Sanga Ndewa dari Golomori

Maka bersandarlah dia pada punggung bambu. Kesabaran berisiko bagi siapa pun. Tapi, dia tahu, kalau tidak menuruti arahan Sanga Ndewa, ia takkan mampu mengendalikan Tana (tanah) dan Awang (langit/awan).

Ia sudah melalui dua musim panen dalam perjalanan. Sampai ke Golomori adalah harga untuk sebuah perjalanan. Melintasi kemarau dan jauh.

“Saya ingin menjadi muridmu, Guru. Ajarilah saya kebajikan Langit dan Bumi agar saya dapat menghalau Bima dari Nuca Lale (nama lain untuk tanah Manggarai)”

Sanga Ndewa menatap anak muda di hadapannya. Anak muda itu lelah dan kurus. Kulitnya cokelat dipanggang matahari.

“Teguklah air dari telaga di kaki bukit, setelah itu kembali ke sini dan bersemedilah di rumpun bambu itu”.

“Hanya itukah syarat untuk mengetahui pergerakan bintang-bintang, perubahan cuaca, dan rahasia kehidupan?” ia menatap orang tua di depannya dengan perasaan diperdaya. Ia tidak percaya. Namun, iman adalah sesuatu yang bergerak di luar perkiraan. Dan di sinilah ia terdampar. Di tengah rumpun bambu. Di antara serpihan cahaya yang bermain dengan kesiur angin di kanopi bebambuan.

Ia bertahan tiga hari. Setelah itu lapar. Haus. Dan bosan.

Ia lelah. Tangannya membentuk mudra. Matanya terpejam. Tapi konsentrasinya terlepas. Dalam semedi itu dia bermimpi. Pada sebuah awal, Cahaya di langit menjelma seorang laki-laki dan menerangi tana lino—bumi yang kosong. Di bawah, seorang perempuan berpakaian hitam menebarkan aroma tanah yang betah. Keduanya saling mencinta. Cinta itu melahirkan siang dan malam. Juga manusia. Laki-laki dan perempuan. Suatu kali, laki-laki manusia itu menghasrati perempuannya dan dari mereka lahirlah seorang manusia baru. Tapi haus dan lapar hampir memusnahkan seluruh bumi. Kemudian laki-laki itu mengorbankan anaknya yang tunggal. Ia mengucurkan darah dan daging sang putra ke seluruh lingko—kebun. Lalu malam pergi dan matahari di timur menjadi. Tumbuhlah segala tetumbuhan.

“Sang Putra sudah kembali ke tengah Cahaya”, laki-laki itu berkata kepada Istrinya.

Tapi, entah mengapa, setiap hari, didengar keduanya, di setiap makhluk hidup, suara putra tunggal mereka yang memanggil; “Ende, ema ho’o aku!—Ibu, ayah ini aku!”

Sang murid terbangun. Ia ingat ine—ibu, dan ame—ayah, di kampung. Di balik merah matanya, ia tahu Kerajaan Semesta dan rahasia-rahasianya itu ada di suatu pondok yang akrab.

Maryam bin ‘Imrān

‘Imrān mengutuk nasib-nasibnya yang celaka. Gelap malam sudah datang. Ia tidak tahu di mana Maryam, putri terkasihnya, melabuhkan kantuknya. Ia menatap Bintang dan Bulan yang bernyala. Ia mendengar suara gamam Jibrail itu “Anak yang dikandungnya adalah dari Rohul Kudus”. Ia ingin percaya, tapi kaumnya sedang mengarahkan rajam ke ulu hatinya.

***
Sementara di penyisihan yang jauh, rasa sakit bersalin menuntun Maryam kepada pangkal pohon kurma.

Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan”.

Maka Jibrail berseru dari tempat yang rendah. “Jangan bersusah hati. Tuhanmu menjadikan anak sungai di bawahmu dan buah kurma matang sebagai makananmu. Makan dan minumlah sepuasnya. Dan bernazarlah, katakan, jika kamu melihat seorang manusia hari ini, aku telah berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun hari ini”.

Maka, Maryam membawa anak itu kepada kaumnya.

“Kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar wahai ukht Hārûn—saudari Harun”, geram kaumnya.

Maka Maryam menunjuk kepada mereka anak yang ada dalam gendongannya. Mereka sempat berkata: “Bagaimana kami bisa berbicara dengan anak kecil dalam gendongan?”

Tapi suara merdu bayi itu mencegat parau di tenggorokkan mereka: “Aku hamba Allah, Dia memberiku Injil dan menjadikan Aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan Aku seorang yang diberkahi di mana saja Aku berada, dan Dia memerintahkan kepada-Ku melaksanakan salat dan zakat, dan berbakti kepada ibu-Ku, dan Dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada-Ku, pada hari kelahiran-Ku, pada hari wafat-Ku, dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali”.

Waktu bayi ‘Isa berkata demikian, padang gurun seperti bernyanyi. Lagunya lebih merdu dari segala notasi yang pernah diciptakan manusia.

