Pada Satu Umpama

kita berada pada umpama: sepasang burung
terbang dan hinggap di rimbun daun
menyusun sangkar, menyusun siasat agar kekal

tetapi di bawah, kita menjelma mangsa
paling diincar pemburu, paling dinanti nyala api
sebagai sasaran senapan sebagai bahan santapan

pemburu yang lapar dan haus
berpunggung dendam, berhati penuh kebencian
sementara kita tetap sepasang burung malang

yang hidup berada di tengah-tengah
batas cinta dan kematian, batas harap dan kemustahilan
mencintai segala hal yang telah ditakdirkan hilang.

2018

Dari Segala Pilihan

bagaimana aku bisa menghindar dari cinta
yang sejatinya telah menjalar di jantung
dan tumbuh menjadi segala yang aku butuh?

kendati keakuan terkadang jauh leluasa
menguasai segala yang berujung pada sia-sia
tetapi bertahan lebih sering menjadi ujung

dari segala pilihan: tidakkah kau berpikir
adakah yang lebih bisa kita perbuat selain menyerah
kendati di dalam dada cinta semakin tumbuh

dengan begitu pesatnya?

2018

Distorsi; Tembakau dan Cengkih

ada yang akan diam-diam mengendap
di paru-parumu, sayang: sesuatu menyerupai racun,
wujud reinkarnasi dari kepul asap tembakau, cengkih,
dan saus  perasa yang rutin kau sulut untuk kemudian kau isap itu.

ia akan dengan lancang, tentu merusak rasa nyamanku
selama bermukim di organ terlapang; di samping paru-parumu.
aku merasa terganggu bilamana ‘tar’ tampak melekat
melebihi kadar rekatku yang telah bertahun-tahun bertahan
merawat alir darah dan detak jantungmu.

demikian berat, sayang: bilamana harus terpaksa tinggal
di dalam kamu, dengan asap mengepul melintasi seluruh bagian
yang sejatinya tersembunyi, sekalipun─kemudian di mana
tempat perlindungan paling jauh, paling tak terjangkau dari wujud
lumatan api terhadap cacahan tembakau dan cengkih?

2018

Cara Menyiasati Waktu

tentu kita sudah tak mudah sekadar buat saling bersipeluk, dik:
kau bersangkar di rusuk sumatera, sedang aku berada
di punggung kebisingan kota, pulau jawa.
tentu tak ringan, beban di jantung digantungi rindu
menahan desir menanggung nyeri, membikin lesu
tetapi jalan beralih buntu, jarak tempuh pun kian menjauh
kemudian, bagaimana cara kita menyiasati waktu
agar pertemuan lekas berlangsung tanpa perlu saling tunggu?

2018

Di Selain Aku

di selain aku, cinta tak pernah benar-benar ada.
percayalah, sejauh jarak yang berhasrat kau lipat
jalan buntu atas keputusasaanmu mencari arti bahagia
akan selalu berujung padaku, seorang saja.

di selain aku, rindumu tak akan benar-benar sembuh
seberdarah apapun usahamu, pertemuan akan selalu
menuntunmu menuju letakku, kendati kau menolak
waktu akan semakin menuntut, agar selekasnya kau tahu

bahwa penyelamatan paling bijak adalah menyerah
; menyerahkan hatimu tidak untuk lelaki selain aku.

2018

Elegi Selembar Daun

selembar daun jatuh, melayang dan berujung
hinggap di telapak tanganmu. daun berserat
yang tiap-tiap seratnya menyuratkan pesanku:
seperti daun, dalam mencintaimu, aku bersedia
digugurkan angin, melayang jauh dan bakal jatuh
menjelma sampah yang berserak, yang bakal lenyap
di tangan petugas kebersihan, yang bakal mengabu
dilumat api yang tiada henti-hentinya menyala
di tempat pembakaran itu.

2018


Daffa Randai, lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Detik ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah seorang inisiator terbentuknya komunitas Pura-Pura Penyair. Puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama seperti, Kepada Hujan di Bulan Purnama (Tonggak Pustaka, 2018) dan Rumah Kita (Tonggak Pustaka, 2018). Beberapa karyanya juga tersiar di surat kabar Sriwijaya Post, Sumatera Ekspress, dan media daring seperti: jejakpublisher.com, tembi.net, kawaca.com, kibul.in, sukusastra.com, tulis.me, lampungmediaonline.com, binisbelta.id, sastrapurnama.com, takanta.id, simalaba.net, rembukan.com, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here