Bagian rumah keropos itu ditanami kecambah yang tumbuh kecil-kecil dengan harapan tak banyak: semoga pohon mampu menolong manusia dari bencana, Cania melakukannya dengan baik seperti yang diajarkan gurunya di sekolah. Hal itu menjadi kebanggan bagi ayah, melihat gadis kecilnya berhasil menyerap pengetahuan dengan baik, kecuali jika yang Cania lakukan merupakan bentuk kritik.

Gadis kecil itu beranjak mengambil mangkuk es krim yang berbentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai ember, ia mencelupkan beberapa kali embernya ke dalam akuarium, kemudian menyiramkan air amis yang bercampur sisa krim cokelat ke pohon kecambahnya. Ia berteriak kegirangan membayangkan kecambahnya tumbuh besar karena rajin disiram. Maka pelajaran paling berharga pada awal manusia adalah menjadi manusia, Cania menunjukkan proses belajar sebagai prototipe manusia yang belajar dari ketidakmampuan merespon sesuatu pertama kali dengan sempurna.

Tentang kecambah-kecambah yang ada di dalam cerita ini adalah tanaman biji kacang hijau. Cania memutuskan untuk membawa pulang kecambah-kecambahnya setelah Aryo, laki-laki penguasa kelas 1 tidak mengijinkan gadis kecil itu menulis namanya menggunakan spidol.

“Ngga boleh pake spidol, Can!” larang Aryo.
“Tapi ini pohon Cania.” Belanya, dengan mengganti kata ‘aku’ sebagai wujud lugu.
“Kamu denger ngga Bu Devi bilang apa kemaren?”

Cania tetap melanjutkan menulis namanya di gelas yang berisi kapas dan beberapa kecambah dengan spidol.

“Cania!”

Aryo tak bisa mengijinkan satu pun siswa melawan dirinya, ia menarik bahu bagian kiri Cania hingga gelas kecambah jatuh, mereka berdua saling tatap dan hanya memendam bahasa. Gadis kecil itu tidak bisa lebih lama berada di sekolah, ia harus pulang untuk menanam kembali kecambah-kecambahnya, lagi pula sekolah bukan tempat yang tepat untuk mengeringkan air mata. Ia harus menanggung rasa kesal itu sendiri, menurutnya tidak ada yang tahu cara mencintai kecambah melebihi dirinya. Cania tidak mengatakan apa-apa kepada Aryo atau Bu Devi tentang kejadian tadi, ia tak memerlukan pembelaan, ia ingin kecambah itu tumbuh sampai besar dan bisa dipanen. Apa salahnya menulis menggunakan spidol? Cania tahu para kecambah juga menyukai aroma khas tinta spidol, sama seperti dirinya.

“Bawa apa, sayang?”

Cania masih setengah jengkel ketika sampai di rumah, pertanyaan ayahnya menjadi hilang di udara sebelum sampai ke telinganya, anak-anak tanpa diajari cara bersedih pun mereka tahu cara menyampaikannya.

“Jam berapa ini, Can?”

“Delapan.”

Laki-laki itu mencoba menebak-nebak apa yang baru saja menimpa Cania, tidak mungkin sekolah libur, jika pun siswa dipulangkan tentu saja ekspresi anaknya akan berbeda. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja, Cania bersekolah tanpa ada perasaan bahwa sekolah merupakan suatu kesia-siaan bahwa tidak ada jaminan kertas ijazah menentukan jenis masa depan yang baik.

Beruntung Cania tidak memiliki rasa penasaran yang tinggi mengapa ayahnya selalu mendukung hal yang tak ia sukai, bersekolah, les piano, mengerjakan PR, atau berlibur ke tempat ramai. Sederhananya, Cania bersedia melakukan semua hal itu karena anak sebayanya juga melakukannya dengan sukarela. Tidak kah aneh melakukan hal berbeda di antara orang-orang yang sepakat untuk sama?

