Di Dunia Ini Tidak Ada Kenyataan

kata hidup dalam ketidakhidupan kita
membaca dunia yang membaca dirinya
sebagai tempat sembunyi yang palsu.

Kita mengadu pada sederet kalimat paradox
yang memilih jadi buku diari agar mendengar
lebih banyak dari rapuh daun telinga.

Kita mencintai sejumput kata yang kita cari
dari keterasingan dan hal-hal yang tak bisa
kita atasi dari diri sendiri yang telah dicuri.

Kita membagi segala rahasia tanpa ragu
kepada orang asing yang bermulut bising
dengan pigura dalam etalase yang klise.

Kita meninggalkan sunyi ritus kata-kata
dan menanggalkan pesan pada situs tetua
lalu menghamba pada pujian yang maya.

Dunia ini adalah pesta pora tepuk tangan
penuh tipu daya demi rupa palsu yang raya.

Mamuju, 2018

Fatalis

Kita sering bersama memikirkan banyak hal
dan masa depan. Keinginan semua orang,
termasuk kita yang memaksa tumbuh dewasa.
Kita menetap dan menatap hari penuh bahagia
membayangkan di suatu pagi yang panjang,
kita enggan bangun dan betah dalam pagutan.

Tapi masih adakah cahaya terselip di kedua
lengkung lenganmu jika malam tiba dekapan
itu berubah gelap yang meniadakan kita?

Tak ada yang selamat dari ombak oleh bahtera
yang takut berlayar namun siapa nahkoda kuat
mengarungi lautan dengan bahtera yang rapuh
ditebas jarak.

Kita saling silang selisih dalam takwil
perihal bagaimana masa depan ditaswir.

Ke mana arah langkah mimpi ini akan tiba
setelah realitas ajari kita menebahkan dada.
Apa yang harus kita dengar sekarang.
Sanubari dan basa-basi kita menolak
saling memeluk.

Makassar, 2016

Agonia

Pertanyaan itu adalah mata pisau dan
di dalam kepala kita ia mengiris setiap
waktu.

Bahagia tak mampu menjadi jawaban
dari segala tanya dalam kepala. Jarum
jam berdetak dengan perlahan bagai
menusuk dada. Bergelimangan segala
tak cukup menjadi penawar atas getas
hati—sebagai bagian paling butuh
nutrisi sebab logika semakin sangsi.

Masihkah ada yang siap menampung luka
tanpa perlu terlebih dahulu melihat laku?

Dunia tetap berputar dan di dalamnya
kita memilih menjadi liar. Hidup seperti
apa yang kita bangun dari kepedulian
yang pelan-pelan memudar.

Mamuju, 2017


Syafri Arifuddin Masser Lahir 13 juli 1994 di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia Makassar. Puisi-puisinya pernah dimuat di surat kabar Radar Sulawesi Barat, Harian Fajar Makassar, dan media daring di sukusastra.com, nalarpolitik.com, bukuindie.com, litera.co.id, langgampustaka.com, kibul.in, crovia.id, galeribukujakarta.com, takanta.id dan biem.co. Karyanya masuk dalam beberapa antologi, di antaranya: Cerpen dan Puisi pilihan Kibul 2017: Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi Pada Kemaluanya Seumur Hidup (interlude, 2018) dan Antologi Puisi Festival Seni Multatuli 2018: Kepada Toean Dekker (2018). Buku Pertamanya Unjuk Rasa-Kumpulan Sajak-Sajak Politik (IBC, 2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here