Seorang Pemurung

Tak ada jalan terbaik bagi pemurung
Berhari-hari ia tatap jendela
Dari arah berbeda-beda

Kamar adalah semesta yang luas
Dan begitu banyak alasan bertahan
Mendekam dalam ruang

Tuhanku, Semesta apakah ini?
Setiap sudutnya terdiri dari dinding
Aku tak mampu menembus  di baliknya

Inikah keterbatasan-Mu?
Akal digerakkan ke alam khayal
Menjangkau setiap hal yang tak pernah ada.

Agustus, 2018

Sepotong Ingatan

Dari jalan-jalan berdebu
Orang-orang berdiri tegak dan kaku
Sebagian sembunyi dari dentuman senjata
Yang menggempur
Jiwanya membara dengan kobaran api juang
Di hatinya tak terima tanah asal di hina

“jangan tangisi kami bila gugur”
Suara mereka sebelum melepaskan diri
Dari kepedihan keluarganya.

Agustus, 2018

Dua Ekor Kursi

Dua ekor kursi di ruang tamu
Jaraknya berdekatan
Sepasang lampu menggantung di atas
Adalah saksi nyata bahwa di atas kursi
Ada sejoli baru saja melepaskan
Erangannya ke udara.

Agustus, 2018

Kepada Angan

Tak kutemukan engkau
Dalam ruang ingatanku yang nyata
Engkau terbang bagai burung
Mengepakkan sayapnya di udara.

Kau bebaskan diriku
Merangkai kata yang kucipta puisi
Dari segala hal di muka semesta.

Tak kutemukan kau
Dalam diriku yang lara
Begitu pun seterusnya, seterusnya.

Agustus, 2018

Malam Selasa

Malam diskusi
Malam tanpa sepi

Seorang penulis mula berfatwa:
Puisi adalah kepekaan  penyair
Itu sendiri

Malam mulai larut
Diskusi masih lanjut
Warna kopi semakin terlihat pekat
Aku takut kepekatan itu
Oh, tidak, aku tak suka kopi
Kopi itu pahit
Pahit adalah dukaku yang berlalu

Di luar
Dingin menghunjam tubuh setiap  pejalan
Udara beku, pohon-pohon berdiri kaku.

Agustus, 2018

Petaka Ramalan Bintang
;Scorpio

Setiap waktu petaka besar
Mengabari diriku lewat dinding kaca halaman
Tak lebih seperti jalan keramat
Pada jembatan Ancol dini hari

Akankah sama jua yang akan datang?
Menunggu ramalan yang membuatku terbayang
Penasaran seperti panas pada musim semi
Kerap kali orang-orang lalu lalang
Mendoakan yang akan datang

Annuqayah, 2016


Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu Pagi, Kabar Madura, Koran  Dinamikanews, Nusantaranews,  Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Buletin kompak, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi :2016), Kelulus (Persi :2017) Dan The First Drop Of Rain, Banjarbaru, 2017. Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here