Kecambah-kecambah Cania belum terlalu besar memang, mereka masih seukuran panjang jari kelingking anak kecil, belum ada daun yang hijau. Ia tentu tidak tampak sabar menunggu pohon mungil miliknya berubah menjadi raksasa, melilit rumah dan semua lingkungan, mengangkat tempat tidurnya sampai di atas langit. Cania belum pernah membayangkan betapa bahagianya tinggal di atas awan, meninggalkan dunia bawah yang dihuni monster jahat seperti Aryo, ah, sempurna. Tak lupa sebelum beranjak tidur, kecambah-kecambahnya kembali ia hitung, masih pas dan tampak sehat.

Kaki Cania yang terbalut sepatu lembut berbentuk kelinci yang ketika diajak berjalan akan berbunyi, cit-cit-cit, ia lepaskan. Gadis kecil itu mengendap-endap menuju meja makan, di sana Bi Ratih telah menyiapkan segelas besar susu hangat seperti biasanya.

“Bi, Cania bawa ke kamar ya?”

Bi Ratih mengangguk. Pikiran tuanya tentu saja terperangkap di dalam kotak usia yang hanya berisi pekerjaan yang monoton, orang setua itu tidak akan tahu apa yang akan Cania lakukan kepada segelas susu hangatnya.

“Non, susunya masih panas, nanti tiup sendiri ya?”

Cania tersenyum sambil berlalu, kebetulan, batinnya. Ia menyentuh bagian utama gelas untuk memastikan berapa kadar panas, kemudian cepat-cepat beralih memegang gagangnya saja. Memang masih panas-panas kuku. Sandal kelinci yang tadi sengaja ia tinggal untuk meringankan aksi yang mungkin jika diketahui ayah akan jadi masalah, sudah sejak lama ia bosan dengan minum susu bubuk hangat, menurutnya es serut warna-warni lebih lezat dan menyegarkan. Ia mendekati tanaman kecambah tanpa suara, mengendap-endap bagai pencuri berpengalaman, mungkin gadis kecil itu juga tak mau mengganggu waktu istirahat kecambah-kecambahnya. Gelas berdenting lirih diaduk dengan hati-hati, Cania berbisik.

“Hei, belum tidur? Ah, jangan pura-pura tak mendengar. Cania yakin kamu tidak bisa tidur kan?” jari telunjuknya maju menyentuh bagian kepala kecambah, tanaman itu bergoyang ke depan dan belakang.

“Dengarkan Cania bicara ya? Kata ayah, susu hangat ini baik buat Cania biar tumbuh besar dan pintar. Kamu mau juga?”

Jari telunjuk Cania maju lagi, kali ini lebih keras menggoyang kepala kecambah, meski akhirnya gadis itu gagal menerjemahkan bahasa tumbuhan dengan baik. Anggukan kepala kecambah yang demikian cepat adalah tanda persetujuan, yang ada dalam pikiran Cania telah mendapat sambutan baik dari kecambah-kecambahnya. Pelan-pelan sendok pengaduk itu mengambil bagian atas susu yang masih mengepulkan uap putih, Cania meniupnya pelan-pelan lalu ia tuangkan di kepala kecambah, satu sendok untuk setiap kecambah.

Setelah hampir permukaan kecambah dan bagian akar mulai terlihat, Cania menghentikan penyiramannya mengingat kecambah memiliki tubuh yang lebih kecil dari dirinya, beberapa sendok susu saja cukup. Sebelum kaki kecilnya beranjak, suara Bi Ratih lebih dahulu menahan, “Non, jangan sampai tuan tau susunya ndak habis ya?” Tanpa pikir panjang Cania segera menumpahkan seluruh susu yang tersisa miliknya untuk memberi nutrisi pertumbuhan kecambah-kecambahnya. Tak tersisa.

