Malam ini, aku melihatmu masih duduk di sana. Di depan fiber penampungan air di kos-kosanmu. Seperti biasa, menunggui air. Jika dilihat dari jauh, apalagi dari keremangan, maka kau tidak bedanya dengan seorang anak kecil yang sedang menadah kencing seorang pesumo. Dan sang pesumo mungkin saat itu sedang alami kencing manis. Itu hanya umpama, teman. Kau jangan tersinggung apalagi marah. Untuk menjelaskan makna hidup, apalagi di tengah kemelaratan, kau harus pandai berumpama, berandai-andai. Agar kau tidak mati dicabik-cabik ketidakpastian.  

“Sudah saya bilang, pulang saja ke kampung, teman. Untuk apa kau hidup di tengah kota yang susahnya mendapatkan air seperti ribetnya menemukan jodoh ini?” 

Entah sudah berapa kali saya katakan hal yang sama padamu. Saya tak ingat. Terlalu banyak. Tapi kau masih bertahan seperti saat kau bertahan sampai dini hari untuk menunggui air. Iya, yang seperti kencing manis pesumo itu.  

“Kasihan sekali kau ini. Hanya karena air, kau suruh saya memberangus impian yang telah saya rancang dengan susah payah ini?”

“Impian taik monyet! Sehari-hari kau hanya menggerutu tentang air seperti monyet jantan kebelet kawin di story WA atau status facebookmu. Itu kau bilang merancang impian?”

Lha, apa gunanya barang bodoh itu kalau bukan untuk bersuara? Setidaknya itu lebih bermartabat ketimbang hanya mau pamer foto sesudah misa hanya supaya orang tahu kalau kau seorang yang taat beragama, kan?”   

“Terserah kau lah. Semoga facebook memberimu air yang berlimpah ruah!”

“Menunggui air  tidak seribet isi kepalamu, teman.”

Sesungguhnya saya masih mau berdebat denganmu perihal menunggu. Tapi apa untungnya bagi saya? Toh, saya sudah temukan jawabanmu: apa susahnya menunggu.  Kau pasti akan berkotbah ngalor ngidul perihal menunggu. Kira-kira begini: hidup adalah tentang menunggu bahkan ketika Tuhan tidak menyediakan permen karet atau segelas kopi di ruang tunggu sekalipun. Menunggu jatah raskin, menunggu babi jantan dan babi betina kawin, menunggu gebetanmu putus dari pacarnya, menunggu  WA balasan dari pacarmu: sudah makan atau belum, menunggu ayahmu meninggal agar kau bisa mengambil uang warisan di koperasi, atau menunggu kematianmu sendiri di masa depan ketika anakmu cuek dengan derita penyakitmu. Mungkin ia juga menunggu kematianmu agar bisa mendapat uang warisan di koperasi. Begitulah sampai kau merasa bahwa sungguh tidak ada yang abadi dari menunggu. Menunggu itu fana, kita abadi.

Cuih! Persetan dengan kotbah menunggumu itu. Sekarang kau dengar  kotbah tandingan saya ini. Biar impas. Biar kau mampus dengan menunggumu.  Kau terlalu egois dengan nasehat salehmu itu. Persis seperti nasihat kaum religius tentang pentingnya hidup sederhana dan laku tapa sementara tidak sedikit dari kalangan mereka sendiri hidup mewah di dalam tembok-tembok biara dan pastoran.  

Sekarang saya mau menggugat konsep menunggumu itu. Beranikah kau berkotbah tentang kesabaran untuk menunggu di hadapan singa yang lapar sementara kau sudah menjanjikan daging untuknya? Mampukah kau berkotbah tentang kesabaran menunggu di hadapan ribuan antrean para CPNS yang sedang menunggu urusan administrasi yang berbelit-belit itu sementara segelintir orang masuk lenggang kangkung hanya karena ada orang dalam? Masih tegakah kau berkotbah tentang menunggu di hadapan masyarakat yang sudah terlalu muak dengan janji-janji tentang jalan, air, bantuan ini, bantuan itu, bla..bla..bla sementara janji-janji itu sekarang sudah beranak-pinak. Ini yang terakhir, beranikah kau berkotbah tentang menunggu di hadapan orang-orang di kota ini yang sudah berbulan-bulan alami kesulitan air? Kotbahmu tentang menunggu saja itu omong kosong, teman. Terlalu naif, terlalu ilusif.

Setelah mendengar kotbah tandingan ini, kau mungkin balik bertanya:

“Lalu bagaimana jalan keluarnya?”

 “Tentu kau tidak perlu berharap terlalu besar dengan menunggu hal-hal konyol semisal janji-janji politik dan kawan-kawannnya.”

“Kalau dalam masalah kesulitan air ini?”

“Sudah saya bilang: jangan menunggu hal yang konyol.”

“Kau terlalu berbelit-belit. Intinya apa?”

“IQmu sudah keterlaluan jongkoknya, teman. Makanya baca. Iya baca, teman. Sekarang mari kita lihat. Kekonyolan yang kau tunggu setiap malam itu merupakan akibat dari konspirasi kejahatan. Mungkin saja di kota kita ini sedang ada konspirasi bisnis air bersih. Pihak pemerintah sengaja membiarkan kesulitan air bersih demi memberikan peluang bisnis kepada para pebisnis. Bisnis air sangat menjanjikan di tengah padang gurun bagi mereka yang empunya mata air.  Itu misalnya, teman. Saya punya hak berandai-andai, kan?”   

“Mau konspirasi, mau kejahatan, itu semua tidak ada hubungannya dengan saya, teman.”

“Kau terlalu egois. Tak beradab. Persis seperti nenek kita itu yang operasi plastik hanya untuk menciptakan hoax tentang penganiayaan. Kau menunggui hal konyol yang sudah diambil keuntungannya oleh orang-orang berduit yang rakus. Dan puji Tuhan, kau mendukungnya dengan kekonyolan yang kau anggap bermartabat.”

“Kau ada ide, agar hal menunggu tidak menjadi sesuatu yang konyol?”

“Ah, biarlah. Tidak ada guna bicara dengan orang-orang oportunis sepertimu. Apa bedanya saya bicara dengan anak yang kalau mau makan saja harus dibayar terlebih dahulu?”

Dan kau harus tahu teman, ketika kau sedang menunggu air seperti kencing manis pesumo itu, saya sedang minum moke sambil memandang bak kosong di depan kosku. Sudah dua botol aqua. Sudah tengah malam. Sendirian. Tapi di dalam kepalaku ribut tiada alang kepalang. Seperti ada dua orang sahabat yang sedang berdebat tentang hal-hal konyol semisal perihal menunggu. Ketika kau sudah terlelap di samping fibermu, ketahuilah saya keluar dengan motor bututku itu. Satu tujuan saja. Ke arah kantor PDAM kota ini. Saya tidak bisa menahan kencing lagi. Saya berdoa semoga tidak kencing manis seperti pesumo pada umpama di atas, tentunya. Dan selanjutnya, kau tebak sendiri. Intinya, demi keadilan lah. Juga sekalian biar dibilang revolusioner, begitu. Sudah paham?


Harris Meo Ligo,  anggota Komunitas KAHE Maumere. Sementara ini menetap di Labuan Bajo Manggarai Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here