Tak berbeda denganku, di balik mata senja ada Aku, Ika, Fitri, Aji, Edo, dan Riski. Setiap senja datang, kami melihat kami yang dulu. Bermain, menari, bahkan bernyanyi di dalam dekapan senja. Karena di dalamnya ada rasa kita yang sudah menyatu, dekat, dan keterikatan; batin dan lahir.

***

Hom pim pa alaihum gambreng!

“Kamu yang jaga!” teriak kami bersamaan dengan telunjuk mengarah pada bocah kuncir kuda.

Bocah kuncir kuda berlari mendekati pohon mangga yang tumbuh besar di samping rumah. Kami—sebanyak lima orang—saling tertawa, lalu berlari, hingga bertabrakan satu sama lain karena mencari tempat persembunyian yang aman.

“Aku di sini. Kamu cari tempat lain, Vi,” bisik Edo padaku, “cepetan sebelum hitungan kesepuluh.” lanjutnya lebih pelan.

Masih di hitungan ketujuh, aku mempercepat langkahku sedikit berlari ke taman samping rumah.

Sssttt!

***

Deruman kendaraan bermotor saling bersahutan, jalanan penuh hingga trotoar padat pejalan kaki sampai asongan dan pedagang kaki lima. Klakson tak henti-hentinya bersahutan, paling dekat traffic light hingga paling akhir antrean.

“Emang reoninannya di mana, Ji? Jadi di taman?” tanyaku pada seorang laki-laki yang melangkah tepat di sampingku

“Taman masa kecil, Vi, yang sekarang kanan-kiri, depan-belakang taman adalah gedung bertingkat. Haha.” balas laki-laki bernama Aji dengan tawa serupa ejekan. Aku pun mengikuti tawanya, hanya saja tawa getir dan ingatan-ingatan masa kecil yang terangkum di dalamnya.

Kami terus melangkah. Matahari pun sudah mulai condong ke barat, seperti arah langkah kami. Sebentar lagi warna keoranyean di ujung barat yang selalu dipuja kawula muda—termasuk aku—akan tampak. Semoga seperti tiga belas tahun yang lalu. Aamiin.

“Aji, Viaa!” teriak seorang perempuan setelah mengetahui kehadiran kami. Aku tersenyum lebar melihatnya, bagaimana tidak, ia adalah sahabat masa kecilku, Ika, yang paling dekat hingga ketika remaja datang Ika lah yang paling jauh dariku. Karena jarak memisahkan kita.

“Udah pelukannya, gak enak dilihatin bocah-bocah. Haha.” celetuk Aji lalu tertawa.

Payah! Selalu saja begini, aku tak menyadari jika pelukan tombo kangen[1] ini disaksikan banyak orang dan di taman! Lihatlah! Beberapa anak melihatku lalu tertawa cekikian. Duh! Hardikku melepas pelukan pada Ika. Sedangkan Ika hanya tertawa melihatku.

Kami melangkah mendekat ke kerumunan bernama teman masa kecil, berjabat tangan, saling melempar senyum, dan  bertanya kabar. Mata kami saling bertautan, pancaran cahaya dari kornea terlihat jelas, warna hitam di mata kami menampakkan serta memutarkan nyanyian masa kecil, sedangkan senja sudah menari-nari riang di atas taman bernama kenangan.

***

Brugh!

Seluruh pasang mata yang sedang menikmati sore di taman menatap kami seketika. Kami yang mulanya tertawa terbahak-bahak menjadi diam tak berkutik. Salah satu dari kami ada yang jatuh. Jatuh dari ketinggian tiga puluh senti di atas permukaan tanah taman yang subur.

“Makanya jangan pecicilan, senja mau datang, lho! Haha.” peringat Edo sembari duduk kembali lalu tertawa. Kami pun tanpa wajah berdosa juga ikut-ikutan tertawa. Sedangkan  orang-orang yang sempat memperhatikan tingkah kami berenam pun kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Kami berenam kembali duduk berjajar rapi, di atas kursi panjang dengan ketinggian tiga puluh senti. Orang-orang semakin sibuk dengan kegiatan ada yang berjalan mengikuti anak kecil dari belakang, duduk bersama anak lalu menyuapi, bercanda, hingga diam menatap langit di ufuk barat seperti kami.

