Sekolah itu tampaknya begitu menjadi kebanggaan bagi Kahar. Sekolah yang baru tiga triwulan dia tempati, setelah sekian waktu duduk pada bangku SMP Negeri. Entah apa yang membuat dia bangga sekali, tapi yang jelas dia tidak suka jika ada orang yang mengejek sekolahnya. Sekolah Menengah Atas itu tampak sederhana sebetulnya. Namun di sanalah satu-satunya harapan Kahar untuk  melanjutkan usaha menggapai mimpinya.

Kahar selalu ingat pesan bapaknya sehabis bekerja beberapa tahun yang lalu. Bapak Kahar selalu berpesan pada Kahar untuk terus belajar dan belajar. Agar esok mimpinya untuk menjadi seorang sarjana dapat menjadi nyata.

“Nak, kamu kan tahu kondisi ekonomi keluarga kita. Bapakmu ini cuma buruh kasar yang SR saja tidak lulus. Bapak berharap agar kamu tidak lelah untuk belajar agar mimpimu dapat tercapai. Dan jangan lupa untuk selalu menghormati pada guru-gurumu, karena dari merekalah ilmu-ilmu dapat mengalir pada otakmu,” pesan bapak Kahar.

Pesan itu selalu melekat pada tempurung kepala Kahar. Barangkali itu menjadi pesan terindah bapaknya sebelum dia meninggalkan Kahar akibat kecelakaan yang terjadi di pabrik sarung belakang rumah Kahar. Sebenarnya bapak Kahar sudah berhati-hati dan pabrik tersebut telah mendapat sertifikat negeri. Namun takdir memang tak ada yang mengetahui, maut tiba-tiba saja menjemput bapak Kahar secepat kilat tanpa dapat berkompromi.

***
Udara dingin berulangkali melesap dalam pori-pori tubuh Kahar, namun seolah raganya benar-benar tak peduli selain semangat yang kian mengambang di awang-awang tanpa tahu kapan akan dijemput dikala hatinya berkali-kali dilanda kalut.

Kahar merupakan salah satu anak yang cerdas di sekolahnya. Ia seringkali mendapat peringkat terbaik dalam pararel sekolah. Tapi hal itu tidak begitu saja dapat mengusir gundah. Masalah ekonomi yang kian erat mendekap keluarganya membuatnya berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Jangankan untuk melanjutkan mimpinya untuk menjadi sarjana. Keinginannya untuk mengikuti lomba menulis pun seakan pupus begitu saja karena tak ada biaya. Hal ini agaknya menyurutkan sedikit semangat Kahar untuk terus belajar.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, Kahar berusaha menambah pemasukan dengan cara menjadi operator warnet milik tetangganya. Mungkin gajinya tak seberapa untuk pegawai yang mulai bekerja semenjak pulang sekolah. Tapi untuk tambahan biaya, ini sudah dapat dikatakan cukup.

Bekerja di warnet membuat Kahar dengan leluasa menjelajahi dunia lewat internet. Selain itu dia juga bisa belajar banyak tentang komputer. Dia biasa mengutak atik komputer. Terlebih ketika ada masalah dengan komputer pelanggannya.

Kesempatan yang begitu menyenangkan itu tidak disia-siakan Kahar dengan percuma. Di samping menjaga warnet, Kahar juga mulai menuangkan bakatnya dengan  membuat blog. Blog yang sederhana sebenarnya, tetapi konten-konten yang ditawarkan oleh Kahar begitu menarik. Tulisan-tulisannya membuat banyak orang terpesona. Kahar dengan tangan dingin menuliskan buah pikirnya dengan pembawaan yang tidak kaku dan cenderung membuat orang tertawa. Tetapi topik yang dibawakan Kahar tidak pernah meleset untuk masuk ke otak pembacanya. Topik tentang kesadaran generasi muda pada penerapan karakter bangsa  tampaknya  menjadi konten yang memadati daftar isi blog Kahar. Dan ini semua tentang pemikiran Kahar serta pesan-pesan bapaknya.

Kahar menulis di blog tidak hanya digunakan sebagai cara untuk menuangkan bakatnya, tetapi ini juga merupakan salah satu pesan bapak Kahar.

“Nak, sampaikanlah ilmumu walau satu ayat. Dengan demikian, semoga ilmumu dapat barokah dan hidupmu menjadi semakin mudah,” pesan bapak Kahar saat mengajari Kahar membaca Al Quran pertama kali.

Pesan itu tampaknya melekat sekali dalam ingatan Kahar.  Dan dengan itu, cita-cita Kahar menjadi seorang penulis semakin bulat. Ia terus belajar dan belajar tanpa peduli orang berkata apa. Sedangkan urusan ekonomi ia serahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Dia hanya dapat berusaha, dan penentu segala kebijakan adalah takdir Allah Swt.

***
Hari ini mading sekolah sangatlah ramai. Para siswa berdesakan menginginkan mendapat informasi baru yang terdapat pada pamflet yang baru saja ditempelkan oleh Pak Prastiwo. Sedangkkan Kahar, dia memilih mundur. Karena seperti biasanya, kebanyakan pamflet yang ditempelkan di mading sekolah adalah perihal lomba. Ia merasa gelisah, di satu sisi dia ingin sekali mengikuti lomba serta dapat mengharumkan nama sekolahnya. Namun lagi-lagi alasan ekonomi membuat harapan Kahar menjadi hangus.

Setelah seluruh siswa bubar, Kahar memberanikan diri untuk melihat dan membaca isi pamflet yang tertempel di mading.

“Ikutilah lomba menulis esai dengan tema “Membangun Karakter Bangsa di Kalangan Siswa dan Generasi Muda” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikkan. GRATIS!!! Tidak dipungut biaya.”

