Lelaki itu memanggul rindu saat kakinya memijak kembali ke kota J. Walaupun kota itu sudah berubah pesonanya. Tidak seperti 10 tahun yang lalu saat ia memutuskan untuk meninggalkan kota itu.

Semua itu ia lakukan atas perintah Omak agar segera bisa mengurusi kebun karet sejak ditinggalkan Apak kembali menghadap ke haribaan-Nya. Ia pun lekas mengiyakan saat mendapatkan pesan singkat yang begitu menohok hatinya itu. Akhirnya ia tidak dapat menolak perintah orang yang sudah mengandung dirinya.

Dengan rasa berat ia pun meninggalkan kota J untuk segera pulang ke kampung halamannya, Indragiri Hulu. Tempat di mana masa kecilnya selalu memanjat pohon di depan sekolah bersama sepupunya yang hanya terpaut setahun saja. Dan sebentar lagi aroma kampung halaman itu akan kembali tercium dicuping hidungnya.

“Iya, Mak! InsyaAllah Abang seminggu lagi langsung balik ke kampung. Tapi jangan sekarang Abang lagi banyak orderan lukisan,” pesannya dengan memakai sebutan Abang, panggilan kesayangannya sejak kecil.

Begitulah pesan singkat lelaki muda berwajah bulat, bermata sipit, berjenggot tipis dan berkacamata minus yang ia sampaikan pada Omak dari ponsel. Alat komunikasi yang ia gunakan selalu untuk berhubungan dengan orang-orang terkasih di kampungnya.

***
Siang ini kakinya sudah menjejak kembali di belantara kota J. Setelah 10 tahun ia berjibaku dengan wasiat mendiang Apak. Dengan membawa rindu pada kota itu ia pun menancapkan kembali impiannya menjadi pelukis.

Namun saat ia menjejakan kakinya kembali dirinya merasa asing. Ia seperti tidak mengenal kota itu. Terlebih saat ia kembali ke sebuah rumah petak yang pernah disewanya. Semua kenangan lampau sudah tidak berbekas lagi di sana. Semua lenyap digerus oleh angkuhnya kemajuan kota itu.

Lagi-lagi semua sudah berubah seiringnya waktu. Itu terlihat ia bukan lagi berdiri di depan rumah petak melainkan di hadapan sebuah apartemen yang berdiri angkuh di hadapannya. Apakah ia benar menuju tempat itu?

Ia pun penasaran dengan apa yang terjadi pada kota J yang baru ditapakinya kembali. Di sana ia melihat ada sebuah toko kelontong di pinggir jalan. Karena rasa penasarannya tinggi dan membuat ia bertanya-tanya. Akhirnya ia menghampiri pemilik toko itu.

“Permisi Bu apakah ibu tahu kenapa rumah di depan toko ini sudah tidak ada lagi ya?” tanyanya.

Ibu paruh baya yang ditanya pun bingung. Pemilik toko itu heran. Karena saat tinggal di tempat itu hanya apartemen saja yang dilihatnya. Tidak ada apa pun yang disebutkan olehnya.

Ya, rumah petak yang ia sewa untuk menaruh kanvas-kanvas lukisannya itu kini keadaannya sudah berubah. Dan hempas sudah untuk menempati tempat itu kembali.

“Ya, sudah Bu terima kasih atas pemberitahuannya!” tukasnya.

Usai itu ia pun diliputi kerisauan. Apakah ia harus kembali ke kampung halamannya lagi. Terus mengurusi pohon karet dan menyadap getah karet tiap pagi menjelang? Atau, menetap dikota J itu sebagai pelukis? Ia pun digamang oleh pilihan.

Usai menanyakan rumah petak yang dulu ia sewa pada pemilik toko kelontong itu tapi hasilnya nihil. Tidak mendapatkan berita yang menggembirakan akhirnya kakinya menjauhi tempat itu. Apalagi sebentar lagi senja mulai memudar. Malam akan segera membentang. Tapi sampai saat ini ia belum mendapatkan juga tempat untuk peristirahatannya.

Sebenarnya ia kembali ke kota J itu semata-mata bukan hanya untuk mengejar impian saja melainkan untuk menghindari rengekan Arum agar segera menikahi dirinya. Padahal di dalam benaknya tidak terbesit sama sekali untuk menikahi perempuan di masa kecilnya itu. Apalagi ia sudah menganggap Arum adalah seperti adiknya sendiri bukan kekasih terlebih untuk diperistri.

Akhirnya karena hal itu tidak ingin menjadi kemelut ia pun meninggalkan kampungnya. Lebih-lebih pihak dari Arum sudah memaksa dirinya untuk menikahinya. Tidak lain Apak dan Omak Arum yang sudah sangat ingin menantukan dirinya. Tapi ia tidak menginginkannya!