Yang dinantikan pun tiba, langit di ufuk barat telah berganti warna—oranye berpadu dengan kuning serta biru. Mata kami tak berhenti memandang, membulat, serta takjub. Benar, seumuran kami, menunggu senja di taman adalah ritual wajib setelah melakukan banyak permaianan.

***

“Sudah berbeda ya tamannya. Dulu banget, di ujung jalan sana adalah rumah Aji, sebelahnya ada rumah Via, lalu di barisan kiri taman ini ada rumahku, Edo, Fitri, dan Riski. Haha. Waktu begitu cepat berlalu, ya, sampai-sampai sekitaran taman ini sudah nggak ada lagi perkampungan, malah gedung-gedung pencakar langit.” ucap Ika yang tiba-tiba angkat bicara. Kami yang tengah duduk memanjang di atas rumput taman pun menatapnya.

“Untung saja para pejabat kota ini masih mau menyisakan taman ini. Iya, seenggaknya bisa dibuat anak-anak bermain, menghirup udara segar di tengah gencar-gencarnya pembangunan dan industri.” sambung Riski yang sedari tadi diam memperhatikan.

Kami saling tatap lalu mengangguk setuju atas ucapan keduanya. Masih sama dengan tiga belas tahun lalu, taman yang dulu terletak di tengah-tengah pemukiman masih diminati orang-orang. Lihatlah, di setiap sudut taman bahkan tempat kosong—seperti yang kami lakukan—penuh dengan pengunjung.

Pandanganku menyapu sekitar. Benar, banyak sekali pengunjung taman ini sehingga taman terasa sesak. Namun, beberapa dari pengunjung memilih diam dan bercengkerama dengan benda canggih dalam genggamannya. Hal ini berbeda sekali dengan masaku, tiga belas tahun lalu di taman ini.

“Gadget merubah segalanya, ya,” ucapku tiba-tiba. Seketika semua pasang mata yang tengah asyik menunggu senja datang menatapku penuh tanya, “iya, lihat saja di sekitar kita saat ini. Hmm, dari yang anak-anak, remaja, hingga dewasa semuanya menggenggam gadget.” lanjutku.

“Yang dekat menjadi jauh dan jauh menjadi dekat, atau sama sekali tak ada kedekatan.” celetuk Fitri menatap kami satu per satu.

***

Warna keoranyean terlihat jelas di mata kami. Mata kami tak berhenti memandang, membulat, dan takjub. Seketika taman menjadi sepi, kami dan orang-orang yang menikmati kehadiran senja terdiam, khidmat menikmati dzikir semesta. Apa mungkin beberapa tahun yang akan datang aku masih merasakan hal yang serupa?

***

Mata kami saling bertautan di ujung barat. Di balik mata senja ada Aku, Ika, Fitri, Aji, Edo, dan Riski. Setiap senja datang, kami melihat kami yang dulu. Bermain, menari, bahkan bernyanyi di dalam dekapan senja. Karena di dalamnya ada rasa kita yang sudah menyatu, dekat, dan keterikatan; batin dan lahir.

Pertanyaan kala itu kembali datang. Apa mungkin beberapa tahun yang akan datang aku masih merasakan hal yang serupa? Nahas, pertanyaan itu kembali bertambah sore ini.

Lalu bagaimana menurutmu lebih menyenangkan mana; lahir, masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa di zaman 1995-an atau di atas tahun 2010-an? Oke, karena aku mengalami fase kanak-kanak, remaja, hingga dewasa diawali dari tahun 1996, maka aku memutuskan; lebih menyenangkan tahunku!


Amaliya Khamdanah, lahir di Demak, 7 Agustus 1998. Belajar Psikologi di UIN Walisongo Semarang. Karyanya tergabung dalam beberapa buku antologi cerpen dan puisi.

[1] Tombo kangen: obat rindu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here