Membaca pamflet itu membuat hati Kahar senang bukan kepalang. Dia akhirnya dapat mengikuti lomba.. Tanpa pikir panjang, langsung saja Kahar mencari cara untuk mendaftar.

Setelah persyaratan administrasi telah Kahar selesaikan. Kahar meminta bantuan Mardi untuk mengantarnya ke Kantor Dinas Pendidikan untuk mendaftar. Ia meminta Mardi untuk mengantar karena Kahar tidak punya motor sendiri, dan jarak antara Kantor Dinas Pendidikan dan sekolah Kahar begitu jauh. Sebelumnya Mardi yang merupakan teman sebangku Kahar tidak mau. Tetapi hati nuraninya akhirnya berbicara. Ia kasihan pada Kahar dan kagum dengan semangat Kahar tak pernah pudar. Mardi juga memahami bahwa manusia hanyalah makhluk sosial, yang membutuhkan orang lain dalam hidup. Toh, Kahar juga sering membantunya ketika ia tidak memahami suatu pelajaran.

Sepulang sekolah Mardi langsung  mengeluarkan motornya  dari parkiran. Di depan gerbang sekolah Kahar telah menunggu dengan menenteng berkas-berkas administrasi di tangannya. Setelah itu mereka berdua langsung menancap gas menuju  Kantor Dinas Pendidikan. Di sana, mereka diterima dengan baik dan dipersilahkan mengantri untuk mendaftarkan diri.

“Mbak, saya Kahar mau daftar lomba menulis esai.”

“Oh, iya dek. Silahkan antri sebentar ya.”

Tampaknya antrian semakin panjang yang mengindikasikan bahwa peserta lomba akan sangat banyak. Hal ini agak membuat nyali Kahar sedikit ciut. Tetapi pesan bapaknya serta mimpinya telah berputar-putar di otak Kahar, mencari celah untuk keluar

Setelah selesai mendaftar, Kahar diantar oleh Mardi pulang ke rumah. Dan seperti biasa, setelah berganti pakaian Kahar beralih profesi menjadi seorang operator warnet. Dan profesi ini membuat Kahar mudah untuk mengasah bakat menulisnya. Siang ini dia mengunggah konten tentang pentingnya kerja sama..

***
Hari ini, adalah hari terakhir pengumpulan esai. Kahar mengumpulkan esai ke Kantor Dinas Pendidikan dengan diantar oleh Mardi,  kawan setinya. Kahar gugup dan berharap tulisannya dapat menyabet peringkat pertama. Zikir-zikir tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Dia juga telah sholat malam di hari sebelumnya..

Sebenarnya tulisan yang diangkat Kahar sangat sederhana, yaitu tentang mendesaknya ihwal kerja sama. Karena di zaman urban seperti ini siswa milenial semakin mengarah pada generasi urban yang lebih individual. Dan gotong royong punah karena telah lama dikebiri bersama-sama.

***
Pengumuman yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Secara tidak disangka esai Kahar menjadi Juara Pertama. Kahar senang mendengarnya. Tetapi seperti pesan bapak Kahar, bahwa segala sesuatu itu merupakan pemberian Tuhan. Akhirnya Kahar melakkukan sujud syukur dan mengucap Hamdalah dengan penuh kelegaan. Di tenngah keterbatasan ekonomi yang dihadapinya, ia masih dapat mengharumkan almamaternya. Dia tidak mau terlalu berbangga diri dan sombong atas prestasi yang diraihnya. Kahar tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan giat belajar.

Senja mulai larut ketika Kahar membuka emailnya. Tanpa diduga sebelumya, Kahar mendapat email dari salah satu penerbit besar yang menginginkan untuk menerbitkan tulisannya. Editor penerbit tersebut telah kepincut dengan tulisan-tulisan yang ada di blog Kahar. Kahar senang bukan kepalanng, dia langsung pulang dan memeluk emaknya dengan erat. Tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata rasa yang ada di dalam hati Kahar. Tetapi hal itu malah dapat menambah rasa bersyukurnya serta menambah ketakwaan dalam pribadi Kahar.

Dalam saat-saat seperti itu Kahar teringat pada pesan bapaknya.

“Nak, Allah tidak pernah pilih kasih dalam memberi rizqi hambanya. Tetapi Dia lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikannya. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”

Nampaknya pesan inilah yang membuat Kahar selalu tegar dan selalu bersyukur atas segala pemberian-Nya.

***
Waktu bergulir begitu cepat hingga telah tiba saatnya Kahar  harus berpisah dengan kawan dan almamater lamanya. Setelah menempuh berbagai perjuangan yang terjal. Akhirnya Kahar diterima berkuliah di Universitas Gajah Mada dengan beasiswa. Ditambah lagi tawaran menjadi redaktur media massa seakan menanggalkan citra lamanya sebagai seorang operator warnet.

Kahar telah menunjukkan kepada dunia. Bahwa harta tidak menentukan segalanya. Tetapi niat dan kerja keras yang diiringi dengan doa akan membuat mimpi-mimpinya yang belukar terurai satu-satu serta menemui titik temu. Dan tak lupa kerja sama yang Kahar jalin selama  ini membuat hidupnya begitu ringan, Itu juga membuatnya merasa tak punya beban. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?


Ahmad Radhitya Alam, santri PP Mambaul Hisan Kaweron dan siswa SMA Negeri 1 Talun. Bergiat di FLP Blitar, Teater Bara, dan Sanggar Mlasti. Tulisannya berupa esai, puisi, cerpen, serta resensi dimuat di pelbagai antologi bersama dan beberapa media cetak serta elektronik.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here