Dipeluk Kesunyian

ada yang senantiasa bertahan menanti kau
di balik jaring teralis kedai, tepi jalan.
dilambai-lambaikannya mata
menelusuri sepanjang ruas igauan:
tetapi sampai pada batas, tidak juga kau ditemukan.

tentu sudah sejak tadi, dari punggung meja:
kenangan mengepul memeluk udara,
melipatgandakan kecemasan. sementara ia Cuma
seorang diri, melipat sepi demi sepi yang  kerap mampir
tanpa rikuh, menolak pulang kendati usai disuruh.

kemudian, tidakkah kau sekali bertanya, berasal dari apa
tuhan menciptakan hatinya? atau bagaimana cara ia
menyimpan kau bahkan pada letak yang paling dasar?
untuk kali ke sekian, dari balik jaring terali kedai, tepi jalan:
ada yang senantiasa bertahan, sendiri dipeluk kesunyian.

2018

Sebelum Pelukanmu Mengering di Baju

sesekali, aku ingin sejengkal kembali
berjalan mundur menemui masa yang jauh
jauh sebelum kaki kita selangkah tak saling tempuh.

jauh sebelum pelukanmu mengering di baju
baju yang kukenakan di jumpa terakhir, dulu
dulu sewaktu kau masih merasa sepenuhnya milikku.

di dalam aku, kau masih saja tumbuh
menjelma sesuatu yang tiada lagi dapat dijangkau
oleh siapa pun, termasuk oleh masa depanku.

2018

Dulu Adalah Milik Masalalu

aku sengaja melintasi waktu, perlahan menjauh
membelakangimu yang masih saja bersipandang
dengan lelaki yang suatu ketika pernah kau sanjung
kemudian raib begitu saja, meninggalkan kau tanpa jejak.

sangkaku, mungkin kau ingat, dulu:
pada kali pertama bertemu, tatkala angin mendesir
tersipu melumat punggung telingamu
kemudian dengan perlahan diselipkannya bunga
di sela-sela helai rambutmu.

“tetapi bukankah dulu adalah milik masalalu
dan kita tak lagi berhak atas hal itu?”
dengan setengah terpegan, aku bertanya bahkan kepada
diri yang telah kehilangan harga, karena telah terlanjur
jatuh bangun untuk sesuatu yang tak berujung apa-apa.

aku sengaja melintasi waktu, perlahan menjauh
membelakangimu yang tengah menyesal telah bertahan
pada keputusan yang kau lisankan: bersikukuh menolak
seorang aku, demi dia─lelaki yang cuma kerap menghadiahimu luka.

2018

Ketika Jalanmu Menjelma Seluruh Tentangku

ketika jalanmu menjelma seluruh arah
yang menunjuk letakku, sudahkah menjadi pasti
hanya di depan pintu hatiku kau akan berhenti?

semisal untuk bertamu dengan melupakan waktu,
di hadapan gula dan kopi, aku bersumpah
akan membuatmu betah tinggal di hatiku berlama-lama.

selepas hari itu, kuharap tak ada bagimu rumah lain
selain hatiku yang terus ingin
kau diami tanpa perlu lagi yang lain-lain.

2018

Membutakan Diri

hanya jika dengan membutakan diri
aku terselamatkan dari rasa khawatir
akan ketidaksanggupanku
melihat kau bersanding yang lain,

keragu-raguan semacam apa yang layak
kupelihara berlama-lama, selain
selekas mungkin ke dapur menyambut garpu
kemudian mengemas sepasang mataku
yang telah binasa dengan riwayat luka bertusuk-tusuk?

2018

Permohonan

aku telah menjadi orang lain tanpa tanda pengenal.
dan kau orang asing kuharap tak berhasrat mendekat
cukup kita ciptakan jarak sehari-harinya, supaya
cinta tak berkesempatan tumbuh menyusun sejarah.

2018


Daffa Randai, lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Detik ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah seorang inisiator terbentuknya komunitas Pura-Pura Penyair. Puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama seperti, Kepada Hujan di Bulan Purnama (Tonggak Pustaka, 2018) dan Rumah Kita (Tonggak Pustaka, 2018). Beberapa karyanya juga tersiar di surat kabar Sriwijaya Post, Sumatera Ekspress, dan media daring seperti: jejakpublisher.com, tembi.net, kawaca.com, kibul.in, sukusastra.com, tulis.me, lampungmediaonline.com, binisbelta.id, sastrapurnama.com, takanta.id, floressastra.com, simalaba.net, rembukan.com, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here