Ilmu-ilmu  sosial  melukiskan  das  Sein yaitu  kenyataan dalam masyarakat seperti apa adanya. Filsafat sosial dan teologi sosial, dengan caranya masing-masing, mengusulkan  das  Sollen, yaitu  apa  yang  harus  dilakukan  menghadapi kenyataan sosial yang ada. Sedangkan  sedangkan ideologi mengusulkan das Wollen yaitu suatu masyarakat yang diimpikan, dicita-citakan, dan diharapkan, dan alasan untuk impian semacam itu.  Perbedaan antara harapan dalam iman dan harapan dalam ideologi, ialah bahwa  dalam  iman  yang  dibimbing  oleh  agama,  harapan  didasarkan  pada  apa  yang disampaikan Tuhan dalam wahyu, sedangkan dalam ideologi harapan didasarkan pada analisa kekuatan-kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat dan harus dikerahkan oleh ideologi itu.

Dalam  tugas  semacam  itu  teologi  kontekstual  memegang  peranan  yang  penting. Apakah  kemiskinan  harus  diatasi  melalui  pendidikan  tentang  etos  kerja  tiap  orang  agar mereka  bekerja  dengan  lebih  efisien  dan  efektif  dalam  mengumpulkan  modal  untuk mengatasi kemiskinan sebagaimana diajarkan oleh Etik Protestan dalam studi Max Weber tentang awal pertumbuhan kapitalisme.  Atau kemiskinan harus diatasi dengan merombak  struktur-struktur  dalam  masyarakat  yang  mempertahankan  kemiskinan  pada  golongan tertentu agar memberi keleluasaan untuk kemakmuran dan kekayaan pada golongan lain. Teolog Amerika Latin, Gustavo Gutierrez yang sudah dikutip di bagian depan mengatakan bahwa teologi lama mengajarkan bahwa orang harus mengubah manusia agar mengubah dunia,  tetapi  teologi  pembebasan  mengusulkan  agar  orang  harus  mengubah  dunia  agar mengubah manusia.

Dirumuskan secara singkat, pertama, Ilmu-ilmu sosial menyelidiki hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat melalui  berbagai  institusi  dan  struktur  yang  memungkinkan  dan memudahkan hubungan itu dalam ekonomi, kebudayaan dan politik. Ilmu-ilmu  sosial  juga  meneliti  hubungan  manusia  dengan  alam dalam  kaitannya dengan  dua  tujuan,  yaitu  mempertahankan  diri  terhadap  kekuatan  alam,  dan memanfaatkan  alam  untuk  keperluan  hidupnya.  Di  sini  teknologi  dan  ekonomi memainkan peranan yang menentukan. Kedua, Teologi  sistematik  meneliti  berbagai  aspek  relasi  Tuhan  dengan  manusia  melalui wahyu serta relasi manusia dengan Tuhan melalui iman. Ketiga, Teologi  kontekstual  meneliti  sejauh  mana  institusi  dan  struktur  yang  dibangun manusia, baik dalam relasi antar-manusia mau pun dalam relasi manusia dan alam, menjadi fasilitas atau hambatan baginya dalam menyatakan iman kepada Tuhan, dan dalam  mendengarkan  apa  yang  disampaikan  Tuhan  dalam  wahyuNya  kepada manusia.

Uraian panjang terkait relasi epistemologi  Ilmu-Ilmu Sosial Dan Teologi Kontekstual dapat dibaca dalam urain lengkap di bawah ini. Namun sebagai catatan awal, naskah panjang ini sebelumnya merupakan ceramah yang disampaikan pada PembukaanTahun Jubileum Emas 50 tahun STF Ledalero, 15 September 2018 – 15 Sepember 2019 di STF Ledalero-Maumere (pb/kbs)

ILMU-ILMU SOSIAL DAN TEOLO… by on Scribd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here