di balik pepohonan yang jumlahnya tak begitu banyak. Ada sebuah bukit dan di balik bukit tersebut ada laut yang membentang. Beberapa perahu diikat di batu-batuan besar dan salah satu di antaranya siap untuk berangkat. Aku berlari, kemudian meminta pemilik perahu membawaku ke mana pun mereka pergi.

“Kami pergi ke tempat yang bakalan kamu benci seumur hidupmu,” kata seseorang yang ada di perahu.

“Saya tidak peduli. Pokoknya bawa saya ke sana!”

Maka, perahu lepas sauh. Beberapa jam kemudian, kusadari bahwa tujuan perahu ini adalah neraka, yang mana tentu saja memang kubenci, sebab tempat itu tidak lain adalah pertanda bahwa aku tidak bisa mengarang apa pun meski cuma sebatas dalam pikiran.

Ketika terbangun, keringatku begitu dingin dan kepalaku pusing. Tetapi, tiba-tiba aku bisa bicara. Aku juga bisa berjalan. Dan bahkan juga bisa berlari. Kucoba berdiri di depan cermin dan melihat bayanganku. Tanpa membuang waktu, aku pergi ke jembatan tersebut dan merasa jadi makhluk paling bodoh. Ternyata jembatan itu hanyalah sebuah lukisan. Tentu saja tidak ada yang mencoba melewati lukisan yang dibuat di permukaan dinding.

Karena kecewa, aku berlari ke panti jompo dan menjumpai teman-temanku yang tua. Perawat yang mendampingiku tiap makan dan mandi kusapa, tetapi tak ada respons darinya. Semua orang tidak merespons sapaanku, sampai kusadari bahwa aku bukan hanya bisa berlari, melainkan juga bisa terbang.

Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai seseorang berjubah putih datang dan bilang, “Sebaiknya kamu berhenti berangan yang tidak-tidak. Sekarang waktumu pulang.”

Entah kenapa, aku yang biasa membangkang, malah menurut saja. Aku terbang bersama sosok itu ke atas, jauh ke atas, melintasi awan-awan, membelah angkasa, dan dengan segera hilang segala cerita yang pernah dan belum kuselesaikan dalam kepalaku. Semua berganti jadi kosong dan kosong dan kosong …. [ ]

Gempol, 2017-2018


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan novel Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here