Tetes terakhir yang tersisa di pinggir gelas dijilatinya, Cania menampakkaan barisan gigi yang sebagian geripis agar Bi Ratih melihat dan merasa tenang. Benar saja, perempuan separuh abad itu tersenyum menyambut gelas kosong yang ia kira habis diminum Cania.

“Pintar sekali Non ini.” Telunjuk dan jempol pembantu itu mencubit lembut pipis Cania, gadis kecil itu manyun. Sepertinya ia alergi terhadap kata ‘pintar’.

Malam itu besar sekali harapan Cania, ketika ia tertidur dan bermimpi tentang hal menyenangkan, esok hari kecambah-kecambahnya berubah menjadi pohon besar yang mempunyai mulut dan mata. Dua buah bantal guling sebesar pelukannya ditata memanjang, juga beberapa bantal berbentuk persegi diletakkan di kanan-kirinya. Bayangan sempurna untuk sebatang pohon kecambah besar. Gadis itu mendekat, memeluk batang kecambahnya, kepala kecilnya bersandar di atas tumpukan daun empuk berisi ribuan kacang hijau. Ia tidur, tanpa dongeng atau sepasang kecupan.

Sementara di ruang berbeda, ayah Cania berusaha meyakinkan seorang konglomerat yang berniat membeli rumah mereka agar tetap melanjutkan transaksi. Entah apa yang dibicarakan orang dewasa hingga dengan waktu sebentar, mereka sanggup memutuskan hal besar hanya dengan berjabat tangan. Malam itu juga kunci rumah resmi berpindah tangan, tidak ada truk pengangkut barang terparkir, semuanya amat sederhana, karena ayah menjual rumah dan seluruh fasilitas di dalamnya. Termasuk menjual kecambah Cania.

***
Beberapa puluh tahun kemudian, tanpa kudesak Cania bercerita, perempuan paruh baya itu meminta agar aku bersedia mendengarkan. Baik.

“Berharap tidak akan memikirkan manusia bernama suami itu menurutku pekerjaan paling mustahil tapi membahagiakan. Tidak ada cinta, tidak ada uang belanja, dan yang paling menyenangkan adalah, tidak ada perdebatan. Tapi aku memiliki anak laki-laki yang tidak menyukai khayalan, tentu dia tidak berasal dari pernikahan. Namanya Kevin. Laki-laki kecil itu sama sekali tidak menyukai gambar apalagi membayangkan semua barang mati di dunia ini bisa berubah menjadi monster dan punya kemampuan berbicara, baginya hal itu kekanakan.”

“Bukan kah hal itu berbanding terbalik dengan masa kecilmu, Can?” Aku menyela.

“Itu bukan akar masalahnya.”

Pembicaraan kami dijeda oleh angin, sebentar, seperti sebuah keputusan yang diambil sepihak. Cania mengelap sebelah pipinya, sementara sebelah yang lain dibiarkan basah.

“Aku dan ayah menjalani kehidupan normal sebelum kami berpindah tempat tinggal, selanjutnya aku memutuskan untuk tinggal di rumah mantan pembantu kami, Bi Ratih. Saat itu aku mengira satu-satunya hal yang paling penting dalam hidup ayah adalah merampas kehidupanku, masa anak-anak itu. Ayah telah memutuskan membenci kecambah-kecambahku, dan aku membencinya.”

“Itu akar masalahnya?”

“Bukan. Kevin membenci kecambah.”

Dari dalam telinga Cania, rambut-rambut, hidung dan mulut kecuali mata, kecambah-kecambah putih menunas. Sementara aku semakin ingin membenci kecambah seperti ayah Cania atau Kevin namun gagal meski kami sama-sama lelaki. Aku menyukai kecambah yang tumbuh dari tubuh Cania.


Khoshsol Fairuz, lahir di Cilacap, punya dua buku berjudul Fotocintasis dan Setelah Ayah Bertemu Tuan Tanah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here