Perempuan Terakhir

Untuk Rahim yang menjadikan aku matahari, air dan api
Kusujudkan sebilah puisi ini di rahimmu yang kudus
Sebagai limpahan kemenanganku melawan dunia
Dan memberontak dosa

Puji bagimu yang membangun mezbah di ladang hatiku
Yang kemudian membakar neraka dengan altar
Dan yang menyiram api dengan mantra kuno
Lalu hidup dalam sejarah peradaban Israel

Keliru

Menembusi waktu berlalu dari hari ke hari
aku masih juga begini mengenali diri dalam kelesuan
mengatur jejak menimang derita membilang air mata
memburu haluan hidup

sesekali gelisahku jadi duri
menikam kejam derita yang sedia parah lukanya
menusuk pedih harapan yang kian dibayangi kecewa
ketika itulah diri ini jadi keliru
terlalu asing dalam mencari haluan

andai dalam gelisah ini aku jadi keliru
antara nasib dan takdir
antara syukur dan kesal

Kepada Penulis

Tak peduli bila kelak mulutmu dibungkam sakit
Tanganmu dipaku di salib. Lambungmu ditikam pena
Rambutmu diambruk peluru. Badanmu berderai luka
Hatimu diremuk. Kau kan kebal. Sebab kau penulis.

Tintamu mengalir beriringan darahmu
Kata-katamu bersaraf dari otak hingga kaki
Cerna kiatmu. Sebab kau penulis. Kau pelaku. Kau korban.
Penamu bukan saja tangan. Pena hatimu harus lebih taring.


Fani Stefani gadis kelahiran Adonara Nusa Tenggara Timur. Lahir 13 April 1993, mulai berproses menulis puisi sejak 2015 di Sabah Malaysia. menempuh pendidikan SI Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Aktif menulis pertama kali di media online Weeklyline.net kemudian jendela sastra dan blog pribadi. Aktif mengikuti organisasi UKM PERSMA natas sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Program Studi Sastra Indonesia periode 2018/2019. Kesibukan untuk saat ini adalah menyelesaikan karya terbarunya sebuah Novel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here