Tiberias

Maka berkumpullah mereka di tepi Tiberias: Simon, Tomas, Natanael, Yakobus, Yohanes dan dua murid yang lain. Angin hari itu masih berbau Golgota. Ada ketakutan di wajah mereka.

Tomas berkata: “Kita pernah berbicara tentang yang terbesar dalam kerajaannya, tapi ia mati bahkan sebelum menegakkan sebuah batu pun”.

Yohanes berkata: “Kalian tidak ada di sana waktu itu, ketika langit terbelah dan gemuruh seperti sahabat lama yang murka”.

Petrus berkata: “Mereka bilang dia sudah mati di kayu salib. Bahkan Zebedeus menguburkannya. Karena itu, baiklah kita kembali ke laut. Kita perlu menjalani hidup yang sia-sia ini”.

Lalu mereka mengebas layar, menaiki perahu dan membelah riak Tiberias. Tapi, malam itu, mereka tidak menangkap apa-apa. Sebenarnya mereka bisa saja langsung pulang. Tapi tepian terasa jauh. Dan danau seperti cermin luas yang menunjukkan kerapuhan mereka.

Kemudian di tepian berdiri seseorang.

“Adakah padamu lauk?”
“Tidak ada”, jawab mereka.
“Tebarkan jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan peroleh”.

Kemudian Natanael menebarkan jala juga dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.

Maka Yohanes berkata: “Itu Tuhan!”

Mendengar itu Petrus berpakian, sebab sebelumnya ia telanjang, dan terjun ke danau.

Siang itu di depan mereka tegak sebuah Kerajaan yang dibangun atas dasar bukan batu. Yehoshua membawa mereka ke tepian. Ke tempat mereka dapat berdiri dan tidak kembali ke laut lagi. Pada Yehoshua, mereka melihat, kehidupan dan kematian bermain seperti anak kecil.

Markus

“Puluhan millenium berlalu. Pada tahun 1920-an, astronom Belgia Georges Lematre mengatakan seluruh alam semesta jadi ada sekitar 1/1000000000000 dari seper detik, dari ketiadaan bahkan, dari sebuah pancaran cahaya maha dahsyat, begitulah alam semesta terjadi. Tapi Kejadian 1:3, sudah jauh-jauh mengatakannya: jadilah Terang, maka Terang itu jadi”

Markus sempat mendengar cuplikan kalimat itu. Wheaton, Josh Wheaton mengatakan dengan jelas dalam film God’s not Dead.

“Pekerjaan-Nya, juga karya-Nya, menjadi seteru yang rumit sepanjang sejarah”, Markus mengatakan itu kepada putra sulungnya yang terlena di depan buku-buku.

“Bahkan di Jakarta, dengan semua kesibukkan ini, kita tidak terbebas dari pertanyaan ini: Siapa manusia-super di balik segala fenomena? Apa rencananya?”, putra sulungnya menjawab antusias.

“Itu baiknya kamu belajar filsafat, nana”.

“Tapi banyak filsuf yang atheis papa, Feuerbach bilang manusialah yang menciptakan Tuhan, Marx bilang religiositas hanya opium, Freud bilang agama itu ilusi, Nietzsche bilang Tuhan sudah mati, Sartre bilang manusia itu kerinduan yang sia-sia, juga kerinduan akan Tuhan”.

Markus menatap putra sulungnya dengan sayang. “Ayah tidak punya pengetahuan untuk membantah pemikiran pemikir besar itu, tapi, setelah peristiwa S Club, di jalan Legian itu, di Bali, ayah sudah tidak dapat tidak percaya lagi”.

“Ayah, jangan mengingat trauma itu, nanti darah tinggi ayah kambuh lagi”.

“Waktu itu malam. Jam telah larut. Pukul 23.00, ayah mereparasi sound sistem di S Club. Semuanya mati total. Tidak ada yang salah dengan sistem. Karena alasan profesionalitas, ayah minta kepada manager mengambil beberapa perkakas di mobil. 23.03, ayah di luar S Club, ketika suara shhh duar dumm menggelegar. Kaca dan tembok menghantam ayah. Ayah pikir, ayah akan dihantar ke surga, ke tempat ibumu. Ayah tidak mengerti mengapa ia mengambil waktu dari yang lain dan memberi waktu pada yang lain”.

“Tapi karena itu ayah percaya?”

“Iman itu pilihan yang merumuskan hukumnya sendiri, nana”. Markus menatap putranya yang hening dengan sayang. Pemuda yang sedang dewasa itu telah meletakkan buku filsafatnya. Di dalam hatinya, Markus berdoa: semoga kelak kau menjadi imam, nak.

2018


Yogi D Warut lahir di Ruteng, 3 Agustus 1996. Mahasiswa STFK Ledalero. Tinggal di Ritapiret. Anggota kelompok Teater Tanya Maumere.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here