Kepada Matahari

nelayan pergi pagi buta
tepi pantai sepi;
digantung segala harap penuh cinta
suka dan duka semua hany untuk keluarga

ku intip kau setiap hari
dengan sinar warna jingga
malu-malu keluar katakan;
‘Selamat pagi’

mereka bahagia; berada diantara
takdir Tuhan dan gegap tawa

jika pulang ialah keharusan
nelayan melaut menangkap ikan
matahari datang mengabarkan;
kau baik dalam gelombang

keinginan selalu kau bawa kemana-mana
sampai kau lupa sebuah nama
yang selalu kau sebut dalam do`a
sebelum musim melaut Tuhan ambil sementara

lalu apa yang bisa membuatmu bangga?
jika makan saja;
rumput sudah tak memberi;
dan jiwa kering
olehnya; MATAHARI

Muara Gading Mas; Lampung Timur, 2018

Monolog Pesisir

senja hilang dan malam datang
kau pergi dari tepi;
menuju ujung pantai yang sepi

lampu temaram di langit-langit
perahu cadik istirahat sejenak
setelah pulang membawa segala isi

kau rebahkan segala keluh
di sempit-sempit gang muara gading mas
ketika bocah dengan kaki telanjang
membawa ikan hasil tangkapan

jika laut adalah penghidupan
maka aku berdo`a kepada Tuhan
jangan pernah memintaku; Pulang sebelum benar-benar kehilangan

seperti catatan di album kenangan
penuh gambar kusam
dan sejuta harapan

Muara Gading Mas; Lampung Timur, 2018

Bandara dan Pulang

bandara memisahkan kita
sesak di dada yang harus aku bawa pulang
dan rahasia-rahasia Tuhan yang sulit aku pastikan
kita bisa memesan waktu untuk kembali dipertemukan

pesawat mengudara dan rindu
membuatku lupa;
segala ketakutan yang dikutuk jarak
seperti hamparan lautan
yang ku pandangi dalam;
antara pulang dan segalanya bermula

udara menjauhkan bandara dan kita
senyummu yang ku kantongi
dalam peluk terakhir kali, sebelum kakiku melangkah pergi
menuju dinding ketidakwajaranku

apa kabar hari ini?
pertanyaan itu; Sebenarnya antara
keinginan dan kebodohan
untuk memilikimu;

sebelum pintu dan jendela terbuka
menyelami aksara sajakku
menulis segala tentangmu
kau berbalik badan, menjauh dari pandang
dan angin membawaku ke kampung halaman

tak ada siapa-siapa di sini;
selain kesepian
kadang aku beranggapan
lebih mudah mencintai semua orang,
dari pada satu orang dan tak bisa di bawa pulang.

aku pulang

Bandara; Lampung, 2018

Kepada Daun

kepada daun
yang telah memberikan kehidupan
bagi sebagian orang; kau tempatnya
memperpanjang anak cucu menuai harapan

di ketinggian yang tak bisa ku pastikan
dalam udara yang mengulung-gulung
kau diantara;
bukit yang rimbun ditumbuhi segala macam pohon
atau aku lebih suka menyebutnya gunung

sudah tertutup segala luka
katanya; kau tak sengaja
menyentuh inti dari jiwa
sampai hampir membuatku gila

entahlah; siapa yang memulai duluan
sajak-sajak itu tak lagi kau bacakan
dalam gelap malam, menepi di tebing yang miring
dan rumah terakhir sebelum pelaminan.

Lampung, 2018

 


T. Rahman Al Habsyi lahir di Bondowoso, dan sekarang berdomisili di Bali dan merupakan salah satu pengiat literasi di “Perpustakaan Jalanan Lentera Merah Singaraja”. lelaki yang men-dewi-kan ibunya. Suka menulis Cerpen, Esai, Puisi. Juara III lomba karya esai Festival Anti Korupsi 2017 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Denpasar dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), puisinya pernah menjadi kontibutor di CV. Saweupena Publisher, Aqla media, Mazemedia, Writing is Amazing WA Publisher Bukit tinggi-Sumatra Barat, Withim Of The 2nd Asean Poetry Writing Competition Them “Puisi dan Perdamaian”. Tribun Bali. Tulisannya juga bisa dilihat di Tatkala.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here