Perempuan Dan Laguku

Perempuan di bawah mata, binasakan hari memburu rindu, gelisah menunggu berdesing pada suara yang merayu sayup-sayup yang berair mengundang kepulanganku membayangi kau perempuanku yang terangguk-angguk memuji laguku dalam genggaman waktu peluh dan gerutu tak lagi merantai kotak musik yang menampung semua laguku dalam sepimu.

Aku memainkan laguku dengan senar gitar yang menjadi kekasihku paling setia pada jemariku, yang berbinar penasaran lantas musik telah membangunkanmu dalam ketiadaan kesadaran hati ketika larik-larik sajak yang menjadi lirikku memanggilmu kembali dengan cara yang tak pernah dirasakan sebelumnya.

Kau duduk diam di dekatku dan aku hanya bisa menyapamu dengan bunyi senar yang nyaris mengenalkanmu pada awal kita berjumpa dulu. Mengapa setiap senyummu dan laguku menarikku semakin dekat ke kesimpulan tuk mencintaimu dalam sepi yang menitipkan rindu meski pada waktu dan tempat yang berbeda kau tak keberatan setia menemaniku.

Bisakah aku tak pernah merasakan yang lalu ingin kurisaukan bahwa sebelum aku jatuh mencintai lagu dalam senar gitarku, cintaku jatuh pertama kepada sepi yang menghadirkanmu dalam langkahku kali ini. Tentang ini aku tak lagi ragu menyebutmu kau perempuanku yang berhasil menenunku dalam cinta yang semestinya.

Ritapiret, 29 September 2018

Kami Adalah Air Matamu-Tanah Airku

Di akhir perjalanan ziarah ini tersirat air matamu adalah tanah airku yang awal mula kita ada dalam duka yang sama di sini di tanah air ini kami masih membentangkan kekelaman yang dulu selalu berkedip. Di matamu seolah yang bening tinggal redup air mata tanah airku tapi ini kali kami tetap terpaku berdiri mengundang hasrat untuk merayu air matamu yang lahir dari tanah airku.

Di tanah airku ini,seribu kaki telah mencelupkan jejak tanda pada bekas darah tentang merah dari tubuh yang menghampiri lukaku menyuratkan riwayat kami pada air matamu adalah kecupan ketika hujanmu tak kunjung reda demikian langkah dan suara kami terus meronta” maju tak gentar membela tetap menerjang tak peduli kaki berpijak mengejar hari.

Langit tak lagi indah berkabut mungkin dunia sepenuhnya tenggelam dalam mimpi nyenyak setelah tidur tetapi air matamu seakan memberiku isyarat derita di tanah air milikku lantas kita dipersatukan setelah menapak setiap tangga ketidakbenaran hidup, menggenggam erat moral yang kini jadi air matamu tanah airku. Ini kah akhir kami? Bukan, tidak juga karena ziarah ini untuk seribu satu kisah tentang darah dan selebihnya hari ini, esok dan selamanya adalah kita  yang berteduh lalu terselip tergelatak bersama di antara.

Ritapiret, 1 Oktober 2018

Perayu Dalam Senja

(I)
Awalnya aku mencintai senja selepas kau tanggalkan dirimu pada keraguan duka yang terselip kaku lantaran hatimu begitu cemas tenggelamkan suka dalam birahi yang mengagumi caramu menciptakan sepi, pikirku kita sedang berteduh di ujung huruf kata yang lama menggantung di bibirmu itu.

(II)
Senja dalam senyi yang tak  lekas berkawan kau taburi secuil senyum dari sekat jiwa, perihal namamu kuberi kau perayu dalam senja. Waktu basah dan sepi tak lagi gerah kau titipkan rahim rindu tukn pertemukan aku pada langkahmu setelah yang kutahu kita lebih memilih jeda sebelum koma memisahkan aku jadi titik dalam rayuanmu.

(III)
Sesat merekah aku kembali melumat namamu yang merayuku entah mencumbu atau berbisik kecil-aku tenggelam dalam sepi yang tak setia lagi menyapa pekak sesak pada puisiku yang ikhlas merindu senja selepas kita tertegun berpasasan dengan bayangan yang merayuku.

Ritapiret, 4 Oktober 2018


Omy Teluma, kelahiran Krokoebang, sementara ini sedang menempuh pendidikan tinggi pada Seminari Tinggi Interdiosesan St.Petrus Ritapiret Maumere Flores NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here