Senja di pelataran rumah susun tampak seorang wanita temenung dari balik jendela kamar tingkat tiga, rambutnya yang terderai ikal bercanda mesra dengan lembut sapaan bayu yang sesekali di ibaskan menutupi wajah manisnya. Sesejak terlihat senyum tipis menggoda sepertinya dia telah asyik bercengkrama dengan imajinasinya tak perduli waktu yang terus menemani hingga kokok ayam jantan terdengar

Pagi yang cerah bagi wanita bernama Thia. Walau semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan hari ini dan sudah bersiap diri sejak matahari belum menerangi bumi, wajahnya tetap terlihat manies dan ceria. Segala angan tentang pujaan hatinya menari dalam pikirannya tak perduli apapun yang akan terjadi hanya doa dan harapan penyemangat dia pagi ini. Diayunkan kakinya melangkah menjejaki tiap jalan yang selalu dia lewati kicauan burung, semilir bayu menemani sepanjang perjalanannya.

“besok aku telepon kamu lagi deh ya kalau aku diperbolehkan keluar malam”.

Setelah chatting panjang lewat pesan singkat, siang tadi antara Thia dengan Kais pujaannya. Thia hanya terdiam. Matanya menatap kosong pada jalanan diluar jendela kamar tingkat tiga, sementara tangannya masih memengang erat telepon pintar berwarna gold bermerk samsung S9. Sesekali dia melirik ke telepon tersebut, melihat beberapa aplikasi yang bisa menghiburnya.

Namun kali ini Thia tidak terhibur, bukan warna gold telepon genggamnya yang dia pikirkan, tetapi wajah Kais pujaan hatinya yang kini sering bermain dalam mimpi serta pikirannya. Bukan berbagai aplikasi penuh warna dalam telepon pintarnya yang dia mainkan, tetapi senyum dan kekonyolan Kais yang tiba-tiba memberikan warna dalam hidupnya. Seperti tengah mempermainkan hatinya, sekali lagi dia melirik ke telepon genggamnya, dibuka kembali aplikasi chatting yang berbisikkan pembicaraannya dengan Kais. Pembicaraan panjang yang penuh dengan cerita, mulai dari yang bikin bahagia lalu tertawa bersama sampai cerita tentang kekecewaan cinta yang penuh air mata. Hebat sekali aplikasi pesan singkat di zaman sekarang. Segala emoticons bisa menunjukan rasa hati. Sayang, rasa di hati Kais yang tumbuh tidak bisa ditunjukkannya pada Thia seperti Thia selalu menunjukkan sikap kasih sayangnya kepada Kais. Sejak awal mereka sudah saling mengetahui status mereka masing-masing, itulah sebabnya Kais berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbawa rasa saat harus berhubungan dengan Thia.

Sebenarnya Thia juga tidak terlalu perlu berhubungan dengan Kais. Tidak ada kepentingan di antara mereka untuk harus berhubungan dengan langsung. Pertemuan mereka diawali sebuah event yang mereka ikuti bersama, Thia adalah seorang staf di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, sedangkan Kais adalah seorang penulis hanya mereka berada di antara kota dan provinsi yang berbeda jauh. Nasiblah yang mempertemukan mereka, meski mereka sudah saling mengenal lewat dunia maya. Namun di event inilah mereka bisa saling bertemu langsung dan berkomunikasi meski di awal pertemuan itu semua hanya berjalan seperti biasa-biasa saja tak ada yang istimewa. Bahkan bisa dikatakan mereka tidak saling perduli satu sama lain.

Pekan Baru, kota yang mempertemukan mereka dan berlangsung hingga sekarang, saat itulah Thia merasakan sesuatu. Ya sesuatu saat pertama kali melihat Kais, sesuatu yang sudah lama dia tidak rasakan. Paling tidak sejak dia menikah.

Thia adalah wanita supel yang mudah dekat dan bergaul dengan siapa saja, diusianya yang masih tergolong belia dia dinikahkan oleh ayahnya kepada pemuda yang baru dikenalnya selama tiga bulan, tanpa menolak dan memberi argumen apapun pernikahan itu tetap terjalin hingga sekarang. Banyak perbedaan antara Thia dan suaminya, namun itu bukan berarti mereka harus mengakhiri sebuah hubungan yang sudah sejak awal tercipta. Walau tidak setiap hari mereka bersama, tapi mereka jarang bertengkar apalagi sampai mengucapkan kata perpisahan. Tidak pernah terdengar ada cinta lain di hati Thia, begitupun sebaliknya, semua baik-baik saja walau tidak sepenuhnya sempurna. Thia memang tipe wanita setia, dia dapat manahan dan memendam gejolak rasa yang ada dan dia juga tak pernah terlihat tertarik dengan laki-laki lain selain suaminya. Itulah kunci dari hubungannya kepercayaan yang sudah mereka tanamkan sejak mereka berikrar menjadi suami istri.