Dengan secepat kilat ia pun mencari tempat untuk beristirahat sekaligus untuk bisa kembali melukis. Akhirnya ia mendapatkan rumah minimalis tanpa uang muka sekalipun. Apalagi rumah itu tepat di tepi jalan. Ia pun sangat senang sekali saat mendapatkannya.  Akhirnya ia kembali merangkai segala impiannya yang sempat tertunda.

Dan tidak terasa sebulan lamanya ia sudah menempati tempat itu. Bukan hanya itu saja ia juga sudah menghasilkan banyak lukisan. Sayangnya dalam waktu singkat itu lukisan-lukisan yang ia buat ternyata belum terjamah sama sekali oleh para pembeli. Ia benar-benar tidak ada masukan sama sekali.

Apalagi pembayaran sewa rumah itu sebentar lagi harus ia bayarkan? Tapi dari mana untuk membayarnya? Sedangkan ia tidak memiliki uang sepersen pun. Dan lebih anehnya lagi kenapa lukisan-lukisannya itu tidak ada yang membelinya apalagi yang memesannya. Biasanya seminggu ada 2 sampai 3 lukisan bisa terjual. Itu pun 10 tahun silam. Tapi untuk saat ini selama sebulan itu lukisannya sepi dari pembelinya.

Namun saat sedang termangu bersama lukisan-lukisan yang ia buat tetiba datanglah lelaki paruh baya.  Ia pun terkejut sekaligus senang karena dalam keadaan sepi pembeli masih ada yang datang walaupun orang itu tidak dikenalnya.

“Bagaimana lukisan kau akan laku terjual! Lukisan yang kau hasilkan saja semua menampakkan kerinduan. Mana laku lukisan macam itu. Lebih baik kau belajar lagi melukis,” ucap orang asing itu berkata padanya. “Oya, lukisan itu sudah 10 tahun lalu sudah banyak dilukis di kota ini,” lanjutnya.

Ia pun kembali melihat lukisan-lukisan yang berada di hadapannya itu. Apakah demikian seperti apa yang dikatakan orang itu? Ia kembali menyimak dan memeriksa segala goresan lukisan yang sudah ia turunkan di kanvas.

“Maaf aku pamit! Aku tidak membeli lukisanmu. Aku hanya memberitahukan saja kalau apa yang kau lukis itu tidak akan ada yang tertarik!” pungkas lelaki paruh baya mengatakan sebenarnya lalu meninggalkan dirinya begitu saja.

Belum usai orang asing itu meninggalkan dirinya datanglah pemilik rumah yang ia sewa. Pemilik rumah itu meminta uang sewa sesuai janji. Lagi-lagi ia kebingungan. Mau bayar pakai apa jika ia tidak punya uang?

Ia pun akhirnya bernegosiasi. Ia berharap apa yang ada di benaknya menjadi jalan keluarnya agar pemilik rumah yang ia tempati  itu tidak mengumpat dan mengeluarkan semua isi binatang dari mulutnya.

“Bagaimana kalau aku bayar saja dengan lukisanku?” tawarnya.

Pemilik rumah itu memasang tampak senyum sinis.

“Kau anggap dengan lukisan itu aku bisa kenyang di kota ini. Lagi pula mana laku lukisan macam itu. Kau melukis seperti mengeram rindu yang lampau. Lukisan-lukisanmu itu  semua bernada kerinduan. Lukisan macam itu tidak akan laku di sini. Kalau kau mau contohlah Basuki Abdullah atau Affandi. Jika lukisan macam amatiran ini mana ada yang tertarik,” kata pemilik rumah bak kritikus seniman handal. “Ya, sudahlah aku tidak mau panjang kata. Baiklah aku tunggu tiga hari lagi. Aku akan datang!” lanjutnya kemudian meninggalkan ia bersama lukisan-lukisannya itu.

Seusai itu lelaki yang selalu memakai topi kerucut seperti para pelukis lainnya. Ia kembali mengamati lukisan-lukisan yang dihasilkannya itu. Ternyata saat ia dalami kembali di sana…

Benar! Lukisan-lukisan yang ia goreskan itu masih berbau getah karet dan wajah Arumi, perempuan masa kecilnya yang sangat mencintainya. Tapi ia sia-siakan. Penyesalan kini yang ia rasakan. Mungkinkah semua yang ia alami karena ulah dirinya meninggalkan kampung halaman dan orang-orang terkasih demi ambisinya sebagai pelukis?

Mendadak lukisan-lukisan yang ia goreskan menjerit-jerit memanggil namanya untuk segera kembali ke Indragiri Hulu. Di sana, kampung halamannya itu sedang merindukan dirinya untuk kembali mengurusi kebun karet sepeninggal Apak dan Omak. Seketika itu tetiba tubuhnya menggigil.[]


Kak Ian, penulis Fiksi Anak dan Remaja. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here