*) Ezra Tuname

Tulisan ini telat dibuat. Seharusnya, sudah ada sejak awal penerbitan buku Antologi Puisi Kita Adalah Indonesia (2017). Tetapi dalam pembacaan ulang atas buku tersebut, penulis merasa perlu mempertanggungjawabkan aktivitas kuratorial atas buku itu.

Buku Antologi Puisi Kita Adalah Indonesia sudah terbit pada Agustus 2017. Setahun yang lalu. Buku itu terbit atas kerja sama yang baik dari semua penyair hebat. Ada 25 penyair yang menuliskan puisinya di sana. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Setelah membaca, menimbang dan menimbang dengan cermat dan (mencoba) bijak, buku kumpulan puisi bersama dapat disusun secara baik dan diterbitkan.

Bahwa semua puisi yang dihimpun adalah baik adanya. Untaian kata, tata kalimat dan detak makna terasa begitu rapat, padat dan enak dibaca. Presisi emosional dan rasional imbang dalam tiap-tiap bait puisi.

Hanya saja, pilihan mesti jatuh pada puisi-puisi yang terbaik dari sekadar yang baik. Tampak subyektif, memang. Tetapi dengan alas pengetahuan, etika dan estetika, pilihan atas puisi-puisi yang terhimpun setidaknya mendekati takaran yang obyektif. Yang jelas, antara densitas isi puisi dan tema umum antologi puisi menjadi takaran utama.

Pembacaan yang intens melahirkan pilihan yang pas. Di sini, istilah pas didekatkan juga dengan senyawa “dulce et utile”: karya sastra mesti membahagiakan dan membawa manfaat. Juga, supaya pas, pembacaan puisi-puisi yang terhimpun dilakukan secara tuntas. Tuntas berarti disertai proses memangkas kesalahan berbahasa dan mencoba “menebak” roh puisi.

Mengutip A. Teeuw, “membaca bukanlah sesuatu yang tak berisiko. Kita sebagai pembaca hanyut dalam dunia karya seni itu, dalam pusaran hidup dan cinta dan mati”. Kurator membaca untuk menata sebuah karya sastra yang akan tak lekang waktu:buku. “Verba volant scribta manent”, dalam adagium Latin.    

Sebenarnya, istilah “kurator” adalah sesuatu yang khas dunia rupa. Akan tetapi, dalam konteks ini, proses kurasi atas puisi-puisi dimengerti sebagai babak sekaligus seleksi dan pertanggungjawaban kepada ruang penikmat sastra atas aktivitas kurasi.

Atas hasil kurasi itu, buku antologi puisi Kita Adalah Indonesia sudah beredar luas. Setiap pembacanya boleh menikmati detak-dekat makna dan luapan emosi dari setiap puisi. Dalam membaca, yang tertinggal adalah derap-derap kata. Di sini, kita mengamini, mengutip Roland Bartes, “the author is dead”.

Dan kisah di balik “latar” Kita adalah Indonesia adalah situasi ancaman fragmentasi sosial, intoleransi dan disintegrasi bangsa. Semacan ada tubrukan di antara sesama bangsa Indonesia. Hal itu membuat ruang sosial tampak sumuk. Tumpukan mata curiga saling lirik. Rasa persatuan pun terasa retak.

Atas situasi itu, penyair enggan duduk manis; penyair tak mau berpangku tangan; penyair tak bisa bermata ayam. Penyair resah. Ketika persatuan bangsa hilang, ia mandul; ketika cinta lenyap, ia lenyap; ketika manusia habis, ia sendirian.

Melalui puisi, penyair bersuara; melalui kata, ia mengajak. Bukan untuk apa-apa, tetapi demi keutuhan Indonesia. Sejarah keutuhan Indonesia harus tetap ada. Bahasa Indonesia harus abadi. Melalui bahasa itulah penyair hidup; melalui bahasa itulah Indonesia tetap kuat.

Jose Rizal Manua menulis, “Kurindu sebuah Indonesia/Di mana semangat persatuan/Tertanam di kalbu insan”. Penyair sedang mengajak pembaca kembali menanamkan semangat persatuan dalam kalbu. Sehingga setiap wajah manusia lain menjadi wajah sesama yang ingin berangkulan.

Terbaca, “puisi tak pernah ingin berada di luar sejarah” (mengutip penyair Amerika, Adrienne Rich). Puisi selalu menjadi bagian dari “batang tubuh” sejarah bangsa. “Sumpah Pemuda” 28 Oktober 1928 menjadi puisi agung dalam sejarah bangsa Indonesia.

Lebih keras lagi filsuf Josée Martí, “untuk ragu pada sebuah bangsa, tengoklah karya sastranya!” Sastra menjadi menjadi neraca kemajuan dan kebebasan sebuah bangsa. Karena itu, sastrawan (penyair) mesti keluar dari lubang gua kenyamanannya.   

Lalu, “biarlah [puisi] mengalir sampai ke hilir/air mata/simpati/empati/belas kasih/kerinduan/dukungan” (puisi Julia Daniel Kotan) untuk menemukan Indonesia nan jaya. Sebab puisi selalu memanggil penikmatnya untuk “masuk ke tempat yang lebih dalam” (duc in altum) keindonesiaan. Melalui puisi, penyair selalu tak ingin membiarkan duka Indonesia itu abadi.

Tentu karena puisi itu bukan “kerajinan tangan”, melaikan karya nurani yang lahir dari kepekaan rasa nan luhur. Dalam puisi tak ada intrik, tak ada perangkap. Hanya ada jaring-jaring rasa yang mengais kemanusiaan, menangkis naluri kebinatangan.

Itulah “kebenaran” yang tergambar dari buku antologi puisi Kita Adalah Indonesia. Dalam himpunan puisinya, kebenaran itu bukanlah jurus adaequatio intellectus, melainkan sebuah keterungkapan atau Unverborgenheit (mengutip Goenawan Muhamad tentang Heidegger), yang lahir dari kecintaan akan Indonesia. Dan Indonesia menjadi “harga mati” di nurani penyair-penyair kita.

Mungkin saja “kita sempat menyanyikan lagu indonesia raya/sambil bersenandung di punggung dia./dan meneteskan air mata/air cinta/air duka”  (puisi Muhammad de Putra).

Sebab kita adalah Indonesia. Rindu merdeka itu terus berkecamuk. Simak puisi Immaculata Is Susetyaningrum.

Kurindu semua nada semangat kebangsaan
Dalam ingatan dan tindakan

MERDEKA!!!


Ezra Tuname, Kurator Buku Antologi Puisi Indonesia Adalah Kita (2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here