Di lebat rambut dikau
Semua ragu tenggelam
Menyisih waktu
Hingga ke pagi
Tak ada shampo, mandi niscaya
Serupa burung parkit Smitt dan Smule
Bersolek menjepit paruh
Kepada lembut bulu-bulu
Dan kepak menyentil angin; meong
Shereken
Angin tajam sekali
Menikam laju daun
Geletar tangkai dada
Juga sarang diri
Sebuah amplop asing di kotak surat
“siapa kamu?’ dikau mengaca
Dikau tak mengerti—belum
Di hitam rambut dikau
Matahari berkabar; kilau-kilau
Walah! Sophie
Memukul bayang-bayang—menekan jari
Telunjuk
“aku adalah dikau”.

Ia sekarang berusia 15 tahun. Seorang Hilde berkata “sejarah terus bergerak”

Dalam surat yang dititipkan ayahnya.

“tetapi jam kita tidak selalu cocok”.

Gema suara lain

Sepercik rasa Thia pada Kais ternyata cukup besar untuk membuatnya tidak bisa tidur. Malam itu pikirannya melayang jauh, mengingat kembali pertemuan mereka. Lirikan mata Kais, senyumnya, kekonyolannya membuatnya bahagia. Waktu sudah menunjukan tiga puluh dua menit lewat dari pukul satu, tapi mata Thia tetap belum bisa menutup. Dibukanya penutup jendela kamar dari lantai tiga rumah susun yang dia tinggali sendiri.

Malam ini cerah sekali, hingga Thia bisa melihat beberapa bintang dari balik jendela kamarnya. Entah darimana dia merasa Kais seperti bintang di atas sana. Memang tidak cukup untuk terangi bumi, tapi cukup indah untuk bahagiakan hati. Paling tidak bahagiakan hati Thia yang selalu merasa sepi sendiri.

Kembali Thia mengambil telepon genggamnya, terbuka kembali chattingan dengan Kais…

”besok aku telepon kamu lagi dech ya, jika diperbolehkan aku keluar”.

Thia menghela napas panjang kebahagian hatinya  seperti siap untuk menghilang. Tapi Thia memutuskan untuk tetap bahagia. Menurutnya kebahagian itu adalah sebab, bukan akibat. Lalu keputusan berikutnya adalah mengirim pesan singkat ke Kais. Memang nekat, karena saat itu sudah pukul dua lewat tengah malam.

“dimana…?”

Lama tak ada jawaban

“dihatimu” sepuluh menit kemudian Kais menjawab singkat.

Thia ragu-ragu untuk meneruskan, akhirnya dia pergi tuk melakukan sholat malam seperti yang biasa dia lakukan selama ini ketika gelisah dan terbelenggu rindu.

Pagi kembali bertandang, tak kudapati sapaan seperti biasanya. Ya sejak malam kemarin tak ada komunikasi yang terjalin seperti biasanya antara Kais dan Thia, entah apa yang terjadi…mungkin mereka masing-masing sibuk dengan aktiftas yang mereka jalani masing-masing.

Main hati karena cinta tak bisa mati tapi bisa pergi kalau tidak dijaga sepenuh hati

Jakarta, 31 Juli 2018, Oknura Audrey


Ade Novi kelahiran jakarta 10 november, mulai menulis sejak kelas 2 SMP secara otodidak, berupa puisi dan cerpen.Karyanya sudah banyak terbit di media dan majalah remaja di Nusantara, sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi di jakarta UNINDRA, guru, anggota DAPUR Sastra Jakarta, pengurus Rumah Seni Asnur Depok, Laskar Srikandi Sastra Indonesia, aktivis di lembaga komunitas perempuan peduli Depok, dan masih banyak aktivitas di bidang organisasi kewanitaan lainnya. Pemenang dari 100 lomba puisi Gurani, peserta MUNSI 1&2 (2016-2017) Perempuan multitalenta ini memiliki berbagai karya, baik yang diterbitkan tunggal maupun secara bersama. Salah satu judul antologi puisi tunggalnya adalah Seikat Rindu Di Musim Kemarau (Teras Budaya: 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here